Dari Masker Hingga Sertifikasi, Survive Membingungkan Kapitalisme

Dari Masker Hingga Sertifikasi, Survive Membingungkan Kapitalisme

Oleh : Aisyah Karim (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

WWW.POJOKOPINI.COM — Seminggu ini toko-toko kesehatan menjadi primadona untuk dikunjungi masyarakat. Masker adalah komoditas yang diburu di berbagai tempat seiring pengumuman Menteri Kesehatan, Terawan Agus Putranto pada Senin 2/3/2020 tentang dua orang warga Depok yang positif terinfeksi virus corona. Harga masker naik membumbung hingga 10 kali lipat atau bahkan lebih dibandingkan harga normal.

Awal Februari, satu boks merek Sensi yang biasanya di banderol Rp 18-20 ribu melonjak menjadi lebih dari 200 ribu. Untuk masker N95-dengan kualitas filter yang dapat menangkal partikel berukuran 0,3 mikron-dibanderol Rp 1,5 juta per dus berisi 20 buah, padahal sebelumnya hanya rp 400 ribu.

Pasca Presiden mengumumkan kasus corona pertama di Indonesia, harga sekotak masker medis telah menembus Rp 300 ribu di Jakarta, Padahal harga normalnya hanya Rp 20 ribu. Fenomena borong maskerpun terjadi di berbagai tempat, masker menjadi barang langka. Bahkan mereka yang seharusnya sangat membutuhkan benda ini menjadi bingung karena tidak tersedia lagi di berbagai apotik dan toko kesehatan.

Adik saya sendiri, seorang pengidap kanker Limphoma yang wajib menggunakan masker karena imun tubuhnya bermasalah harus menelan ludah kehabisan stok. Sangat disayangkan tindakan memborong dan menimbun masker justru membuat petugas kesehatan kehilangan barang penting tersebut ketika mereka membutuhkannya untuk menangani pasien.

Pakai Masker Belum Tentu Aman

Pendapat yang menganggap bahwa memakai masker berarti aman tak sepenuhnya benar. Menurut Keterangan seorang spesialis pencegahan infeksi, memakai masker dalam keadaan sehat justru dapat meningkatkan resiko terkena infeksi. Seorang Profesor Kedokteran dan Epidemiologi di University of Iowa`s College of medicine, Dr eli Perencevich, mengatakan mengenakan masker dapat membuat seseorang merasa puas dengan kebersihan diri mereka (asiaone.com 3/3/2020).

Penggunaan masker, menurutnya hanya diperuntukkan bagi mereka yang sakit, untuk mencegah virus corona agar tidak ditularkan kepada orang lain. Saat mengenakan masker, seseorang akan lebih sering menyentuh wajah. Padahal salah satu langkah pencegahan virus corona ialah dengan tidak menyentuh wajah sebelum ia mencuci tangan. Penggunaan yang tidak tepat atau tidak membuang masker dengan benar dapat meningkatkan risiko terkena infeksi.

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) Amerika, mengatakan bahwa mereka tidak merekomendasikan penggunaan masker. Mencegah corona dapat dilakukan dengan beristirahat di rumah ketika sakit dan mencuci tangan dengan sabun dan air sampai bersih (tirto.id 3/3/2020). Hal ini selaras ini dengan pernyataan Representatif WHO untuk Indonesia, Paranietharan pada 24 Februari silam. “Yang penting mengenakan masker itu orang sakit, bukan orang sehat,” katanya.

Corona ditularkan melalui tetesan (droplets), bukan udara (airbone) seperti patogen pada TBC atau campak.Tetesan bisa bersifat seperti aerosol pada beberapa virus, namun belum ada bukti corona dapat menginfeksi lewat embusan napas. Ketika seseorang bernapas, ia tidak akan begitu saja terkontaminasi. Masker yang beredar di pasaran dirancang untuk mencegah tetesan menyebar ketika penderita bersin. Pemakaiannya ditujukan agar orang lain tidak terkena droplets ketika berada di dalam jarak dekat dengan penderita.

Lingkaran Kapitalisme

Manadopedia pada 5/3/2020 melaporkan terjadi penarikan sejumlah produk masker dan hand sanitizer dari rak-rak di Indomaret (https://www.manadopedia.com/2020/03/04/astaga-indomaret-tarik-penjualan-masker-demi-untung-berlipat/).
Kapitalis yang cepat membaca peluang tidak hanya memproduksi, memborong atau menimbun masker. Kini respirator pun ramai-ramai dilirik konsumen. Alat ini biasa digunakan petugas kesehatan ketika merawat pasien dengan penyakit menular serius. Para penyedia alat kesehatan mengklaim respirator sebagai jenis masker yang dapat mengurangi paparan dari partikel udara-termasuk melindungi pemakainya dari virus dan bakteri.

Faktanya, lagi-lagi CDC menyatakan, tidak peduli sebaik apapun respirator menempel di wajah dan seefisien apa pun filternya, respirator tidak kebal terhadap partikel tertentu. Respirator juga tidak menghilangkan eksposur partikel tertentu secara keseluruhan.

Mahalnya kesehatan dan keselamatan dalam kapitalisme dapat kita indra dari penyikapan negara terhadap corona. Menteri Luar negeri Retno Marsudi menjelaskan bahwa pemerintah RI melarang turis dan pendatang masuk maupun transit dari wilayah sumber penyebaran virus corona. Yakni Iran, Italia dan Korea Selatan. Kebijakan ini memunculkan tanda tanya besar, mengapa China sebagai sumber penyebaran virus tidak termasuk ?

Watak kapitalisme, inilah sebabnya. Indonesia tetap membuka negaranya untuk China, mengorbankan rakyatnya sendiri demi mencapai tujuan ekonomi. Presiden China Xi Jinping sampai berterima kasih kepada Indonesia karena telah membantu China menghadapi virus corona, menurut surat kabar resmi partai komunis China, People`s Daily (tempo.co 12/2/2020). Miris, jika kemudian sebanyak 238 WNI dari Kota Wuhan, yang kembali ke kediaman mereka masing-masing di Indonesia tidak dilakukan tes virus corona selama masa karantina. Pemerintah beralasan hal itu tersebab alat tes virus corona mahal (The economist 1/3/2020).

Ketika dengan jumawa pejabat negeri ini menyatakan Indonesia bebas corona, para diplomat AS, Kanada dan Australia malah mempertanyakan statemen tersebut, mereka tak percaya. WHO sampai mengingatkan agar jangan ada negara yang kepedean bisa bebas dari corona. Dan benar saja, beberapa saat kemudian semua yang ditutupi terpaksa dibuka. Kemarin, Jumat 6/3/2020 satu dari suspect corona di Indonesia meninggal dunia di RSPI Sulianti Suroso.

Ma`ruf Amin mengatakan pemerintah akan memberlakukan sertifikasi bebas virus corona bagi tiap warga negara asing (WNA) maupun warga negara Indonesia (WNI) dari luar negeri yang ingin masuk ke Indonesia. Sertifikat ini dijadikan sebagai bagian pencegahan penyebaran virus corona di Indonesia.

Namun Juru bicara penanganan covid-19, Achmad Yurianto justru mengatakan sertifikasi bebas corona tak bermanfaat. Dalam ketakutan dan kebingungan rakyat telah dibuat nyaris putus asa oleh negara. Selain kebijakan yang salah kaprah dan tumpang tindih, hampir semua rumah sakit di Indonesia tidak memiliki kelengkapan alat pelindung diri (APD) yang memadai berikut fasilitas isolasi dan transport pasien. Sementara bandara-bandara disesaki oleh turis China yang datang dan pergi.

Andai saja solusi Islam diterapkan, niscaya corona akan terhenti di Wuhan. Ya, solusi Islam dalam menghadapi wabah. Rasulullah SAW pernah memperingatkan umatnya untuk jangan mendekati wilayah yang sedang terkena wabah. Sebaliknya jika sedang berada diwilayah yang terkena wabah, mereka dilarang untuk keluar.

“Jika kalian mendengar wabah terjadi di suatu wilayah, janganlah kalian memasuki wilayah itu. Sebaliknya, jika wabah itu terjadi di tempat kalian tinggal, janganlah kalian meninggalkan tempat itu” (HR. Al-Bukhari).

Namun watak kapitalisme sosialis China saat awal virus ini merebak justru menerapkan kebijakan menutupi fakta persis seperti kebijakan negeri kita sebelumnya. Adalah dokter Li Wenliang yang menjadi pembicaraan sekaligus dianggap pahlawan karena memperingatkan pemerintah China soal virus corona sebelum menjadi wabah. Namun unggahannya dianggap meresahkan publik hingga dia ditangkap polisi. Li Wenliang meninggal dunia pada Jumat 7/2/2020 karena terinfeksi virus corona.

Kapitalisme sosialis tak mau berkompromi dengan ancaman perekonomian, corona dianggap enteng ketika itu. Namun saat gejalanya semakin meluas dan angka kematian meningkat, pada saat itu telah terlambat untuk menghindar, hingga kemudian ekonomi negara itupun runtuh di tangan qadha Allah. China bahkan harus menunda ambisi 5Gnya yang tertunda hingga kini.

Corona Allah kirimkan agar manusia sadar, mereka lemah. Mereka harus kembali kepada Yang Maha Kuat, Allah SWT. Mereka campakkan aturan syariat-Nya, mereka kriminalisasikan pejuangnya, lalu ketika wabah meluas dan mereka khawatir terdampak, jiwa-jiwa sombong itu akan melemah. Allah akan paksa mereka tunduk, kembali taat pada sistem-Nya, karena itulah sebaik-baik jalan hidup.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *