Capitol Hill: Pesan Kejayaan dan Kehancuran

Lalu apa makna penyerbuan Capitol Hill ini bagi dunia? Tentu saja ini bukan peristiwa politik biasa. Ini adalah peristiwa besar yang kemungkinan di masa depan akan diikuti oleh peristiwa-peristiwa lain yang semakin memperjelas bahwa demokrasi akan segera berakhir.


Oleh: Ummu Maryam (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

POJOKOPINI.COM — Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 140, “Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia…” Tahun 2020 adalah tahun-tahun krisis bagi kampiun demokrasi global Amerika Serikat. Dimulai dengan kasus rasialisme terhadap Floyd yang menjalar dengan cepat keberbagai belahan dunia. Amerika kemudian babak belur oleh Covid 19. Tidak cukup sampai disitu Amerika kemudian dihantam oleh krisis ekonomi hingga resesi. Di penghujung tahun krisis kepemimpinan mulai menampakkan puncaknya hingga meledak di awal tahun 2021.

Tak ada seorangpun menduga hari pengesahan kemenangan presiden terpilih Joe Biden oleh Kongres di Gedung Capitol Hill Washington DC pada Rabu 6/1/2020 akan menjadi skandal yang mengejutkan dunia. Demosntran pro-Donald Trump menerobos penghalang di Gedung Capitol Hill pada saat para anggota Kongress Amerika sedang menggelar sidang paripurna dan menghitung suara elektoral untuk pengesahan Pilpres 2020. Petugas menembakkan gas air mata. Seorang demonstran tertembak di halaman Capitol Hill. Laporan resmi kemudian menyebutkan 4 orang meninggal dunia dan 52 orang ditangkap.

Presiden terpilih Joe Biden mengecap tindakan tersebut sebagai “pemberontakan”. Beredar foto-foto menggelikan dari aksi massa tersebut, misalnya dari dalam gedung Capitol Hill, banyak perusuh yang berpose untuk selfie di ruang debat, menempati kantor Ketua DPR Nancy Pelosi dan membawa sovenir.

Facebook dan Twitter ikut direpotkan oleh aksi tersebut kemudian membatasi dan menghapus postingan Trump dan postingan lainnya yang memicu kekerasan. Mark Zuckerberg menyebutnya sebagai momen gelap dalam sejarah Amerika. Mark berpesan bahwa saat ini di Amerika masuk dalam kategori darurat dan Facebook harus melakukan langkah-langkah yang diperlukan demi keselamatan orang banyak.

Mengutip tempo.co pada 7/1/2021 merilis laporan sejumlah pemimpin negara mengecam kerusuhan di Gedung Capitol Hill. Para pemimpin negara ini menyampaikan kecamannya lewat akun media sosial mereka dan menggambarkan peristiwa tersebut sebagai kejadian yang mengejutkan dan memalukan. Penderitaan Amerika tidak berhenti disitu ketika kemudian media di seluruh dunia membuat headline yang mempermalukan Amerika. Judul-judul tajuk utama juga dibuat membara seperti “Trump membakar Washington”, “Demokrasi di bawah pengepungan”, dan “Kudeta kegilaan”.

Dalam waktu singkat sejumlah pejabat memutuskan untuk mengundurkan diri dari jabatan mereka. Pengunduran ini diajukan oleh menteri-menteri hingga pejabat tinggi kepolisian. Diantara mereka adalah Menteri perhubungan, Utusan Khusus AS untuk Irlandia Utara, Menteri Pendidikan, Kepala Staf Ibu Negara, Deputi Penasihat Keamanan Nasional Gedung Putih, Sekretaris Sosial Gedung Putih beserta Wakil Sekretaris Persnya dan Kepala Kepolisian Capitol.

Negara adidaya itu limbung dan jam malam diberlakukan. Sebuah kondisi yang tidak ada apa-apanya jika dibandingkan rekayasa dan tangan kotor mereka dalam berbagai kerusuhan di seluruh dunia. Jika sebelumnya para pemimpin negara ini duduk manis dalam forum tertutup dan rahasia untuk aksi kotor mereka disuatu negara, kini seluruh dunia menyaksikan kemelut yang menimpa mereka.

Penulis teringat prediksi dari Francis Fukuyama penasihat Amerika Serikat dalam bukunya The End of History and The Last Man yang diterbitkan oleh The National Interest. Fukuyama telah mengemparkan dunia politik internasional di awal tahun 1990-an dengan mendeklarasikan berakhirnya sejarah ideologi bangsa-bangsa. Dia menegaskan secara optimistik bahwa dunia berada dalam penghujung sejarah dimana pemenang pertarungan antar ideologi dari masa ke masa adalah ideologi demokrasi liberal Barat yang didukung oleh sistem kapitalisme. Ia berpendapat bahwa demokrasi liberal mungkin merupakan “titik balik” dari evolusi ideologis umat manusia dan “bentuk final pemerintahan manusia”, sehingga ia bisa disebut sebagai “akhir sejarah” (The End of History).

Namun roda dunia terus berputar, berbagai peristiwa silih berganti hingga pada tahun 2004 National Intelligence Council (NIC) merilis kajian futuristik tentang prediksi perpolitikan global di tahun 2020. NIC dalam laporannya menyebut sebuah kemungkinan yang menyalahi prediksi Fukuyama yaitu kemungkinan munculnya sebuah entitas global baru yang mereka beri nama A New Chaliphate, sebuah sistem kepemimpinan Islam baru, Khilafah.

Prediksi NIC ini bertuah karena ia kredibel dan valid. National Intelligence Council (Dewan Intellijen Nasional) adalah salah satu bagian dari United States Intelligence Council (USIC). USIC ini merupakan gabungan dari berbagai departemen intelijen yang ada di AS, mulai dari FBI, DEA, dan berbagai macam badan intelijen lainnya dari sipil hingga militer. Hasil kajian mereka ini membahas berbagai bidang dari politik, ekonomi, geografis, kesehatan dan lain-lain. Kuat dugaan berangkat dari kajian NIC inilah yang kemudian menjadi pijakan propaganda busuk Amerika menjalankan program kontra terorisme dan deradikalisme yang mereka hujamkan di negara-negara Islam. Tujuannya mudah di tebak yaitu untuk menghalangi dan mencegah kemunculan Islam Politik yang akan mengarah kepada munculnya kekhilafahan yang baru.

Berbagai fakta kemerosotan demokrasi terjadi di berbagai tempat di seluruh dunia. Kapitalisme telah terbukti gagal menangani pandemi dan melindungi manusia. Justru berbagai musibah akibat penerapan sistem itu kini disaksikan dengan jelas oleh manusia. Kerusakan ekosistem, dekadensi moral, keserakahan kapitalis, kemiskinan, peperangan dan kehancuran di berbagai bidang.

Lalu apa makna Penyerbuan Capitol Hill ini bagi dunia? Tentu saja ini bukan peristiwa politik biasa. Ini adalah peristiwa besar yang kemungkinan di masa depan akan diikuti oleh peristiwa-peristiwa lain yang semakin memperjelas bahwa demokrasi akan segera berakhir. Sementara di dalam negara-negara kaum Muslimin para penguasanya semakin dzalim. Kemaksiatan merajelala, rakyat semakin menderita. Orang-orang kritis dan intelektual telah dipaksa meringkuk dalam tahanan yang dingin karena menyuarakan kebenaran. Namun dunia menyaksikan mereka tidak menyerah, mereka tidak takut apalagi berputus asa.

Allah SWT berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 140;
Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu, Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) dan supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.”

Mengapa Allah membiarkan kita kalah sebelum kemudian menganugerahi kemenangan? Allah sendiri menjelaskannya:
Pertama, karena Allah ingin menggilir kemenangan dan kekalahan di antara manusia. Kejayaan dan kehancuran ingin digilir di antara manusia. Itulah tabiat dunia. Di dunia yang fana ini tidak ada perkara yang bersifat langgeng dan abadi. Tidak ada pihak yang terus-menerus menang atau terus-menerus kalah. Semua akan mengalami giliran yang silih berganti. Tanpa kecuali, orang-orang berimanpun mengalami keadaan yang silih berganti di dunia. Bukan karena beriman lalu seseorang atau sekelompok orang harus menang terus. Tanpa pernah mengalami kekalahan bagaimana seseorang atau sekelompok orang akan menghargai dan mensyukuri kemenangan?

Kedua, karena Allah hendak memisahkan dan membedakan orang beriman dengan orang kafir. Dengan adakalanya mengalami kemenangan dan kekalahan, maka akan terlihat siapa orang yang pandai bersyukur saat menang dan siapa yang pandai bersabar kala mengalami kekalahan. Sebaliknya akan terlihat pula siapa orang yang lupa diri kala menang dan siapa yang berputus-asa ketika kalah.

Ketiga, karena melalui pengalaman silih bergantinya kemenangan dan kekalahan Allah hendak memberi peluang orang-orang beriman untuk meraih bentuk kematian yang paling mulia, yaitu mati syahid. Allah berkehendak mencabut nyawa orang-orang beriman sebagai para syuhada yang ketika berpisah ruh dari jasadnya, maka ruh mulia tersebut akan langsung dijemput burung-burung surga.

Kini perjalanan umat manusia sedang menuju perubahan dari satu kepemimpinan kepada kepemimpinan yang lain. Takdir umat ini sudah Allah petakan dalam sunnah Rasulullah SAW;
“Akan datang kepada kalian masa kenabian, dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Kemudian, Allah akan menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa Kekhilafahan ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang kepada kalian, masa raja menggigit (raja yang zalim), dan atas kehendak Allah masa itu akan datang. Lalu, Allah menghapusnya, jika Ia berkehendak menghapusnya. Setelah itu, akan datang masa raja diktator (pemaksa); dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah (Khilafah yang berjalan di atas kenabian). Setelah itu, Beliau diam” (HR. Imam Ahmad).

Oleh karena itu, demokrasi ini pasti runtuh. Penyerbuan Capitol Hill mungkin saat ini bukan lagi pada level penampakan sebuah bisul melainkan akar-akar sel kanker yang akan menghujam semakin dalam ke jantung kapitalisme. Pertanyaannya adalah, setelah kita memahami semua ini, apa yang seharusnya kita lakukan?

Tentu kita harus berlepas diri dari sistem demokrasi kapitalisme yang sekarat ini. Tentu segala potensi yang kita miliki akan kita arahkan untuk menjemput bisyarah Rasulullah SAW yang telah diwasiatkan dalam hadist beliau tentang fase-fase kehidupan umat. Tidaklah segala halangan, cobaan dan himpitan kesulitan yang ditimpakan kepada kita oleh penguasa dzalim menjadikan langkah kita semakin lemah dan harapan semakin pupus. Namun kitalah pemegang bandul perubahan, kitalah yang akan membawa dakwah ini terus menyala dan mentransfer hawa panas ideologi ini ke segala penjuru. Karena kita adalah tungku. Tungku peradaban mulia, Khilafah yang dijanjikan.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *