Cerdas di Tengah Pandemi

Cerdas di Tengah Pandemi

Media jika memahami ruh dari jurnalisme modern seharusnya mengedepankan pemberitaan yang sederhana dan mudah dicerna oleh khalayak. Tantangannya adalah bagaimana agar media mampu menyederhanakan bahasa, membuat khalayak memahami apa yang rumit, bukan membuatnya bingung.


Oleh: Cut Putri Cory, S.Sos (Koordinator Intellectual Muslimah Squad)

POJOKOPINI.COM — Begitu banyak informasi yang beredar terkait pandemi COVID-19, tak ada satupun media yang luput memberitakannya. Semua media menawarkan perspektif dari banyak aspek, mulai dari awal kemunculannya, ciri-cirinya, publikasi hasil penelitian, jumlah korban di berbagai negara, semuanya. Namun begitu berseraknya informasi tersedia, agaknya masyarakat juga harus berhati-hati dan mampu menyaring mana yang hoax dan benar.

Pun pemberitaan yang bertolakbelakang justru membingungkan, ditambahkan judul yang tendensius dan subjektif tak mencerminkan isi. Padahal setiap berita yang ditelurkan media memiliki efek yang tak bisa dianggap enteng.

Media memiliki kemampuan menghitamkan yang putih, dan sebaliknya melalui framing, konstruksi realitas, dan agenda setting.Media memilih menonjolkan sesuatu dan menenggelamkan yang lainnya demi menciptakan persepsi tertentu.

Seperti berita WHO memperingatkan para petugas medis tentang virus corona yang ‘katanya’ bisa menular dari udara (Merdeka.com, 18/3/2020). Namun sungguh membingungkan saat dalam pemberitaan lain hal itu dibantah tegas juga oleh organisasi yang sama, WHO (Liputan6.com, 30/3/2020).

Penulis membayangkan kebiasaan masyarakat yang hanya puas setelah membaca judul dan melihat ilustrasi, atau paling jauh mungkin lead yang tendensius, tanpa menelaah isi. Kedua berita di atas diberi judul yang kontradiktif, namun setelah membaca dengan lengkap, ditambah dengan penelaahan lanjut terkait berita yang sama setiap hari sehingga memahami perubahannya, barulah akan didapat kesimpulan sempurna dari apa yang diberitakan.

Di satu berita, judulnya “WHO Tegaskan Corona COVID-19 Tak Menular Lewat Udara, Ini Penjelasannya.” Namun di berita lainnya pada media yang berbeda, “WHO Peringatkan Virus Corona bisa Menular Lewat Udara.” Bagaimana? Anda bingung?

Media jika memahami ruh dari jurnalisme modern seharusnya mengedepankan pemberitaan yang sederhana dan mudah dicerna oleh khalayak. Tantangannya adalah bagaimana agar media mampu menyederhanakan bahasa, membuat khalayak memahami apa yang rumit, bukan membuatnya bingung.

Judul adalah bagian dari framing, bahkan Pan dan Kosicki memasukkannya menjadi satu unsur yang wajib diteliti untuk menemukan apa yang tersembunyi di balik berita. Hal ini membuat judul begitu penting untuk mengarahkan persepsi pembaca, dan kita menemukan di kedua berita itu sebuah kontradiksi yang luar biasa efeknya di masyarakat.

Demi Apa?

Media merupakan bagian dari ekosistem membangun masa depan bangsa,” kata Mohammad Nuh, Ketua Dewan Pers. Hal ini agaknya perlu diingat kembali oleh seluruh insan media. Pemberitaan berimbang dan bisa dipertanggungjawabkan, termasuk pemilihan judul clickbait yang tak tendensius dan bombastis memanfaatkan kebiasaan malas membaca.

Pun pemberitaan media yang memunculkan ketakutan tak beralasan sebenarnya bukan tanpa tunjuan, hal ini justru semakin menunjukkan kapabilitas dan ideologi media.

Media berkelas enggan hiperbola, dia tak perlu mencari perhatian dengan hal memalukan karena memang sudah memiliki sahabat setia untuk semua karyanya. Itulah kenapa media dalam pemberitaan selayaknya tak perlu takut kehilangan pembaca, merekalah tempat pulang rakyat untuk menelaah kondisi bangsa.

Cerdas Melihat Berita

Jangan cuma puas sekadar membaca judul. Itu satu hal yang paling penting untuk ditekan. Baca lead (teras berita) sampai titik terujungnya. Pahami makna dan terus ikuti berita terkait, sampai lengkap puzzle terkumpul, baru kemudian menarik kesimpulan.

Tergesa-gesa menyebarkan berita setelah hanya puas dengan membaca judul dan melihat ilustrasi berita adalah perbuatan tak bertanggungjawab yang memperpanjang kebodohan. Itu kemudian diikuti, terus diikuti, dan terus tersebar. Padahal, misalnya, berita itu sesungguhnya masih membutuhkan penelaahan.

Selain itu, Islam perintahkan setiap Muslim untuk berhati-hati menyebarkan berita. Kita diminta untuk bersikap teliti jangan sampai menimpakan bencana kepada orang lain karena memperpanjang kebodohan.

Wahai orang- orang yang beriman, jika ada seorang faasiq datang kepada kalian dengan membawa suatu berita penting, maka tabayyunlah (telitilah dulu), agar jangan sampai kalian menimpakan suatu bahaya pada suatu kaum atas dasar kebodohan, kemudian akhirnya kalian menjadi menyesal atas perlakuan kalian.” (Al-Hujur√Ęt/49:6)[]

Referensi diakses 30 Maret 2020:
1. https://www.liputan6.com/global/read/4214488/who-tegaskan-corona-covid-19-tak-menular-lewat-udara-ini-penjelasannya
2. https://www.merdeka.com/dunia/who-peringatkan-virus-corona-bisa-menular-lewat-udara.html

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *