Contoh Hidup

Suasana pergerakan yang kalornya tak pernah redup inilah yang menjadi tugas kita untuk senantiasa mengondisikannya. Karena menciptakan iklim taat tentu lebih penting dari anjuran atau perintah kosong tanpa teladan. Mereka butuhkan itu, generasi kita membutuhkan contoh hidup tentang kedisiplinan, keuletan, ketsiqahan dalam komitmen, pun mereka perlu contoh nyata dalam ketaatan kepada syariat Allah.


Oleh: Cut Putri Cory (Ibu Pembelajar)

POJOKOPINI.COM — Kita diminta untuk takut kepada Allah dari meninggalkan generasi yang lemah di belakang kita. Lemah akal dan fisiknya, dan tak kalah penting adalah lemah iman dan ilmunya. Memang benar, kelemahan mendekati kebodohan, pun segala sesuatu yang hari ini kita sebut sebagai bekal taat itu membutuhkan kekuatan.

Taat butuh energi, energi ini yang menggerakkan. Jadi sebenarnya apa faktor pendorong terwujudnya pergerakan? Ada generasi yang di-drive hawa nafsu, sebagaimana ada pula generasi yang badan dan akalnya tergerak karena ruh (idrak silla Billah yaitu kesadarannya akan hubungannya dengan Allah sebagai hamba).

Generasi yang dikuasai dan dikendalikan hawa nafsu adalah selemah-lemah generasi. Merekalah yang terpapar dan terseret arus deras iklim sekularisme yang dicipta sistem kapitalisme. Sistem ini menggali jurang terjal antara Islam dan generasi, sehingga kebanggaan terhadap Islam terkikis, dan nilai-nilai Islam semakin jauh dari kehidupan generasi. Apa yang bisa kita harapkan dari generasi berderet titel tapi tak mengerti sesederhana cara menutup aurat? Apa yang bisa dibanggakan dari generasi ilmuwan tapi tak bertuhan dalam kehidupan? Musibah, ini musibah kita. Na’udzubillah.

Generasi tangguh yang gerak badan, akal, dan perasaannya bermuara pada Islam, ini yang luar biasa. Ini prestasi besar kita sebagai orang tua. Dia menjadikan Islam sebagai stardardisasi perbuatan dan keputusan. Meninggalkan apa yang diminta oleh Allah untuk dijauhi, dan mengejar kewajiban dari Allah untuk ditunaikan dengan penuh semangat dan dahaga yang takkan menemui lega kecuali telah digapainya rida Rabb-nya. Prestasi, inilah visi pendidikan langit yang kita rindukan.

Itulah kenapa penting sekali untuk senantiasa mewujudkan suasana yang mampu menjadi stimulus gerak taat. Suasana pergerakan yang kalornya tak pernah redup inilah yang menjadi tugas kita untuk senantiasa mengondisikannya. Karena menciptakan iklim taat tentu lebih penting dari anjuran atau perintah kosong tanpa teladan. Mereka butuhkan itu, generasi kita membutuhkan contoh hidup tentang kedisiplinan, keuletan, ketsiqahan dalam komitmen, pun mereka perlu contoh nyata dalam ketaatan kepada syariat Allah.

وَلْيَخْشَ الَّذِيْنَ لَوْ تَرَكُوْا مِنْ خَلْفِهِمْ ذُرِّيَّةً ضِعٰفًا خَافُوْا عَلَيْهِمْۖ فَلْيَتَّقُوا اللّٰهَ وَلْيَقُوْلُوْا قَوْلًا سَدِيْدًا

Dan hendaklah takut (kepada Allah) orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan)nya. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah, dan hendaklah mereka berbicara dengan tutur kata yang benar. (QS An Nisa’:9)

Sangat mudah bagi generasi untuk menjadi literat saat dia hidup terdidik oleh kedua orang tua yang literat. Tak sulit baginya menjangkau takwa, jika yang menjadi tutornya adalah kedua orangtuanya langsung. Matanya menyaksikan aktvitas takwa yang dilakukan orang tua, telinganya mendengarkan kebaikan yang banyak, dia pun turut merasakan atmosfer haus ilmu dari kedua orang tua yang selalu berdahaga atas ilmu. Begitu pun aqidah, adab, dan syariat, generasi kita butuh contoh hidup.

Demikian pula mereka butuh contoh manifestasi “takut” kepada Allah dalam kehidupannya, dia menyaksikan sendiri bagaimana indahnya rasa takut kepada Rabb yang dinampakkan oleh kedua orang tuanya. Meskipun ada kita kekurangan, ada salah lisan dan perbuatan kita, tapi rasa takut yang indah itu kemudian membawa kita kembali kepada taubat. Duduk di atas sajadah dan mengakui bahwa kita kembali. Maka inilah salah satu kenikmatan berproses bersama generasi. Biar dia menyaksikan kedua orang tuanya pun manusia yang mengaku dan menundukkan kepala di hadapan Allah, memohon ampunan dan mengharap rida.

Semoga merekalah generasi kita, yang lahir dari rahim para ibu yang takut kepada Allah, dan dengan didikan kelembutan yang bijak Sang Ayah yang hati dan pikirannya terpaut kepada Allah. Aamiin.[]

DISCLAIMER:Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *