Cukupkah Umat Islam Memboikot Perusahaan Pro Maksiat?

Cukupkah Umat Islam Memboikot Perusahaan Pro Maksiat?

Perlawanan terhadap LGBT tidak cukup hanya dengan memboikot produk dari perusahaan yang mendukung aktivitas LGBT. Harus dilakukan dengan upaya sistematis.


Oleh: Siti Sopianti, SE (Member Kajian Online MQ Lovers Bekasi)

POJOKOPINI.COM — Unilever sebagai salah satu perusahaan raksasa dunia mengumumkan kepada publik via akun media sosialnya (Instagram) bahwa mereka mendukung komunitas LGBT Juni lalu. Hal tersebut menuai reaksi negatif netizen Indonesia dan mengancam akan memboikot produk Unilever. Bukti lain bahwa Unilever mendukung aktivitas LGBTQI+ adalah dengan memberikan warna pelangi pada logonya dan ikut serta menandatangani Deklarasi Amsterdam. Di mata dunia barat, mungkin ini merupakan tindakan yang positif karena menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia. Namun, di Indonesia yang berpenduduk mayoritas muslim hal ini mendapat respon lain karena LGBT bertolak belakang dengan ajaran Islam.

Selain Unilever, ada beberapa perusahaan lain yang menunjukkan sikap bahwa mereka mendukung LGBT. Diantaranya adalah Apple Inc, Microsoft Corp, Google Inc, Coca-cola. Co. Walt Disney. Co, Visa, Mastercard, Yahoo! Inc, Chevron Corp, Ford Motor co, Nike Inc, Motorola Inc, Mattel Inc, Hyatt jotals Corp.Tentunya nama – nama perusahaan di atas tidak asing di telinga kita warga muslim Indonesia. Beberapa produk dari perusahaan tersebut familiar digunakan warga muslim di Indonesia.

Nasib yang sama juga pernah dialami Starbuck. Ketika perusahaan ini mengumumkan dukungan pada tahun 2013. Starbuck dikecam oleh PP Muhammaddiyah dan dinilai sebagai perusahaan yang tidak sesuai dengan budaya ketimuran. (Hops. id/26/6/2020). Himbauan untuk memboikot juga diserukan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua Komisi Ekonomi MUI, Azrul Tanjung akan mengajak masyarakat agar beralih menggunakan produk lain dan disarankan untuk meninggalkan produk Unilever dalam kesehariannya.

Azrul juga berpendapat bahwa tindakan Unilever sungguh keterlaluan. Unilever berkomitmen untuk membuat rekan LGBTQ+ bangga. Dengan menandatangani Declaration of Amsterdam setiap orang mempunyai hak akses secara inklusif ke tempat kerja Unilever. Unilever juga memberikan ijin kran bisnis bagi LGBTQ+ sebagai bagian hubungan kerjasama global. Selain itu Unilever meminta Stonewall lembaga amal untuk LGBTQ+ untuk mengaudit kebijakan Unilever (Republika.co.id 28/06/2020).

Instagram juga semakin vulgar menunjukkan dukungannya terhadap kaum LGBT. Terbukti dengan adanya hastag pelangi pada perayaan pawai kebebasan (Pride Day). Seperti yang diberitakan Economic Times pengguna Instagram dimohon untuk empaty terhadap kaum LGBT yang terdampak pandemik Covid-19. Karena mereka akan mengalami tantangan kesehatan mental dan kesejahteraan emosional.

Instagram pun bekerjasama dengan Queer Muslim Project yaitu salah satu seni visual dan cerita dongeng untuk mengkampanyekan representasi kelompok yang menjalankan aktivitas positif dan interseksional yang positif terhadap jenis kelamin serta panduan kesejahteraan bagi komunitas LGBT. Dukungan juga muncul dari aplikasi sosial media yang lain seperti Google, Youtube, Facebook. (Pikiranrakyatcirebon.Com.28/06/2020).

Aksi dukungan Unilever terhadap gerakan lesbian, gay, biseksual, transgender, dan queer (LGBTQ+) telah menuai kecaman di dunia maya. Tindakan ini sama saja seperti membangunkan macan dari tidurnya, Di tengah kondisi Indonesia berpenduduk muslim terbesar dan juga salah satu penduduk dunia terbesar yang mungkin menjadi pangsa pasar potensial produk Unilever.

Aksi boikot memang merugikan produsen. Tapi tidak ada jaminan bahwa dukungan terhadap LGBT akan berhenti. Faktanya di era dominannya sistem kapitalisme, perusahaan multinasional yang mendukung LGBT serta mengusung nilai liberalisme telah memberikan lahan subur bagi bisnis mereka.

Menurut Prof. Huzaemah Tahido Yanggo (Ketua Bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia) menegaskan bahwa, “Seorang muslim seharusnya meninggalkan barang – barang subhat. Apalagi kalau betul – betul haram. Kecuali dalam kondisi darurat yang mengakibatkan kematian, kelaparan dan tidak ada barang alternatif sebagai pengganti “. Ketika ada perusahaan multinasional yang mendukung LGBT yang sifat hukumnya haram dalam Islam, maka umat Islam dengan imannya wajib meninggalkan atau tidak menggunakan barang subhat yang diproduksi perusahaan tersebut. Sehingga dengan meninggalkan dan tidak memakai barang tersebut, kaum muslimin tidak tergolong orang yang ikut serta mendukung LGBT.

Selain MUI. Pengurus Pusat Ikatan Da’i Indonesia (IKADI) menghimbau kaum muslimin untuk tidak memakai produk-produk yang perusahaannya mendukung komunitas LGBT. Menurut Ustadz Ahmad Khusyairi yaitu Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat IKADI, LGBT merupakan perbuatan haram yang jelas berdosa jika melakukannya. Seperti yang tertuang dalam surat Al – Maidah ayat 2, “….Dan tolong menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, Dan janganlah kamu tolong menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan… “. Membeli produk perusahaan pendukung LGBT sama artinya saling tolong-menolong dalam perbuatan dosa. Kaum muslimin juga dihimbau untuk menasehati jika berhadapan dengan orang – orang yang mendukung LGBT seperti dalam penjelasan Surat Adzariyat ayat 55 sebagai berikut : “Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang – orang yang beriman.” (Tajuk.co.03/07/2020).

Sejarah mengukir bahwa kisah kaum pelangi (LGBT) ada semenjak zaman Nabi Luth. Pelajaran Sejarah di masa lalu seharusnya menjadi hikmah untuk kita semua agar lebih taat terhadap syariat Allah SWT. Balasan yang dahsyat seharusnya membuat kita mawas diri agar terhindar dari azab Allah SWT. Walaupun kita tidak melakukan perbuatan yang mengarah pada perilaku LGBT. Akan tetapi kitapun harus peduli terhadap lingkungan sekitar dan berupaya agar LGBT tidak ada di bumi ini.

Ada beberapa sebutan yang Al-Quran sematkan kepada kaum Nabi Luth As di antaranya fahisyah. “Dan ingatlah ketika Luth berkata kepada kaumnya, kamu benar-benar melakukan tindakan yang sangat keji dan belum pernah dilakukan oleh satu Orang pun ummat sebelum kamu” (Al-Ankabut : 28). Lesbian dan gay disebut mufsid (merusak). “Dia (luth) berdo’a: Tuhanku, tolonglah aku (dengan menimpakan azab) terhadap golongan yang berbuat kerusakan.” Pelakunya disebut pula sebagai musrif (keterlaluan atau melampaui batas) seperti yang dijelaskan dalam Surat Adzariyat ayat 31-34. Dan masih banyak sebutan buruk yang lainnya.

Begitu bahayanya LGBT. Oleh karena itu perlu dicegah sedemikian rupa dengan berbagai cara. Karena LGBT merusak tatanan sosial, mengundang azab Alloh Swt, menimbulkan berbagai penyakit kelamin, memutus mata rantai reproduksi manusia dan bahaya-bahaya lainnya.

Perlawanan terhadap LGBT tidak cukup hanya dengan memboikot produk dari perusahaan yang mendukung aktivitas LGBT. Harus dilakukan dengan upaya sistematis dengan cara menghapus faham, sistem, individu serta institusi/lembaga liberal yang merupakan cikal bakal munculnya dukungan terhadap LGBT.

Menurut Profesor Malik Badri, Pendiri International Association of Muslim Psichologist, penyimpangan sexsual seperti LGBT dapat disembuhkan dengan terapi kognitif. Terapi dilakukan dengan tujuan agar muncul kesadaran bahwa apa yang dilakukan adalah tindakan salah. Selain itu perlu juga dilakukan terapi behavior dengan cara memasukkan pelaku LGBT ke dalam komunitas lingkungan yang bersih agar merasakan hidup kembali di tengah suasana yang baru. Namun, amat sangat disayangkan, sistem saat ini tidak bisa menjamin adanya lingkungan yang bersih. Sebab arus liberalisme masih kencang. Kehidupan bebas masih dianggap biasa. Adanya pemisahan agama dengan kehidupan (sekulerisme). Belum lagi adanya alasan hak asasi manusia serta alam demokrasi yang sulit untuk memberikan ketegasan dan sanksi hukum bagi pelaku LGBT.

Di alam demokrasi, suatu perbuatan jika disetujui oleh beberapa orang, maka perbuatan harampun akan menjadi halal. Sungguh bertentangan dengan aturan Islam. Dalam Islam, hukum halal haram itu bersifat mutlak mengikat semua individu yang mengaku muslim. Terlepas perbuatan itu disetujui tidaknya oleh beberapa orang. Jika halal menurut syariat ya halal, jika haram menurut syariat ya haram.

Begitupun dalam sistem sekularisme. Agama seringkali diabaikan oleh manusia untuk mengatur kehidupan. Agama hanya digunakan dalam mengatur kehidupan di dalam rumah ibadah dan dilarang mengatur kehidupan ekonomi, politik, sosial, budaya apalagi dilarang mengatur urusan orang lain yang berkaitan dengan hak asasi manusia.

Peran media liberal dalam sistem kapitalis demokrasi juga mempunyai peran penting terjalin hubungan mesra antara individu maupun instansi untuk mendukung komunitas LGBT. Hingga keberadaan merekapun dianggap penting untuk dilindungi dan dirangkul.

Selain solusi – solusi diatas. Perlu juga solusi yang sistemik seperti pendapat yang dikemukakan oleh Pengamat Politik Yahya Abdurahman bahwa peran negara sangat penting dalam memberantas LGBT dengan menerapkan hukum – hukum Islam. Sebab selama ini LGBT lahir dari hukum – hukum di luar Islam yang menjunjung tinggi kebebasan. Hukum Islam menanamkan aqidah yang kuat sehingga membentuk karakter rakyat yang taat terhadap aturan agama. Menghindarkan manusia dari sifat hedonism agar mereka tidak menyandarkan hidupnya pada kepuasan hawa nafsu. Selain itu dalam hukum Islam, Negara juga tidak akan membiarkan akses pornografi dan pornoaksi di tengah masyarakat dan menghukum pelakunya. Dengan begitu semua pintu kran menuju perbuatan sex bebas termasuk LGBT tertutup. Apabila ada individu yang melakukannya dianggap tindakan menyalahi aturan hukum. (mediaummat.news, 23/01/2018).[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *