Demokrasi dalam Pusaran Covid-19

Demokrasi dalam Pusaran Covid-19

Wacana penguasa ingin membebaskan narapidana koruptor agaknya sarat kepentingan yang harus dimonitor. Tidaklah heran mengapa dalam sistem demokrasi undang-undang berubah-ubah mengikuti irama pasti. Yaitu kepentingan abadi pilar penyokong demorasi. Baik legislatif, eksekutif dan yudikatif. Semua bergerak dalam roda gigi yang satu, yaitu demokrasi.

Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Upaya penguasa untuk merevisi peraturan yang memperketat pemberian remisi bagi narapidana korupsi, narkoba dan terorisme masih menuai kontroversi. Bahkan Indonesian Corruption Watch (ICW) mengecam rencana Menteri Laoly dengan mengatakan kebijakan tersebut mengada-ada. Tak ada relevansi penyebaran Corona dengan pembebasan narapidana korupsi. “Lapas Sukamiskin justru memberikan keistimewaan satu ruang sel diisi oleh satu narapidana kasus korupsi. Justru ini bentuk social distancing yang diterapkan agar mencegah penularan,” kata Peneliti ICW Ramadhana Kurnia. (www.aa.com.tr/id/nasional/indonesia, 03/04/2020)

Bahkan Koordinator Divisi Korupsi Politik ICW, Donal Fariz menyebut bahwa rencana perubahan PP Nomor 99 tahun 2012 yang digulirkan oleh Yasonna H. Laoly sejak 2016. “Itu sudah agenda lama sehingga corona ini hanya jadi justifikasi saja,” ujar Donal Fariz. (Radar Bogor, 03/04/2020)

Ini adalah fenomena biasa dalam sistem sekuler demokrasi. Aturan yang sudah dibuat dan ditetapkan baik dalam UU, PP, dan lain-lainnya akan mudah saja diubah sesuai kepentingan. Ketika gagal digulirkan maka pada waktunya akan dapat memanfaatkan situasi. Di tengah wabah Corona, masyarakat tak boleh lengah. Tetaplah menaruh perhatian tinggi untuk terus peduli. Peduli pada nasib umat yang kian tergadai, oleh kepentingan penguasa. Aturan sarat kepentingan pribadi dan golongan memang menjadi ruh dalam sistem ini. Sehingga berbagai persoalan dijamin terus menumpuk tak mampu di selesaikan.

Kalau kita analisis lebih dalam pantas, seperangkat aturan yang diterapkan di negeri ini tak mampu menjadi solusi. Hal ini berakar dari ideoligi yang diterapkan, yaitu ideologi sekularisme demokrasi. Kok bisa? Iya karena prinsip dalam demokrasi telah memberikan kewenangan membuat hukum pada manusia.

Manusia melalui wakilnya yang duduk di DPR telah mendapat hak yang melampau batas. Yaitu membuat undang-undang. Produk aturan ini setelah disahkan akan mengikat semuanya. Luar biasa manusia hanya makhluk lemah yang tak berdaya bahkan untuk dirinya sendiri, diberikan kewenangan melampau batas diri. Untuk dirinya sendiri butuh aturan dari pencipta. Apa jadinya ketika diberi posisi membuat hukum mengatur sistem hidup? Mampukah menjadi solusi? Solusi paripurna yang menjawab semua?

Jika dulu Fir’aun memaksa seluruh manusia menyembahnya, maka apa bedanya dengan demokrasi yang menjadikan pembuat hukum adalah manusia? Apa bedanya manusia hari ini dalam demokrasi dengan Fir’aun? Manusia telah membegal hak Allah dalam membuat hukum. Sedangkan Allah telah berfirman dalam Qur’an Surat Yusuf, ayat 40 yang artinya Innil hukmu illa liLlah, “Sesungguhnya hak membuat hukum hanyalah Allah.

Wacana penguasa ingin membebaskan narapidana koruptor agaknya sarat kepentingan yang harus dimonitor. Tidaklah heran mengapa dalam sistem demokrasi undang-undang berubah-ubah mengikuti irama pasti. Yaitu kepentingan abadi pilar penyokong demorasi. Baik legislatif, eksekutif dan yudikatif. Semua bergerak dalam roda gigi yang satu, yaitu demokrasi.

Kalau kita lihat lebih jauh, ternyata demokrasi ini adalah satu-satunya alat yang digunakan kapitalis global sebagai penjajah dunia. AS tetap akan menjadi negara pertama dalam konstelasi dunia, manakala semua negara dalam demokrasi jebakannya. Tak heran AS selalu memastikan semuanya termasuk negeri muslim hidup di alam demokrasi. Demikianlah kenyataan kita, negeri muslim hanya menjadi tumpahan hasrat rakus kapitalis global.

Semoga dengan wabah Covid-19 ini kian membuka mata kita. Setelah kerusakan dunia yang menganga karena penerapan sistem demokrasi kapitalisme ini membuat kita kembali. Kembali pada fitrah kita yang hakiki. Tunduk pada syariat Islam sebagai satu-satunya solusi. Karena aturan Islam berasal dari Allah SWT yang maha melindungi. Mampu menjaga akal, agama, jiwa, harta, nasab, kehormatan, keamanan dan negara. Demikianlah Islam diturunkan sebagai panduan hidup manusia, sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam QS Al-Baqarah: 185.

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.

Semoga Allah memberkahi kita di bulan Rajab dan Bulan Sya’ban dan disampaikan umur kita di Bulan Ramadan, aamiin.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *