Corona Makin Mengganas Bukti Sistem Kapitalis Sudah tak Pantas!

Corona Makin Mengganas Bukti Sistem Kapitalis Sudah tak Pantas!

Tak cukup sekadar yakin Islam sebagai solusi pengganti, namun setiap Muslim harus mengambil bagian berada dalam barisan perjuangan hingga Islam terwujud nyata sempurna. Jangan hanya jadi penonton atau pemandu sorak tapi jadilah pelaku perubahan.


Oleh: Ummu Fatih (Pemerhati Umat dan Generasi)

POJOKOPINI.COM — Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) kembali mengingatkan warga dunia soal perkembangan pandemi virus Corona (COVID-19) yang bergerak semakin cepat. WHO menyatakan pandemi virus Corona global kini ada dalam ‘fase baru dan berbahaya’. WHO menyebut virus Corona menyebar semakin cepat saat orang-orang mulai lelah dengan lockdown dan pembatasan sosial. (m.detik.com, 21/6/2020)

Sementara itu, di Indonesia kasusnya juga makin meningkat. Kasus positif virus corona (Covid-19) hingga Minggu (21/6) mencapai 45.891 kasus. Dari jumlah itu, 18.404 orang dinyatakan sembuh dan 2.465 orang lainnya meninggal dunia. Jumlah kumulatif kasus virus corona sudah tembus 40 ribu lebih dalam kurun waktu tiga bulan sejak kasus pertama diumumkan 2 Maret 2020. Terhitung dari 1 Juni sampai 16 Juni lalu, jumlah kasus positif virus corona bertambah 13.927 kasus. (m.cnnindonesia.com, 22/06/2020)

Sejumlah pakar dan praktisi kesehatan menduga pembukaan sembilan sektor ekonomi dan wacana adaptasi kebiasaan baru (AKB) atau new normal di tengah masyarakat menyebabkan kenaikan kasus Covid-19 di atas seribu per hari pada sepekan terakhir.

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI) Hermawan Saputra menuturkan sikap gegabah pemerintah dalam membuka kembali sembilan sektor ekonomi dan penerapan new normal menimbulkan persepsi yang keliru di tengah masyarakat terkait pencegahan penyebaran transmisi lokal virus corona.

Sejumlah masyarakat pada akhirnya menganggap langkah itu menunjukkan kondisi yang sudah kembali normal seperti sebelum adanya pandemi Covid-19. Padahal penyebaran virus belum menunjukkan tanda – tanda menurun apalagi berakhir.

Indonesia masih belum aman dari penyebaran Covid-19. Dengan jumlah kasus yang masih terbilang tinggi maka penerapan new normal beresiko tinggi terhadap makin masifnya penyebaran virus corona.

Di saat pemerintah mulai melonggarkan sejumlah aturan, di satu sisi tetap menyarankan tindakan pencegahan seperti cuci tangan, pakai masker dan jaga jarak harus tetap dijalankan. Kenyataan di lapangan tidak demikian, banyak masyarakat yang mengabaikan tindakan pencegahan, karena pemahaman yang masih kurang di tengah masyarakat , atau sifat abai, atau ada anggapan bahwa penyebaran virus sudah berakhir .

Bahkan sebagian besar masyarakat menganggap aturan itu hanya sebagai larangan yang kalau tidak dilakukan akan kena denda bukan risiko terinfeksi penyakit. Kondisi ini membuka peluang kasus terinfeksi virus Corona bisa naik lagi. Akhirnya penyebaran virus benar-benar tak kunjung akhir.

Pengajar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran dr. Panji Fortuna Hadisoemarto juga menilai pemerintah seharusnya fokus pada menekan angka kasus virus corona dahulu ketimbang berpikir melonggarkan aturan demi ekonomi.

Menurutnya, agenda pemberantasan penyakitnya tidak ada, narasi yang dibawa malah hidup berdampingan, berdamai dengan covid. Kebijakan kacau dan tak tepat sasaran karena arahnya bukan memberantas Covid-19. Namun untuk menyelamatkan ekonomi. Padahal tindakan ini lebih berbahaya bagi ekonomi, disaat virus tidak segera ditangani maka perekonomian Indonesia pun akan sulit berjalan. Bagaimana ekonomi akan kuat sementara kesehatan masyarakat dalam bahaya.

Sistem Kapitalis Sudah tak Pantas, Akhiri Saja!

Semestinya kelesuan ekonomi yang dialami pelaku ekonomi raksasa (para kapitalis) tidak menjadi pendorong kuat pemerintah memberlakukan new normal dengan risiko mengorbankan keselamatan jiwa masyarakat luas.

Namun apa dikata, kebijakan penguasa ini menggambarkan ruh hakiki dari sistem kapitalistik yang berlaku saat ini. Rakyat butuh perlindungan atas nyawa dan kesehatan diri mereka, juga jaminan pemenuhan kebutuhan dasar dalam situasi saat ini. Namun pemimpinnya malah mengalihkan urusannya pada masalah yang lain.

Sungguh miris, karena urusan nyawa tidak lebih penting dari penyelamatan ekonomi. Hidup para pejabat kapitalis ditujukan untuk memudahkan urusan para pengusaha dan asing. Bukan untuk rakyatnya.

Harusnya penguasa segera mengambil langkah-langkah serius untuk mengatasi wabah. Upaya preventif , terencana dan menyeluruh harus dilakukan. Namun sayang, tugas ini tidak mungkin bisa dipenuhi oleh rezim kapitalis. Selain mereka tidak kompeten, konsep penyelesaian dan penanganan wabah yang serius ini tidak ada dalam prioritas kapitalis, justru yang menjadi prioritas adalah menjaga kepentingan ekonomi para pemilik modal.

Tidak hanya di negeri ini, tetapi juga di seluruh dunia, langkah pertama yang dilakukan semua rezim kapitalis adalah memompa ratusan miliar dolar untuk para kapitalis, demi menjaga agar bursa saham tidak anjlok lebih lanjut.

Sistem ekonomi dan pemerintahan kapitalisme telah terbukti tidak mampu melindungi masyarakat dari epidemi Covid-19. Karena kapitalisme dirancang bukan untuk me-riayah dan memenuhi kebutuhan manusia tetapi untuk meraih keuntungan materi.

Oleh karena itu, umat Islam khususnya dan dunia pada umumnya memiliki kebutuhan yang mendesak terhadap keberadaan solusi alternatif yang mampu menggantikan sistem kufur kapitalis yang telah gagal menyelesaikan seluruh problem kehidupan, termasuk gagal atasi pandemi covid-19.

Wajib Khilafah sebagai Solusi!

Islam adalah agama yang paripurna, mengatur seluruh aspek kehidupan termasuk di dalamnya masalah kepemimpinan negara. Yang terwujud dalam bingkai khilafah Islam. Pemimpin di dalam islam memiliki dua fungsi utama, sebagai raa’in dan junnah bagi umat.

Makna raa‘in (penggembala/pemimpin) adalah “penjaga” dan “yang diberi amanah” atas bawahannya. Khalifah sebagai pemimpin kaum Muslim di seluruh dunia memiliki tanggung jawab yang begitu besar dalam mengurusi seluruh urusan umat. Rasulullah Saw. bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
‌“Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari)

Nabi Muhammad Saw bersabda:

إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya al-Imam (Khalifah) itu perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)

Makna junnah adalah perumpamaan sebagai bentuk pujian terhadap imam yang memiliki tugas mulia untuk melindungi orang-orang yang ada di bawah kekuasaannya.

Salah satu peran sentral seorang Khalifah adalah menjaga kesehatan warganya. Apalagi saat terjadi wabah penyakit menular. Tentu rakyat butuh perlindungan optimal dari penguasanya. Penguasa tidak boleh abai. Para penguasa Muslim pada masa lalu, seperti Rasulullah saw. dan Khalifah Umar bin al-Khaththab ra., telah mencontohkan bagaimana seharusnya penguasa bertanggung jawab atas segala persoalan yang menimpa rakyat, di antaranya dalam menghadapi wabah penyakit menular.

Hanya Islam sebagai solusi. Islam wajib berdiri sebagai sebuah sistem pengganti atas sistem yang berkuasa saat ini. Tak cukup sekadar yakin Islam sebagai solusi pengganti, namun setiap Muslim harus mengambil bagian berada dalam barisan perjuangan hingga Islam terwujud nyata sempurna. Jangan hanya jadi penonton atau pemandu sorak tapi jadilah pelaku perubahan. Songsong kemenangan Islam yang semakin dekat di depan mata. Wallahua’lam bi shawab.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *