Degradasi Akut Mental Generasi Strawberry

Lebih-lebih ketika sekulerisasi kehidupan menyelusup pada seluruh sendinya membuat mereka tumbuh menjadi generasi yang tak kenal agama. Mereka akhirnya fokus pada pernak-pernik kehidupan duniawi yang semu. Tak ada tujuan hidup yang jelas sebab sejak awal mereka tak paham konsep kehidupan yang haq. Hidup hanya untuk hidup.


Oleh: Ummu Zhafira (Ibu Pembelajar)

POJOKOPINI.COM — Generasi strawberry? Sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut generasi muda bermental layaknya strawberry. Dilansir oleh detikNews. Com (29 Juni 2022) dari buku Strawberry Generation karya Prof. Rhenald Kasali (2017), generasi ini adalah generasi yang penuh dengan gagasan kreatif tetapi mudah menyerah dan mudah sakit hati. Lihatlah. Betapa generasi muda hari ini memang memiliki mentalitas payah yang gampang sekali menyerah.

Seperti yang terjadi belum lama ini. Warga Yogyakarta digegerkan dengan kasus bunuh diri seorang mahasiswa. Seorang laki-laki berusia 18 tahun yang tercatat sebagai mahasiswa baru di Universitas Gadjah Mada (UGM) tewas setelah jatuh dari lantai 11 Hotel Parta di Jalan Colombo, Caturtunggal, Depok, Sleman, DI Yogyakarta, Sabtu (8/10/2022). Sebelum melakukan aksi nekat tersebut, korban memang sudah terlihat berbeda perilakunya dalam kurun waktu tiga minggu terakhir. Petugas kepolisian pun menemukan surat keterangan psikologi keluaran rumah sakit JIH. (Yogya.Inews.id, 10/10/2022)

Kasus semisal juga menimpa seorang mahasiswa semester 3 sebuah kampus di Kota Semarang. Korban berinisial AN jatuh dari lantai 6 gedung parkir. Kejadian nahas itu terjadi pada hari Jumat 16 September 2022 lalu. Korban nekad melakukan bunuh diri diduga karena mengalami depresi hanya karena merenggangnya hubungan dengan sahabatnya (Kompasiana.com, 03/12/2022). Sedangkan kasus terbaru terjadi pada 14 November lalu. Dikabarkan oleh CNNIndonesia.com (14/11/2022), Seorang mahasiswi baru Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar, Sulawesi Selatan, ditemukan dalam keadaan tak bernyawa dengan kondisi gantung diri di kamar mandi sebuah rumah kosong. Korban sempat mengeluhkan banyak tugas kampus yang harus diselesaikan dan mengeluh sakit sebelum mengakhiri hidupnya dengan cara memilukan.

Miris. Bunuh diri seolah jadi tren pilihan generasi muda dalam menyelesaikan persoalan hidup mereka. Nahasnya, berdasarkan analisis data yang ada, Sandersan Onie atau Sandy sebagai Projects Leader dan Founder Emotional Health for All (EHFA) menyatakan kasus bunuh diri remaja di Indonesia minimal empat kali lipat dari data yang terlapor. Sedangkan berdasarkan hasil survei Peneliti dari Pusat Kesehatan Reproduksi, Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) Amirah Ellyza Wahdi menjelaskan kondisi permasalahan kesehatan menunjukkan gejalanya mulai usia remaja. Setidaknya dari hasil survei tersebut didapat data sebanyak 2,45 juta remaja di Indonesia dinyatakan mengalami permasalahan kesehatan mental. (Liputan6.com, 31/10/2022)

Dari fakta di atas, jelas tak salah jika generasi hari ini mendapat sematan sebagai generasi strawberry. Memiliki jutaan kreativitas dan berbagai macam harapan tapi ketika ujian datang, mentalitas mereka mudah sekali jatuh. Jauhnya mereka dari konsep yang solutif pun menjadikan mereka mudah gamang dengan berbagai macam tekanan hidup yang ada. Degradasi mental generasi muda telah mencapai pada level puncak. Kerusakan akut mentalitas generasi muda perlu dicari solusinya.

Kerusakan ini tak lain adalah efek domino dari penerapan sistem sekuler yang hampir seabad lamanya. Meski faktor biologis bisa menjadi salah satu sebab adanya kerusakan mental tersebut, tapi begitu banyak kasus membutkikan bahwa ada faktor lain yang lebih dominan dalam meningkatkan gangguan kesehatan mental pada generasi hari ini. Dan memang kehidupan sekuler yang kapitalistik nyatanya telah menciptakan berbagai macam tekanan pada kehidupan generasi. Tekanan ekonomi, pendidikan, teman, keluarga bahkan asmara seringkali menjadi pemicu generasi depresi.

Lebih-lebih ketika sekulerisasi kehidupan menyelusup pada seluruh sendinya membuat mereka tumbuh menjadi generasi yang tak kenal agama. Mereka akhirnya fokus pada pernak-pernik kehidupan duniawi yang semu. Tak ada tujuan hidup yang jelas sebab sejak awal mereka tak paham konsep kehidupan yang haq. Hidup hanya untuk hidup. Ketika hidup tak sesuai harapan maka cara instan dilakukan. Bunuh diri jadi pilihan yang makin mengerikan.

Kosong. Begitulah kehidupan generasi strawberry. Tanpa tujuan hidup mereka sangat mudah terseret arus kehidupan serba bebas. Materi sebagai tujuan menjadikan mereka menghalalkan segala cara dalam meraih impian. Tak ada standar baik buruk apalagi halal haram. Segala hal diperturutkan demi memenuhi hasrat yang ada. Bukan bahagia yang didapat, justru kehancuran yang berkali lipat.

Allah Swt. berfirman, “Ketahuilah oleh kalian, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megahan di antara kalian serta berbangga-banggaan dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang karenanya tumbuh tanam-tanaman yang membuat kagum para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning lantas menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan- Nya. Dan kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (Al- Hadid: 20)

Bagaimana bisa kita biarkan generasi terus tertipu pada kehidupan semu. Tak ada solusi lain untuk menyelesaikan problem ini kecuali hanya kembali pada Islam. Islam menjadikan akidah sebagai pondasi dalam kehidupan. Setiap individu apalagi generasi muda sebagai aset masa depan akan dijaga betul kemurnian akidahnya sehingga mereka tumbuh menjadi pribadi yang memiliki kepribadian Islam yang khas.

Generasi Islam memahami konsep kehidupan yang benar, bahwa hidup ini berasal dari Allah, di dunia untuk beribadah pada-Nya dan kelak akan kembali lagi menghadap-Nya dengan mempertanggungjawabkan segala perbuatan yang telah dilakukan di dunia. Dengan keyakinan menghujam, generasi akan senantiasa berusaha mengikatkan seluruh aktivitasnya pada syariat Allah semata. Mereka akan berlomba-lomba untuk mengkaji Islam, menguasai ilmu sains demi mewujudkan kemaslahatan umat. Dan semua itu didukung oleh negara yang memainkan perannya memenuhi segala kebutuhan pendidikan mereka tanpa terkecuali. Pun mereka akan menjaga generasi dari paparan pemikiran-pemikiran asing yang bisa merusak akidah dan menjauhkannya dari ketaatan pada Allah.

Generasi-generasi emas peradaban Islam tak terbilang lagi jumlahnya. Berapa banyak ulama’ masa lalu yang kitabnya masih dikaji hingga hari ini. Betapa banyak ilmuwan-ilmuwan faqih fiddin yang karyanya menjadi tonggak kemajuan teknologi modern masa kini. Imam Syafi’i, Imam Maliki,  Al Khawarizmi, Ibnu Sina, At Tabari, Al Kindi, Ibnu Firnas dan masih banyak lagi nama-nama ilmuwan masa lalu yang nama dan karyanya masih harum meski mereka telah tiada.

Tak terhitung juga mujahid-mujahid yang memiliki mental baja. Mereka paham hidup hanya untuk Allah sehingga mereka hanya mempersembahkan hidup dan matinya hanya di jalan Allah. Sudah tak asing telinga kita dengan nama kisah Khalid bin Walid, Salahuddin Al-Ayubi, Muhammad Al Fatih mereka adalah generasi-generasi muda mumpuni yang terlahir dari sistem Islam, yang memiliki kecerdasan luarbiasa, ketakwaan yang tak diragukan dan daya juang yang tiada tandingan. Begitulah generasi semestinya hidup. Tak payah kita harapkan generasi ini membaik dengan sistem sekuler kapitalis yang diterapkan di negeri ini. Bukan kebaikan justru keburukan dan kehinaan yang akan terus-terusan menimpa generasi. Islam adalah penyembuh. Dia akan menyembuhkan umat manusia, terlebih generasi yang memiliki beribu kekuatan untuk kebangkitan umat Muhammad. Maka mengembalikan mentalitas generasi sama dengan mengembalikan Islam terinstal kembali pada diri mereka. Dengan Islam mereka akan sadar jati dirinya dan akan bersungguh pada medan perjuangan yang semestinya. Rida Rabb-nya sebagai satu-satunya tujuan sehingga hidup mati hanya untuk kebaikan agama ini. []

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.