Corona Dan Nadzar Perang

Corona Dan Nadzar Perang

Oleh : Dr. Muhammad Malkawi

WWW.POJOKOPINI.COM — Belum lama ini Trump menuduh China telah menyebarkan virus Corona. Trump pun menyebutnya dengan nama Virus China.

Trump menuduh Presiden China menyembunyikan informasi rahasia, yang sangat penting, mengenai ukuran virus dan penyebarannya di China.

Sebaliknya, China menuduh AS-lah yang telah memproduksi virus ini dan menyebarkannya di China. Begitu China mengumumkan virus ini, angka korbannya mulai meningkat dengan fantastis di Eropa. Tak lama kemudian AS. Bahkan di Italia telah mengalami peningkatan jumlah melebihi China.

Sejak diumumkan meluasnya wabah ini di AS dan Eropa, suasana perang militer mulai tampak di AS, Eropa dan Timteng.

Sejumlah media massa dan media sosial mulai mempublikasikan gambar tank-tank di dalam kota dan sejumlah jalan di kota-kota tersebut.

NATO mengirim pasukan spesial tambahan ke Jerman untuk melindungi Jerman, sebagaimana yang mereka klaim, dari penyebaran wabah. Seolah virus Corona ini seperti pengangkut kapal perang, atau rudal balistik. Dalam kesempatan ini, para pemimpin yang disebut Dunia Liberal, Dunia Kapitalis Imperilis, merespons dampak penyebaran Corona ini gila. PM Inggris memperingatkan rakyat Inggris, agar bersiap kehilangan kekasih mereka. Mengingatkan mereka dengan Perang Dunia II. Konselir Jerman mengatakan, bahwa wabah ini dan dampaknya telah menimpa 70% penduduk dunia. PM Italia mengatakan, kami terpaksa mengorbankan Italia, untuk mempertahankan kehidupan rakyat Italia. Trump mengatakan, kami boleh jadi akan mengumumkan hukum perang konvensional di Amerika. Washington Post bahkan telah membocorkan rencana evakuasi Trump dan para politikus senior di tempat aman, dan menyerahkan kekuasaan kepada militer.

Apakah semuanya ini karena alasan penyakit, atau virus? Bukankah dunia telah menyaksikan bebepara kali kasus seperti ini, antara lain, AIDS, Ebola, SARS, Flu Burung, dan Flu Babi? Sebelumnya ada Malaria, dan krisis-krisis yang lain.

Lalu, untuk apa semua persiapan perang ini? Apa hubungan Corona dengan Tatanan Dunia yang banyak dibicarakan saat ini? Apa yang sesungguhnya sedang terjadi?

Strategi dan aktivitas strategis memang tidak bisa dinalar oleh pengamat politik dan pemikir dengan mudah. Tetapi mungkin bisa dibongkar, dengan mengumpulkan sejumlah benang merah yang berserakan, agar menjadi satu rangkaian pemikiran politik. Kami berusaha untuk mengumpulkan sejumlah benang merah, agar kita bisa sampai pada satu gambaran, yang boleh jadi bisa membongkar apa yang diinginkan oleh para penguasa dunia saat ini. Serta apa yang harus dipersiapkan oleh para pengemban pemikiran, pandangan dan ideologi untuk menghadapinya, serta apa yang secara umum akan mereka hadapi?

Pertama, di Amerika, sejak pemerintahan Trump berkuasa, telah menampakkan orientasi yang kuat, melihat China sebagai pesaing pertama, lalu menjadi musuh nomer satu Amerika. Trump menyatakan lebih dari sekali bahwa Presiden China adalah musuh Amerika, dan China adalah musuh terbesar AS dalam Perang Dagang dan Ekonomi.

Kedua, Amerika telah memasuki perang dagang secara nyata, sejak AS mulai memaksakan pajak cukai dan bunganya terhadap ekspor China ke AS.

Ketiga, Amerika menganggap, China terus menekan nilai mata uangnya terhadap dolar, sebagai tindakan permusuhan. Pemerintah AS berusaha untuk menekan China, melalui keanggotannya di WTO untuk menekan nilai mata uangnya, agar bisa mengubah neraca perdagangan China-Amerika.

Keempat, Amerika dalam waktu yang lama ingin melanjutkan tekanan militer dan politik terhadap China, melalui krisis senjata nuklir Korea Utara, dengan anggapan bahwa China merupakan sekutu terbesar Korea Utara.

Kelima, Amerika menyatakan kecemasannya yang luar biasa terhadap masuknya China dalam Perang Biologis dengan menggunakan virus, sejak China mengumumkan pembangunan laboratorium pertama dengan keamanan maksimum di Wuhan tahun 2018. Amerika telah menangap sejumlah ilmuan berkebangsaan Amerika dan China, dengan tuduhan mencuri rahasia yang terkait dengan pengembangan alat perang biologis.

Keenam, suasan global yang berhasil dipaksakan oleh para pemerintah banyak negara, yang mayoritas tunduk kepada AS, secara politik, suasana ini di antaranya menebarkan aroma perang, dari segi penyebaran tentara di kota, di pintu, dan jalan-jalan, diikuti dengan pengiriman tentara kehormatan di Jerman oleh NATO, sesuatu yang menimbulkan suasana perang. Khususnya ketika dikaitkan dengan larangan melakukan pergerakan ke sejumlah negara di dunia.

Ketujuh, pembahasan yang berulang kali tentang runtuhnya keuangan akhirnya terbukti, juga tentang depresi besar, yang bersamaan dengan depresi yang mengawali Perang Dunia II di era tiga puluhan abad yang lalu. Runtuhnya keuangan dan ekonomi sebelumnya diprediksi, dan setelah tersebarnya virus Corona.

Kedelapan, Amerika benar-benar mengarahkan pandangannya terhadap dunia ke China, dimana China telah menjadi pesaing Amerika yang kuat, dan tidak lama lagi akan menggantikan posisi sebagai negara nomer satu, dari segi kekuatan ekonomi dan postur perdagangannya, dan itu semua telah mempengaruhi posisi dolar secara global, sesuatu yang mungkin berdampak pada perubahan perimbangan kekuatan dunia, dan menjadi ancaman langsung terhadap tatanan dunia, dan konstalasi global, yang singgasananya direbut Amerika tanpa penantang sejak runtuhnya Uni Soviet. Banyak pembahasan tentang perubahan tatanan dunia di kalangan para penguasa, seperti Presiden Turki, dan di media massa global.

Ini merupakan benang merah, yang mungkin dirangkai menjadi skenario penting, yang bisa disimpulkan menjadi alasan Amerika melakukan apa yang harus dilakukan, termasuk dengan menggunakan semua alat yang dimilikinya untuk mempertahankan posisinya dalam memimpin dunia. Mencegah China maju ke pentas global, setelah Amerika berhasil menggulung Uni Soviet, dan mewujudkan tindakannya, yang dimulai sejak Trump datang, dan tercermin dalam Perang Dagang, menarik investasinya di China, dimana tinakan ini diharapkan mampu menggembosi kemampuan China dalam memimpin dunia. Itu tidak berarti China memang berambisi atau berusaha menyaingi Amerika, atau menentang posisinya sebagai pemimpin dunia. Tetapi, Amerika tidak bisa menerima jika China memiliki alat yang menjadikannya mampu untuk menyaingi Amerika, atau memandang China lebih dari negara-negara lain di dunia, dimana China dianggap mampu menjadi pengganti, yang mampu menantang Amerika.

Karena itu, Amerika memandang perlu melakukan tindakan preemptive. Maka, Amerika menggunakan Perang Biologis, dengan menggunakan virus, untuk menciptakan krisis yang kuat. Melalui virus itu, Amerika berhasil menciptakan ketakukan di seluruh dunia, dan ketakukan berkembangnya krisis ini menjadi Perang Panas. Dunia mulai memandang Amerika dan China dengan sikap, yang bisa menyebabkan dihentikannya benih perang mematikan, persis sebagaimana yang terjadi antara Amerika dengan Rusia, di era Kennedy dan Kruchev, dimana krisis dimulai dengan digelarnya rudal Rusia di Kuba tahun 1961 M, berkembang pada pengerahan kapal Rusia yang membawa hulu ledak nuklir melintasi Samudra Atlantik, kemudian terjadilah pertemuan antara Kennedy dan Kruchev, untuk menghentikan benih peperangan ini. Dunia pun bisa bernafas lega, meski kesepakatan Kennedy dan Kruchev, melalui negara-negara kedua, seperti Inggris, Perancis, dan Eropa secara umum.

Sekarang mata di seluruh dunia tertuju pada kemungkinan melepaskan diri dari krisis, seiring dengan meningkatnya saling tuduh antara Amerika dan China, serta meningkatnya suhu militer di berbagai belahan negara di dunia, disertai dengan mulainya resesi ekonomi, yang akan diikuti depresi, dan berhentinya roda produksi dalam perekonomian riil, dan yang terisa hanya uang semu yang tidak bernilai.

Lalu, apa yang akan terjadi?
Yang paling mungkiin adalah, Amerika dan China, setelah seluruh dunia berada dalam kubangan petaka, maka Amerika dan China akan melakukan kesepakatan rahasia. Endingnya, China harus melucuti banyak programnya, khususnya yang terkait dengan senjata militer dan biologis. China juga harus menyingkir dari upaya menentang Amerika di dalam arena global. China harus dibatasi aktivitasnya di tingkat regional, Samudra India, dalam aspek politik dan ekonomi. China harus terikat dengna apa yang didiktekan oleh WTO dan IMF dalam kaitannya dengan pertumbuhan ekonomi dan nilai tukar mata uang Yuan.

Dalam kondisi, ketika kesepakatan ini belum tercapai, maka keadaan akan terus terjadi agar krisis ini terus berlanjut, atau bahwa bisa berkembang menjadi perang militer, semoga tidak.

Dalam semua kondisi tadi, adanya krisis seperti ini, baik kemudian akan berakhir dengan perjanjian, atau krisis ini terus berlanjut, atau bahkan berkembang lebih jauh, maka kondisi yang sangat tepat dan cocok bagi lahirnya negara baru yang kuat, di luar arena permaian politik ini. Di sini, potensi yang bisa dimainkan oleh negeri-negeri di dunia Islam, seperti Turki, Malaysia, Indonesia, Pakistan, Bangladesh, Mesir, Nigeria setelah itu negara-negara Teluk, penghasil minyak. Negara-negara ini bisa menjadi cikal bakal kekuatan global, yang mampu mengubah perimbangan kekuatan, di saat kutub dunia saat ini sedang berperang. Negeri-negeri ini memiliki karakteristik dan sifat yang tidak dimiliki oleh yang lain.

Negeri di dunia Islam ini, di satu sisi, memiliki cadangan SDM yang luar biasa, rakyatnya memeluk agama yang sama, mengimani akidah yang sama. Di sisi lain, mereka telah merasakan musibah dan berbagai dampak buruk tatanan dunia saat ini, sejak berakhirnya Perang Dunia I. Denga begitu, mereka siap menghadapi konflik saat, termasuk krisis yang akan menyertainya. Ini berbeda dengan negara-negara di Eropa.

Di negeri-negeri di dunia Islam ini, selama beberapa dekade yang lalu, telah tertanam ide untuk menghidupkan kembali Negara Khilafah. Ide ini telah menjadi beban berat bagi para penguasa yang ada saat ini, dalam kapasitas mereka sebagai antek Amerika dan Eropa, bukan karena mereka menjadi musuh Islam. Alih-alih upaya dari sebagian negara ini membangun aliansi di antara mereka, sebagaimana yang saat ini diusulkan oleh Erdogan dan Mahatir Muhammad, maka opini umum dunia Islam harus diarahkan dan dimulai dengan menekan para politikus dan pemegang tampuk kekuasaan, baik penguasa, konglomerat maupun tokoh militer, agar mereka semuanya berubah total untuk mengembalikan pemerintahan Islam, agar negara-negara ini melebur lagi menjadi satu negara, Khilafah Rasyidah, dan agar Khilafah ini membangun sistem Islam yang solid untk menggantikan tatanan dunia, sehingga bisa melepaskan diri dari jeratan syaitan Amerika, dengan sistemnya yang buruk, dan dari kelemahan China dan Rusia, serta ketidakberdayaan Eropa pada cengkraman Amerika.

Rancangan Negara Khilafah secara global dan detail sudah ada dan diketahui, yang bisa dilaksanakan seketika. Tidak ada yang bisa menghalangi kemunculannya, kecuali oleh konspirasi dan syaitan Amerika, Inggris, Rusia, antek, pengikut dan pendukung mereka.

Semoga krisis yang mencekik, yang dialami oleh dunia hari ini bisa merontokkan tatanan dunia yang zalim. Semoga ini semua merupakan kesempatan yang Allah datangkan pada kondisi manusia, Allah yang Maha Tahu, Penguasa yang Maha Kuasa di atas para tiran dan diktator. Semoga ini merupakan kesempatan yang dihadirkan Allah kepada mereka yang memang layak untuk mengambilnya sebagai kesempatan, dan mengangkat bendera Tauhid.

Allah berfirman:

یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ ٱسۡتَجِیبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمۡ لِمَا یُحۡیِیكُمۡۖ وَٱعۡلَمُوۤا۟ أَنَّ ٱللَّهَ یَحُولُ بَیۡنَ ٱلۡمَرۡءِ وَقَلۡبِهِۦ وَأَنَّهُۥۤ إِلَیۡهِ تُحۡشَرُونَ

Allah berfirman, “Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan Rasul-Nya, jika keduanya menyeru kamu kepada apa yang bisa menghidupkan kamu. Ketahuilah, sesungguhnya Allah menghalangi antara seseorang dengan hatinya. Hanya kepada-Nyalah kalian akan dikumpulkan.” [Q.s. al-Anfal: 24].[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *