Dari Hagia Sophia menuju Baitul Maqdis dan Roma

Dari Hagia Sophia menuju Baitul Maqdis dan Roma

Namun apa yang mengharu biru tak boleh sekadar didasari perasaan tanpa rasionalitas. Kapitalisme sekularisme masih duduk di kursi kekuasaan yang mengatur dunia, sehingga arah pergerakan umat Islam dunia selanjutnya harusnya mewujudkan satu kekuatan politik Islam yaitu Khilafah.


Oleh: Ummu Farhan

POJOKOPINI.COM – Gulita masih dalam hening saat para bocah dibangunkan untuk berlatih menjadi istimewa. Hitam masih menguasai malam, tapi kejadian demi kejadian terus bergerak tak tertolak sebagaimana terang matahari yang mengganti kegelapan. Buku-buku bisyarah bersusun menunggu giliran untuk dilahap di rak tempat bergumul dua anak laki-laki itu, di depannya sebelumnya mereka berbaris terlelap dan biasa terjaga dalam pertigaan dekapan malam. Namun sepertiga malam kali ini berbeda, “Neuk, bangun, minta Allah pilih kita. Lihat Baitul Maqdis, sebentar lagi, Neuk.” Kedua bocah itu lalu membasahi kulitnya dengan wudhu dan berdiri teratur menghadap kiblat.

Baitul Maqdis sudah dekat, Neuk. Kalau umi bilang begitu, Cutbang mengerti maksudnya?” Laki-laki kecil itu kemudian menjawab, “Pembebasan Baitul Maqdis ga lama lagi,” katanya lembut. Dia pernah bertanya tentang kenapa Allah tak hancurkan Israel seperti kaum Luth yang durhaka, “Allah bisa melakukan itu, saat ini, detik ini bisa, tapi lalu kalian mau menaklukkan apa? Anak-anak umi dapat apa?”


Kami mendengar kabar gembira itu dalam beberapa hari ini. Hagia Sophia dengan izin Allah kembali kepada wasiat Muhammad Alfatih Sang Penakluk, tempat bersujud mukmin yang menghamba kepada Rabb yang meliputi segala sesuatu. Umat Islam di berbagai penjuru dunia bertakbir mengharu biru menyambut pembebasan Hagia Sophia yang sebelumnya diubah menjadi museum, dan keputusan itu terikat dalam majlis sekularisme yang meraja di dunia Islam.

Bangunan indah itu belum lagi kami kunjungi, tapi hati ini sesak rasanya ingin meletakkan kening di buminya, sekaligus membiarkan anak-anakku bersujud di tempat Muhammad Alfatih bersujud. Pun menyertai mereka mengawali Hagia Sophia dari gerbang utama dan mengambil segenggam tanah dari buminya, meletakkan di kepalanya sebagaimana Alfatih melakukannya di hari kemenangan penaklukan Konstantinopel 1453. Menanda bahwa kita ini makhluk yang bertugas mencukupkan upaya, kemenangan adalah hajat Allah yang ditentukan-Nya.

Namun apa yang mengharu biru tak boleh sekadar didasari perasaan tanpa rasionalitas. Kapitalisme sekularisme masih duduk di kursi kekuasaan yang mengatur dunia, sehingga arah pergerakan umat Islam dunia selanjutnya harusnya mewujudkan satu kekuatan politik Islam yaitu Khilafah. Inilah yang kelak akan membabat habis sekularisme sampai ke akar-akarnya.

Menuju Pembebasan Baitul Maqdis dan Roma, dengan Apa?

Hagia Sophia tak cukup istimewa karena kemegahan gedung itu, tapi ada cerita di belakangnya, yaitu sosok Muhammad Alfatih yang dengan kegigihan, keimanan yang kokoh, strategi cerdas, keberanian, dan tawakal penuh kepada Allah dia berhasil menaklukan Konstantinopel yang dijuluk “The Gate of East and West” itu. Lebih dari itu, ada bisyarah yang terlisan dari Nabiyullah Muhammad Saw tentang penaklukan Konstantinopel ini. ”Ya Rasul, mana yang lebih dahulu jatuh ke tangan kaum Muslimin, Konstantinopel atau Romawi?” Nabi menjawab,”Kota Heraklius (Konstantinopel). (HR Ahmad, Ad-Darimi, Al-Hakim)

Konstantinopel sudah takluk oleh Muhammad Alfatih, dia telah mengambil bagiannya. Bersama Khilafah, Alfatih menjadi penjembut kabar gembira yang tersabda oleh Nabiyullah Muhammad Saw. Waktu beranjak, Khilafah itu dihancurkan dan Sang Penjagal Mustafa Kemal Attaturk disebut sebagai Bapak Pembaharu, pahlawan yang diagung-agungkan padahal dia tak lebih dari pengkhianat yang menikam ibu umat Islam.

Namun Hagia Sophia yang sebelumnya dirampas dari kaum Muslimin oleh sekularisme pun sudah kembali, agaknya inilah sinyal kematian kapitalisme sekuler dunia dan pembebasan satu kota lain yang tersabda lisan Nabiyullah Muhammad akan terwujud, Roma. Artinya, kemenangan Islam di depan mata, dunia berubah begitu cepat, ada banyak kejutan belakangan ini. Allah menyimpan rahasia kapan waktunya, tapi Allah memberi kabar gembira dengan meyakinkan kita bahwa peradaban Islam akan tegak kembali dalam Khilafah. Seluruh umat Islam bersatu dan menjemput bisyarah penaklukan demi penaklukan di masa depan.

Apa yang nampak dari kembalinya Hagia Sophia membuat kita paham bahwa tak mudah mengubah masjid bersejarah itu menjadi museum sebagaimana yang dilakukan Mustafa Kemal Attaturk, dia lebih dulu harus menghancurkan Khilafah Sang Penjaga Islam, menegakkan sekularisme untuk menghadang segala upaya membangkitkan kembali Khilafah itu. Pun upaya untuk mengubahnya kembali menjadi masjid bukanlah mudah, sedikitnya 80 tahun Hagia Sophia baru kembali ke pangkuan umat Islam dunia.

Perhatikan, Allah persaksikan kembalinya Hagia Sophia menjadi masjid di depan mata kita. Kita pun dipersaksikan oleh Allah dalam momentum haru saat adzan kembali berkumandang di Hagia Sophia. Dengan ini Allah ingin umat Islam dunia kembali menundukkan egonya, melihat masa depan dengan akidah. Konstantinopel sejatinya sudah takluk saat kabar itu terlisan oleh Baginda Nabi, Roma pun. Untuk itu kembalinya peradaban Islam adalah juga merupakan kepastian masa depan dunia, Khilafah akan tegak dan memobilisasi kekuatan Islam membebaskan Baitul Maqdis dan menjemput bisyarah penaklukan Roma.

Pembebasan Hagia Sophia dari belenggu sekularisme adalah sebagian kecil dan kemenangan demi kemenangan besar yang menanti kita di depan. Hari ini kita semua berharap-harap cemas, akan ada ujian dan cobaan apa bagi umat ini setelah kembalinya Hagia Sophia. Akankah sesuai keinginan dan ghirah yang begitu kuat itu, atau kembali terganjal para pendengki. Namun satu hal yang pasti,  kebangkitan Hagia Sophia adalah simbol kekuatan dan kekuasaan Islam yang pernah menaklukkan sepertiga dunia dalam Khilafah. Pun atmosfer ghirah yang kuat tersebar di seluruh dunia menyambut kembali Hagia Sophia adalah kerinduan akan tegaknya Khilafah yang kelak akan melanjutkan asa menuju pembebasan Baitul Maqdis.

Jika Hagia Sophia yang tak tersebut dalam Alquran kita begitu bahagia menyambutnya karena peristiwa istimewa di belakang simbol Islam itu, apalagi dengan peristiwa pembebasan Al-Aqsha yang suci. Merinding, saat Erdogan berpidato dan menyebut, “Kebangkitan Hagia Sophia adalah pemberi kabar dekatnya pembebasan Al-Aqsha.” Dan mobilisasi kekuatan untuk pembebasan itu hanya bisa dilakukan oleh Khalifah dalam Khilafah. Kelak, Khalifah tinggal menunjuk dengan jarinya, negara mana yang hendak di-futuh sehingga nafas jihad akan berhembus dari seluruh penjuru dunia ke satu titik yang ditunjuk oleh Khalifah.

Bersatulah, Wahai Umat Islam

Hagia Sophia lagi-lagi menampakkan bahwa persatuan dunia Islam yang se-iya sekata dalam kebaikan dan kebangkitan adalah keniscayaan, dan sungguh Khilafah itu telah sangat dekat. Urgensi persatuan umat Islam harus terus disuarakan, seluruh elemen umat harus bersinergi untuk melakukan pembinaan (tatsqif) mengikis tsaqafah asing dan me-reinstall Islam ideologis dalam benak umat ini.

Apa yang disampaikan Rasulullah adalah kepastian, sebagaimana pembebasan Konstantinopel, Roma pun menanti untuk kemudian dibebaskan. Namun sebelum itu terjadi, kita tak boleh terpisah oleh jarak dan batas-batas. Sudah selayaknya rantai nasionalisme yang mengerat leher itu kita putuskan, memandang kita dan Palestina, Suriah, Pattani, Rohingya dan Yaman adalah satu. Kita adalah umat yang satu.

Umat Islam khususnya generasi Muslim hari ini adalah pengisi peradaban Islam yang sedang datang, kelak saat pagi itu datang, segaris dengan kemenangan yang tak tertolak. “Ummi, Baitul Maqdis bebas. Kami akan menuju Roma,” anak-anakku yang menyertai penaklukan itu berkabar. Semoga. Ya Allah, pilihlah kami untuk kejadian itu, bersujud di mesjid suci sebagai kaum yang satu dan merdeka, dalam Khilafah. Aamiin.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *