Dari Konstantinopel, ke Suatu Jalan ke Aqsha dan Roma

Dari Konstantinopel, ke Suatu Jalan ke Aqsha dan Roma

Ghirah dan ruh jihad seperti yang dimiliki Al Fatih, menular dan mengular di relung hati generasi muda Islam. Ghirah yang akan mengantarkan umat menuju kebangkitan yang hakiki yaitu mabda Islam menjadi kiblat peradaban.


Oleh: Ana Frasipa

POJOKOPINI.COM — Dia adalah seorang Sultan pada masa kekhilafahan Bani Abasiyah yaitu Sultan Mehmed II yang kita kenal sebagai Muhammad Al Fatih Sang Pembebas Konstantinopel. Kisah pembebasan Konstantinopel merupakan peristiwa yang sangat heroik dan menggugah. Ekspedisi seorang sultan berusia 21 tahun lewat 3 bulan adalah ekspedisi yang luar biasa.

Ekspedisi yang dirindukan selama 825 tahun sejak Rasulullah mengisyaratkannya. Dialah seorang yang merealisasikan bisyarah Rasulullah yang tertuang dalam sebuah hadits “Sungguh, Konstantinopel akan ditaklukan oleh kalian. Maka sebaik-baik pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baik pasukan adalah pasukan yang menaklukannya” (HR. Ahmad).

Hari itu, setelah peperangan yang dahsyat berkecamuk, sebelum matahari nampak di ufuk timur, pertahanan Konstantinopel telah jatuh. Sinar matahari yang terbit menjadi saksi atas pembebasan Konstantinopel. Setelah pengepungan selama kurang lebih 2 bulan sejak Jumat, 6 april 1953. Menjadi simbol penaklulan Barat oleh Timur.

Sang Pembebas Sultan Al Fatih memasuki gerbang Charisian di hari Selasa 29 Mei 1953 lalu Sang Sultan menuju sebuah bangunan megah, turun dari kudanya, berjalan beberapa langkah. Kemudian bersujud kepada Allah mengambil segenggam debu, dan ditumpahkan di atas surbannya sebagai bentuk rasa syukur dan kerendahan manusia di hadapan Allah.

Bangunan itu bernama Hagia Sophia atau Aya Sofya, Hagia berarti Ibu dan Sophia berarti kebijaksanaan Hagia Sophia adalah bangunan paling luas, landmark paling bergengsi pada masanya. Gereja terbesar sekaligus simbol Byzantium.

Al Fatih kemudian memutuskan Hagia Sophia menjadi mesjid kota. Sultan memerintahkan bangunan tersebut dibersihkan, setiap lukisan temboknya ditutup dan diberi hiasan ayat-ayat Quran. Patung-patung berwujud makhluk hidup, salib-salib dan simbol kegamaan disingkirkan. Jumat, 1 juni 1453, untuk pertama kalinya adzab berkumandang di langit Konstantinopel menjadi seruan pembawa cahaya.

Kurang lebih 470 tahun adzan menggema dari Hagia Sophia hingga keruntuhan Daulah Utsmaniyah, Kekhilafahan terakhir tahun 1924. Kejatuhan Daulah ini tak lepas dari peran Kemal Atatturk seorang tokoh sekularisasi Turki yang menghapus kekhilafahan. Sejak mendirikan Republik Turki yang sekuler, melalui dekrit yang dikeluarkannya Atatturk mengubah Hagia Sophia menjadi Museum.

Dan setelah penantian panjang kurang lebih 89 tahun lamanya. Hagia Sophia difungsikan kembali sebagai mesjid. Hal ini tentu menjadi berita gembira dan angin segar bagi kaum muslimin di seluruh dunia. Pengadilan Turki menyampaikan bahwa dekrit Atatturk tahun 1934 adalah ilegal. Hagia Sophia adalah propertiyang sudah dibeli dan menjadi milik Al Fatih. Kemudian beliau wakafkan sebagai mesjid bagi generasi berikutnya.

Masya Allah, betapa kita rindu akan kumandang adzan di Hagia Sophia. Rukuk dan Sujud di dalamnya. Dan bukan lagi dengan membeli tiket, kita umat Islam cukuplah berwudhu untuk memasukinya. Tentu lebih dari ini semoga dibukanya kembali Hagia Sophia menjadi mesjid, menjadi sebuah momentum kembalinya ghirah umat.

Ghirah dan ruh jihad seperti yang dimiliki Al Fatih, menular dan mengular di relung hati generasi muda Islam. Ghirah yang akan mengantarkan umat menuju kebangkitan yang hakiki yaitu mabda Islam menjadi kiblat peradaban.

Sejarah akan berulang. Di sebuah titik waktu, Al Aqsha dan Roma menunggu untuk dibebaskan. Menunggu jihad orang-orang yang beriman. Cahaya Islam adalah niscaya menyinari seluruh pelosok bumi. Bisyarah Rasulullah akan menjadi nyata, cepat atau lambat.

Khilàfàh, just the matter of time..

Allahu Akbar. Allahu Akbar. Allahu Akbar. Aamiin.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *