Cara Islam Mengatasi Pengangguran

Cara Islam Mengatasi Pengangguran

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

WWW.POJOKOPINI.COM — Rektor Unsyiah Prof Dr Ir Samsul Rizal MEng IPU, mengungkapkan setiap tahun ada sekitar satu juta lulusan baru perguruan tinggi dihasilkan oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia. Oleh karena itu, persaingan untuk memperoleh lapangan kerja semakin sulit. Hal ini diperparah dengan kenyataan, bahwa laju pertumbuhan jumlah alumni perguruan tinggi jauh lebih cepat dari pada laju pertumbuhan lapangan pekerjaan.

Maka tidaklah mengherankan, ratusan ribu alumni perguruan tinggi masih tercatat sebagai pengangguran terbuka hingga saat ini. Data terkini dari Badan Pusat Statistik melaporkan, hingga Agustus 2019 yang lalu jumlah pengangguran terbuka di seluruh Indonesia mencapai 7,05 juta orang. Di antara jumlah tersebut, sebanyak 737.000 orang merupakan lulusan perguruan tinggi. (MediaAceh.co)

“Sementara itu, di Aceh jumlah angkatan kerja yang belum memperoleh pekerjaan sebanyak 147 ribu orang. Angka ini menempatkan Aceh pada posisi ke-8 sebagai daerah yang memiliki jumlah pengangguran terbanyak di Indonesia,” ujar Samsul Rizal dihadapan Wisudawan Unsyiah di Gedung AAC Dayan Dawood, Banda Aceh 5 Februari 2020.

Era ini akan bertumpu pada teknologi robotic, internet of thing, serta kecerdasan buatan (artificial intelligence), sehingga ratusan lapangan pekerjaan akan hilang atau minimal berkurang. Secara umum, daya saing Indonesia tidak begitu baik. Laporan Global Competitiveness Index (GCI) 2019 yang baru dirilis oleh World Economic Forum (WEF), memastikan bahwa peringkat daya saing global Indonesia turun ke posisi 50 dari posisi 45 pada tahun lalu. Tak hanya penurunan peringkat, skor daya saing Indonesia juga turun 0,3 poin ke angka 64,6.

Akar Masalah Pengangguran
Penganguran disebabkan oleh 2 faktor utama: faktor individual dan faktor sosial ekonomi.
Pertama: faktor individual. Dalam hal ini penyebab pengangguran bisa disebabkan oleh hal-hal sebagai berikut:
a. Faktor kemalasan individu.
b. Faktor cacat /uzur.
Dalam sistem kapitalis hukum yang diterapkan adalah ‘hukum rimba’. Karena itu, tidak ada tempat bagi mereka yang cacat/uzur untuk mendapatkan pekerjaan yang layak.
c. Faktor rendahnya pendidikan dan keterampilan.

Kedua: faktor sistem sosial dan ekonomi. Faktor ini merupakan penyebab utama meningkatnya pengangguran di Indonesia, di antaranya:
a. Ketimpangan antara penawaran tenaga kerja dan kebutuhan.
b. Kebijakan Pemerintah yang tidak berpihak kepada rakyat.
c. Pengembangan sektor ekonomi non-real.
d. Banyaknya tenaga kerja wanita.

Kebijakan Negara (Khilafah) dalam Mengatasi Pengangguran
Dalam sistem Islam Negara (Khilafah), kepala negara (Khalifah) berkewajiban memberikan pekerjaan kepada mereka yang membutuhkan sebagai realisasi Politik Ekonomi Islam. Rasulullah saw.:
Imam/Khalifah adalah pemelihara urusan rakyat; ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap urusan rakyatnya. (HR al-Bukhari dan Muslim).

Lebih detail, Rasulullah saw. secara praktis senantiasa berupaya memberikan peluang kerja bagi rakyatnya. Suatu ketika Rasulullah memberikan dua dirham kepada seseorang. Kemudian beliau bersabda (yang artinya), “Makanlah dengan satu dirham, dan sisanya, belikanlah kapak, lalu gunakan kapak itu untuk bekerja!”

Mekanisme yang dilakukan oleh Khalifah dalam mengatasi pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan secara garis besar dilakukan dengan dua mekanisme, yaitu: mekanisme individu dan sosial ekonomi.

  1. Mekanisme individu.
    Dalam mekanisme ini Khalifah secara langsung memberikan pemahaman kepada individu, terutama melalui sistem pendidikan, tentang wajibnya bekerja dan kedudukan orang-orang yang bekerja di hadapan Allah Swt. serta memberikan keterampilan dan modal bagi mereka yang membutuhkan. Islam pada dasarnya mewajibkan individu untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan dan kesejahteraan hidup. Banyak nash al-Quran maupun as-Sunnah yang memberikan dorongan kepada individu untuk bekerja. Misalnya, firman Allah Swt.:
    Berjalanlah kalian di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya. (QS al-Mulk [67]: 15).

Imam Ibnu Katsir (Tafsîr al-Qur’ân al-‘Azhîm, IV/478) menyatakan: “Maksudnya, bepergianlah kalian semua ke daerah di bumi manapun yang kalian kehendaki, dan bertebaranlah di berbagai bagiannya untuk melakukan beraneka ragam pekerjaan dan perda-gangan.”

Dalam hadis, Rasulullah saw. berdabda:
Cukuplah seorang Muslim berdosa jika tidak mencurahkan kekuatan menafkahi tanggungannya. (HR Muslim).

Bahkan Rasulullah pernah mencium tangan Saad bin Muadz ra. tatkala beliau melihat bekas kerja pada tangannya, seraya bersabda (yang artinya), “Ini adalah dua tangan yang dicintai Allah Taala.”
Jelas, Islam mewajibkan kepada individu untuk bekerja. Ketika individu tidak bekerja, baik karena malas, cacat, atau tidak memiliki keahlian dan modal untuk bekerja maka Khalifah berkewajiban untuk memaksa individu bekerja serta menyediakan sarana dan prasarananya, termasuk di dalamnya pendidikan. Hal ini pernah dilakukan Khalifah Umar ra. ketika mendengar jawaban orang-orang yang berdiam di masjid pada saat orang-orang sibuk bekerja bahwa mereka sedang bertawakal. Saat itu beliau berkata, “Kalian adalah orang-orang yang malas bekerja, padahal kalian tahu bahwa langit tidak akan menurunkan hujan emas dan perak.” Kemudian Umar ra. mengusir mereka dari masjid dan memberi mereka setakar biji-bijian.

  1. Mekanisme sosial ekonomi.
    Mekanisme ini dilakukan oleh Khalifah melalui sistem dan kebijakan, baik kebijakan di bidang ekonomi maupun bidang sosial yang terkait dengan masalah pengangguran. Dalam bidang ekonomi kebijakan yang dilakukan Khalifah adalah meningkatkan dan mendatangkan investasi yang halal untuk dikembangkan di sektor real baik di bidang pertanian dan kehutanan, kelautan, dan tambang maupun meningkatkan volume perdagangan.
    Di sektor pertanian, di samping intensifikasi juga dilakukan ekstensifikasi, yaitu menambah luas area yang akan ditanami dan diserahkan kepada rakyat. Karena itu, para petani yang tidak memiliki lahan atau modal dapat mengerjakan lahan yang diberi oleh pemerintah. Sebaliknya, pemerintah dapat mengambil tanah yang telah ditelantarkan selama tiga tahun oleh pemiliknya, seperti yang telah dilakukan oleh Rasulullah saw. ketika berada di Madinah.

Itulah mekanisme Islam yang insya Allah bisa mengatasi pengangguran dan menciptakan lapangan pekerjaan secara adil. Ini hanya akan terwujud jika sistem Islam diterapkan secara menyeluruh dalam bingkai Khilafah Islamiyah. Wallâhu a‘lam. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *