Da’i Menghalau Galau

Skill mengendalikan emosi mutlak diperlukan. Hal ini bisa diperoleh dengan memperhatikan adab-adab Islam dalam perkara mengontrol emosi. Da’i tidak mencari bagaimana mengendalikan emosi dari tsaqafah asing karena itu tidak akan menyelesaikan masalah.


Oleh: Erna Hermawati

POJOKOPINI.COM — Da’i juga manusia. Setiap manusia pernah mengalami rasa kecewa, gelisah, sedih, terluka dan rasa yang menimbulkan kegelisahan lainnya. Apalagi di era sekulerisme, kecemasan, kegelisahan menjadi penyakit yang banyak dikeluhkan dan terkadang sampai butuh penanganan lebih serius dari berbagai pihak. Sehingga dapat dipastikan bahwa menjadi hal logis jika da’i pun mengalami fase-fase yang disebutkan diatas.

Pengakuan atas berbagai rasa itu dibutuhkan agar ada kesadaran bahwa kita butuh Allah SWT dalam segala hal. Ketika futur, misalnya, akui itu dan sadari diri bahwa kita butuh Allah SWT untuk menempatkan berbagai rasa sesuai kadar yang ditetapkan Allah SWT. Poin utama adalah jangan sampai menempatkan dunia menjadi hal utama dalam hidup sehingga standar bahagia diukur dari dunia. Baginda Rasulullah Saw telah lama menyampaikan bahwa “Demi Allah, sungguh dunia ini lebih rendah dan hina bagi Allah daripada bangkai anak kambing ini untuk kalian.’‘ (HR Muslim). Tentunya sebagai muslim kita harus merasa tentram ketika mengetahui hadist diatas karena yang menyampaikan adalah Baginda tercinta, Rasulullah Saw. Hadist Rasulullah Saw menjadi energi bagi setiap muslim untuk mengubah haluan hidupnya agar tidak menjadikan standar bahagia, standar rasa gelisah dan kecewa pada hal-hal yang terkait dengan dunia.

Menemukan Bahagia dalam Dakwah

Zaman sekularisme saat ini, tolak ukur bahagia adalah seberapa banyak materi yang didapat. Tapi tidak dengan seorang da’i. Da’i tidak akan menjadikan materi sebagai pusat kebahagiaannya. Seorang da’i meletakan kebahagiaannya pada aktivitas dakwah. Dakwah adalah aktivitas mulia para nabi dan rasul. Dakwah dicontohkan oleh Rasulullah Saw dan setiap Muslim wajib untuk berdakwah. Berdakwah hakikatnya menjaga diri sendiri, menyembuhkan diri sendiri, menabung amal shalih agar Allah SWT ridho. Jadi, memang sangat penting dibutuhkan alasan kuat (grit) kenapa harus berdakwah. Jika sudah menemukan alasan kuat itu, maka seorang da’i pastilah bahagia didalamnya.

Seorang da’i pastilah bahagia saat menjadikan dalil syara sebagai landasan berpikirnya. Begitupun ketika dia saat sedih, gelisah, cemas maka dia akan melihat bagaimana Islam menemukan solusi dari permasalahannya tersebut. Jadi, seorang da’i bukanlah orang yang pendendam, karena Allah SWT melarangnya. Seorang da’i adalah orang yang berlapang dada dan pemaaf karena Allah SWT yang memerintahkannya. Alquran menyembuhkan luka hati.

Tentunya seorang da’i adalah orang yang mampu mengenali kekurangan diri dan kemudian mencari solusinya dalam Islam. Sehingga seorang da’i siap terjun ke masyarakat dan menjelaskan pada mereka tentang bagaimana Islam hadir sebagai solusi kehidupan. Umat pun diharapkan menjadi sadar dan menginginkan Islam diterapkan secara kaffah. Hanya saja, jika da’i terjun ke masyarakat dan belum memiliki daya dalam menyembuhkan luka diri sendiri, misalnya, maka dikhawatirkan gera dakwahnya menjadi ‘ringkih’. Alih-alih menyembuhkan umat, malah dia sendiri yang berdarah-darah karena jalan dakwah tidak lurus, tidak tenang.

Seorang da’i butuh untuk mengenali apa saja yang harus menjadi masalah bagi dirinya. Mengenali mana daerah yang bisa dia kuasai atau tidak. Sehingga tidak menjadikan semua masalah yang datang diletakan pada prioritas utama untuk diselesaikan. Masalah umat, masalah pelanggaran hukum syara, maka tentulah mendapat porsi utama untuk dipikirkan dan dirisaukan.

Skill mengendalikan emosi mutlak diperlukan. Hal ini bisa diperoleh dengan memperhatikan adab-adab Islam dalam perkara mengontrol emosi. Da’i tidak mencari bagaimana mengendalikan emosi dari tsaqafah asing karena itu tidak akan menyelesaikan masalah.

Menyibukkan diri dalam perkara yang diwajibkan oleh Allah SWT bisa menjadi solusi dalam mengendalikan emosi. Sehingga diharapkan tidak terjebak pada perkara makruh bahkan haram. Da’i harus selalu memohon keberkahan waktu tentunya. Mengoptimalkan amal shalih kuncinya. Memohon agar Allah SWT menolong dalam setiap langkah hidup sehingga tidak ada yang tidak mungkin jika Allah berkehendak.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *