“Demi Devisa, Nyawa Hilang Harga”

“Demi Devisa, Nyawa Hilang Harga”

Oleh : Widya SovianaPemerhati Masalah Sosial Masyarakat

WWW.POJOKOPINI.COM — Dalam kehidupan manusia, nyawa merupakan nilai yang paling tinggi harganya. Betapa banyak orang yang rela menghabiskan uangnya, demi kehidupan yang lebih panjang. Harta menjadi sesuatu yang ditawar-tawarkan, untuk menjamin keberlanjutan denyut jantung dan nadi manusia.

Pepatah mengatakan, “uang dapat dicari”. Tapi nyawa, kemana manusia dapatkan pengganti. Begitulah kiranya, manusia sadar sekali akan nilai sebuah nyawa bagi dirinya. Sebab nyawalah yang menjadikan jasadnya masih berarti.

Namun, dalam ideologi kapitalisme. Segala sesuatu selalu diukur dengan nilai materi. Sampai-sampai nyawa pun dapat digadaikan, meski raupan materi yang diperoleh tak sebanding apalagi jauh hanya dari sekedar kata mencukupi.

Hidup dalam sistem kapitalisme, terus saja menciptakan individu-individu yang buta mata hati. Tidak cukup buta, sistem ini telah pula membuntukan proses berfikir manusia. Semua, hanya karena materi dan materi. Seakan tanpa materi, maka hidup tak akan berarti.

Begitulah, melihat fenomena negara Indonesia. Ketika semua negeri memilih melindungi warganya dari wabah Corona. Indonesia, terus saja menyambut turis wisatawan China. Padahal, sebagai negara yang menjalankan amanah Undang-Undang Dasar 45. Negara memiliki kewajiban melindungi rakyatnya. Apakah perlindungan ini tidak termasuk dalam ancaman yang berasal dari wabah penyakit menular, yang telah ditetapkan sebagai bencana di dunia.

Di dalam Al Qur’an, Allah Subhana wa Ta’ala berfirman “Dan janganlah kamu menjatuhkan dirimu sendiri ke dalam kebinasaan” (TQS. Al Baqarah, 195). Oleh karenanya, menjadi kewajiban bagi seluruh manusia untuk menjaga dirinya dari segala hal yang membinasakan dirinya. Apalagi dalam sebuah negara, maka negara harus menjadi pelindung bagi warganya. Sebagaimana dalam sistem Khilafah Islamiyah, negara merupakan junnah atau perisai bagi rakyatnya.

Dalam sistem kapitalis yang bengis, nyawa menjadi tiada berharga. Hanya demi devisa yang tak seberapa, negara rela mempertaruhkan warganya. Mirisnya negeri Indonesia, yang harus menjual keindahan dirinya demi pundi-pundi recehan. Sedangkan gunung emas dan zamrud khatulistiwanya menjadi santapan-santapan negeri adi daya.

Sangatlah mengherankan dalam fikiran. Bila saja, masih merasa betah hidup dalam sistem yang diemban oleh para Kapitalis sejati dunia. Sejatinya, sebuah sistem yang diciptakan manusia adalah, untuk menguntungkan penciptanya. Ini berbeda dengan sistem Khilafah Islamiyah, sebab diwahyukan sebagai sistem yang rahmatan lil’alamin, rahmat bagi seluruh alam, yakni seluruh manusia, hewan dan makhluk lainnya.

Patutlah, kita merenungi firman Allah Ta’ala “Dan Kami tidaklah menganiaya mereka tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri, karena itu tiadalah bermanfaat sedikitpun kepada mereka sembahan-sembahan yang mereka seru selain Allah, di waktu azab Tuhanmu datang. Dan sembahan-sembahan itu tidaklah menambah kepada mereka kecuali kebinasaan belaka.” (TQS. Huud, 101). []

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *