Capitalism’s Universal Health Coverage was Knocked Down

Capitalism’s Universal Health Coverage was Knocked Down

Tidak satu negarapun yang mampu mewujudkan mimpi equal health for everyone ini. Sehingga menjadi fakta tak terbantahkan, kapitalisme sangat rapuh untuk menjadi basis ideologi yang bisa menjamin aksesibilitas layanan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh rakyat.


Oleh: Ummu Afkar

POJOKOPINI.COM — Pertengahan Maret 2020 kemarin saya sempat menulis berita pembatalan kenaikan iuran BPJS. Menurut guru saya, beritanya sudah agak kadaluarsa. Kabar pembatalan itu rilis awal maret, sementara putusan Mahkamah Agung yang menyatakan itu tertanggal akhir Februari di tahun ini juga.

Arus berita begitu kencang, saya sebagai penulis amatir sesak nafas mengejarnya. Isu yang saya tulis kalau tidak salah tertutup dengan mencuatnya kasus Covid 19 di Indonesia. Jadilah cerita saya yang membahas juga universal health coverage itu, tersimpan manis dalam folder.

Kemarin tulisan itu pesanan dari redaktur sebuah portal berita lokal milik orang terkenal di daerah kami. By the way, bukan karena saya sudah piawai menulis. Tapi kelihatannya Pak Redaktur kasihan sama saya yang pernah mgambek karena tulisan dua seri, tapi yang dimuat hanya bagian satu. Tulisan yang kali ini akan dikirim tidak lagi saya buat dua edisi. Saya padatkan dalam satu judul, khawatir terlewat lagi tulisan saya yang biasanya justru di bagian keduanya itu memuat solusi.

Meskipun pesanan, tapi ternyata tidak serta merta dimuat. Tunggu punya tunggu, sudah hampir seminggu tak kunjung dimuat. Alamat tambah kadaluarsa ini tulisan. Akhirnya saya beranikan diri dengan sesopan mungkin untuk menarik tulisan itu. Dan alhamdulillah Pak Redaktur tidak tersinggung. Singkat cerita, dengan izin Allah akhirnya tulisan saya diterima di portal tulisan khusus opini. Pojok Opini namanya. Dan pimrednya sekarang my teacher. Tada.

Iya, beliau guru menulis saya juga sekarang. Guru saya banyak, soalnya saya butuh banyak belajar. Malu jadi kucing dalam karung terus. Tidak apa pepatahnya kurang nyambung. Saya itu kalau nulis pasti paling malu posting. Akibat. Akibat kebiasaan saya dulu yang paling suka mendeteksi kekurangan tulisan orang. Tapi ini sebenarnya hobi yang bisa disalurkan menjadi editor profesional. Ting. Tidak terima lemparan sepatu kalau cuma sebelah. Hehe.

Kemarin di grup kelas menulis, ada postingan yang very inspiring. Tapi bukan berarti saya tidak bersedih dengan isi beritanya. Dari info worldometer tentang virus corona, hari ini 12/04/2020 Amerika Serikat menduduki peringkat pertama terdampak Covid-19. Tercatat lebih dari 533 ribu kasus dengan angka kematian menyentuh level 20 ribu orang. Disusul Spanyol dan Italia pada posisi dua dan tiga. Perancis, Jerman, China, dan Inggris masuk dalam kategori sepuluh besar negara dengan kasus covid 19 terbanyak. Keseluruhan negara tersebut merupakan anggota senior dan bahkan sebagian besarnya adalah anggota Dewan Keamanan PBB.

Sebelumnya saya membaca berita di CNBC Indonesia 31/04/2020 kalau Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus dalam keterangan tertulis di situs resmi WHO, Senin (30/3/2020) mengungkap bahwa Covid-19 telah menunjukkan betapa rapuhnya sistem dan pelayanan kesehatan di dunia. Sehingga memaksa negara-negara mengambil pilihan yang sulit untuk kebaikan rakyatnya.

Kalau kita lihat data, negara-negara terdampak berat Covid-19 di atas adalah kampiun kapitalisme sekuler. Sekaligus pengusung konsep universal health coverage. Jangkauan layanan kesehatan bagi seluruh rakyat. WHO sendiri yang mengontrol pencapaian program tersebut di setiap negara.

Tapi hari ini terbukti, tidak satu negarapun yang mampu mewujudkan mimpi equal health for everyone ini. Sehingga menjadi fakta tak terbantahkan, kapitalisme sangat rapuh untuk menjadi basis ideologi yang bisa menjamin aksesibilitas layanan kesehatan yang adil dan merata bagi seluruh rakyat.

Sistem jaminan kesehatan ala asuransi konsep kapitalisme ini ditopang oleh sistem ekonomi ribawi yang rapuh. Sehingga wajar jika buahnya adalah kapitalisasi dan privatisasi layanan kesehatan yang menyulitkan tercapainya universal health coverage.

Hanya Islam, ideologi terbaik untuk mengatasi gap pelayanan kesehatan. Sistem yang bersumber dari Sang Pencipta, Allah SWT. Insya Allah mampu mewujudkan universal health coverage. Asalkan tidak diterapkan secara parsial dalam bingkai demokrasi.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *