Demokrasi Biang Kerok Bobroknya Rasa Hormat kepada Nabi

Demokrasi Biang Kerok Bobroknya Rasa Hormat kepada Nabi

Karena kaum muslimin saat ini bagaikan buih di lautan. Jumlahnya banyak tapi tak punya kekuatan. Teriakan nyaring mereka tak mampu memekakan telinga kaum kuffar. Karena mereka tak bersatu dalam satu kepemimpinan.


Oleh: Budi Harianto (Konselor Remaja)

POJOKOPINI.COM — Kini, kembali beredar kabar yang menyayat hati kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Penghinaan terhadap nabi Muhammad saw. kembali terjadi. Kini muncul dari presiden Prancis, Emmanuel Macron menilai kartun atau karikatur Nabi Muhammad di Charlie Hebdo sebagai kebebasan berpendapat. Dia juga mengatakan Islam adalah agama yang sedang mengalami krisis dengan posisi muslim makin sulit (detiknews.com, 31/10/2020).

Pernyataan ini sebagai tanggapan atas kejadian silam pada tahun 2015. Kontroversi di Prancis yang diawali tindakan seorang guru Samuel Paty yang menggunakan kartun terbitan Charlie Hebdo tahun 2015 saat mengajar. Tindakan ini menuai protes dari komunitas dan Paty terbunuh dengan kepala dipenggal (detiknews.com, 31/10/2020).

Macron membenarkan bahwa pembuatan kartun Nabi Muhammad Saw. sebagai bentuk kebebasan berekspresi yang dijamin dalam demokrasi. Akhirnya tanggapan presiden Prancis ini menjadikan jiwa kaum muslimin di seluruh penjuru bumi terpanggil. Gelombang aksi pembelaan terus terjadi, tak peduli walau di tengah pandemi. Satu suara yang mereka gaungkan yakni boikot produk Prancis.

Pemboikotan terhadap produk negara Eropa itu, tidaklah cukup untuk memberhentikan segala bentuk penghinaan terhadap Nabi. Karena ianya hanyalah bentuk cubitan kecil yang tak mampu menggoyahkan benteng kesombongan mereka terhadap Islam.

Pada dasarnya, penghinaan yang terus berulang terjadi disebabkan karena lemahnya kaum muslimin di hadapan kaum kuffar. Tidak adanya kekuatan kaum muslimin yang mampu menjadi benteng kuat dalam memberangus segala bentuk penindasan terhadap Islam.

Penerapan sistem demokrasi yang menjamin kebebasan bersuara telah membuka ruang bagi semua orang untuk menghina Islam. Karena sejatinya demokrasi tak pernah berpihak kepada Islam. Hanya condong kepada mereka yang mencampakkan aturan tuhan dalam kehidupan.

Sehingga tak heran, tidak ada sama sekali ketakutan yang muncul dalam benak para pembenci Islam. Karena dunia saat ini ada dalam genggamannya. Banyaknya jumlah kaum muslimin di seluruh penjuru dunia tak menjadikan gentarnya para musuh-musuh Allah. Karena kaum muslimin saat ini bagaikan buih di lautan. Jumlahnya banyak tapi tak punya kekuatan. Teriakan nyaring mereka tak mampu memekakan telinga kaum kuffar. Karena mereka tak bersatu dalam satu kepemimpinan.

Kepemimpinan dalam Islam adalah junnah atau perisai. Pernah terbukti keberadaannya. Selama 1400 tahun berhasil memimpin dunia. 2/3 dunia menjadi wilayah kekuasaannya. Sehingga tak heran kekuatan Islam saat itu telah diakui oleh semesta. Islam tampil berwibawa dan mulia. Tak ada yang berani mengganggu Islam. Karena sejatinya mengganggu Islam sama saja membangunkan singa yang sedang tidur.

Pada masa kekhilafahan Utsmani yang dipimpin oleh Sultan Abdul Hamid 2. Prancis pernah melakukan penghinaan kepada nabi Muhammad Saw. namun saat khalifah mengetahui kejadian itu, khalifah dengan ketegasannya memanggil utusan Prancis dan memerintahkan agar penghinaan itu segera dihentikan. Tidak menunggu lama Prancis tunduk tak berdaya.

Beginilah saat Islam punya kekuatan. Berbanding terbalik dengan ketiadaannya seperti saat ini. Kaum muslimin tak bisa bertindak tegas untuk memberhentikan penghinaan terhadap Nabi. Bahkan dipastikan sebelum adanya khilafah penghinaan kepada rasul mulia akan terus berulang. Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *