Compang Camping Demokrasi

Nyatanya demokrasi menjadi mantra yang tak lagi ajaib. Tapi racun yang menjalar, menimbulkan kengerian pada dan rasa sesak teramat sangat di dada umat.


Oleh: Ana Frasipa

POJOKOPINI.COM — Peristiwa kerusuhan dan penyerbuan Gedung Capitol oleh pendukung Trump, sebagai pihak yang kalah suara dalam kontestasi pemilu Amerika 2020, tentu akan menjadi sebuah peristiwa sejarah Amerika yang tak terlupakan baik oleh Amerika sendiri bahkan dunia. Kerusuhan ini menjadi sorotan dunia, bahkan berbagai media di Eropa menampilkan headline yang berfokus pada “kekacauan” dan “ledekan” kepada Trump. Penyerbuan dan kerusuhan ini jadi yang pertama sejak tahun Agustus 1814 saat gedung pemerintahan ini diserbu dan dibakar tentara Inggris.

Banyak tokoh dunia yang mengecam peristiwa ini, suatu hal yang dianggap sebuah kemunduran dalam diskursus demokerasi, sesuatu yang tak layak terjadi di sebuah negara yang selama ini getol mengajari, menyebarkan bahkan memaksakan demokrasi ke seluruh penjuru dunia. Bagaimana tidak, Amerika dengan demokrasinya adalah biang kekacauan akan hancurnya negara-negara di kawasan Timur Tengah, mereka memorakporandakan negara lain contohnya Irak atas nama demokerasi. Dan kini kekacauan yang mereka buat seolah kembali ke tangan mereka sendiri. Seperti melempar bumerang, keburukan yang mereka sebabkan kembali ke dalam rumah mereka sendiri.

Amerika yang dikenal sebagai kampiun demokerasi, negara terkuat dan paling menonjol dalam pelaksanaan demokrasi. Namun realitasnya mereka sendirilah yang menciderai demokrasi. Dari peristiwa ini demokrasi sesungguhnya telah menunjukkan wajah aslinya, penanganan pandemi Corona, problem rasialisme dan peristiwa Capitol Hill lebih dari cukup membuka topeng, sisi lain dari bobroknya demokrasi.

Selama ini Amerika dianggap sebagai blueprint dan bahan baku demokrasi yang ideal. Masyarakatnya yang terdidik, tingkat pertumbuhan ekonomi yang tinggi, hanya ada dua partai politik Republik dan Demokrat, sistem demokerasi yang dianggap mapan, faktanya remuk juga lalu bagaimana dengan negara-negara follower demokerasi? Gelagat ke arah nampaknya semakin terlihat. Pembubaran ormas terlepas dari mereka benar atau salah dilakukan tanpa due process of law (proses peradilan), aroma pelanggaraan HAM atas dugaan extra judicial killing terhadap enam warga sipil adalah salah satu tanda potret buram demokrasi. Nyatanya demokrasi menjadi mantra yang tak lagi ajaib. Tapi racun yang menjalar, menimbulkan kengerian pada dan rasa sesak teramat sangat di dada umat.

Peristiwa Capitol Hill semestinya semakin bisa membuka mata dunia terutama kaum muslimin bahwa pada faktanya demokrasi adalah sesuatu yang rapuh. Bukan tidak mungkin peristiwa penyerbuan Capitol Hill dijadikan alasan oleh pemerintahan Amerika di bawah kepemimpinan Presiden terpilih Biden, untuk mempersiapkan aparatur negara yang tidak lagi terbuka pada ruang protes atau bahkan bergerak menuju otoritarianisme. Dan jika hal itu terjadi, demokrasi tak lagi berjalan sesuai relnya, dimana kebebasan berpendapat sebagai salah satu jargon adalah nyatanya ilusi belaka.

Maka dengan demikian, perlahan namun pasti, demokrasi sejatinya dalam keadaan sekarat. Persis seperti yang disampaikan oleh Steven Levitsky dalam Bukunya “How Democracies Dies” bahwa “Paradoks tragis dalam rute elektoral menuju pemerintahan otoritarian adalah bahwa pembunuh demokrasi meenggunakan institusi demokrasi secara bertahap, halus dan bahkan legal untuk membunuh demokerasi itu sendiri”.

Secara teoretis, demokrasi berjalan di atas kesepakatan atau konsensus-konsensus penguasa dan rakyatnya untuk keberlangsungan sebuah negara. Meski pada faktanya konsensus seringkali tidak sesuai dengan aspirasi rakyat. Sangat rentan terjadi pelanggaran baik dari pihak rakyat maupun penguasa. Ini jelas preseden buruk bagi demokrasi. Demokrasi hancur bukan oleh mereka yang sebut ekstremisme, radikalisme atau terorisme yang tendensius pada Islam. Yang terjadi adalah pembusukan dari dalam, konflik dan intrik politik yang tak berkesudahan di antara mereka sendiri.

Namun hal fundamental yang menjadi tolak ukur tertolaknya demokerasi adalah asas sekularisme yang mendasarinya dan Ideologi Kapitalisme yang memayunginya. Dalam demokrasi, aturan agama tidak dijadikan rujukan dalam membuat produk hukum dan perundangan. Alhasil hukum bisa dibuat suka-suka, pertanggungjawaban penguasa terhadap rakyatpun bisa direkayasa. Tak ada tanggung jawab moral secara vertikal kepada Al Khalik. Inilah kenapa demokerasi takkan sungguh-sungguh memberi ruang pada keadilan. Pemimpin boleh jadi hanya boneka dari dari para kapitalis yang membawa mereka ke tampuk tahta.

Tak diragukan lagi, sebagai muslim yang meyakini akan kebangkitan Islam, hal tersebut bisa jadi penanda awal lonceng kematian demokrasi mulai berdentang. Bukan tidak mungkin negara Paman Sam akan segera menyusul keruntuhan sosialisme komunisme Uni Soviet yang hancur tahun 1991. Sebuah, ideologi tanpa eksistensi negara sebagai pengembannya adalah sesuatu yang timpang. Jika diibaratkan kaum muslimin saat ini sedang berjalan di terowongan yang gelap, maka sejatinya ujung terowongan semakin terlihat, pijar cahaya kebangkitan Islam dengan syariatnya mulai menggeliat. Kematian demokerasi hanya masalah waktu, ia pasti berakhir dalam nisan sejarah, terkubur jaman. Dan manusia siap menyambut era baru. Khilafah siap disambut semesta dengan penuh sukacita.

Benarlah Firman Allah..
Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin?” (QS. Al-Maidah : 50).

Lalu, apa pantas seorang muslimin keukeuh memercayai demokerasi yang jelas-jelas sering menyakiti?[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *