Demokrasi tak Menghendaki Kemaksiatan Berhenti

Demokrasi tak Menghendaki Kemaksiatan Berhenti

Sungguh tempat kembali itu sebenarnya telah ada dan dimiliki umat Islam. Hanya karena masih berada dalam pengaruh bius demokrasi, kesadaran umat belum pulih. Butuh waktu, energi, kemauan, kesabaran dan keistikamahan untuk mendapatkan kesadaran diri umat.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Pemerintah Provinsi DKI Jakarta memastikan tempat-tempat hiburan malam di ibu kota masih belum diizinkan beroperasi selama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.

Hal tersebut dikatakan Kepala Bidang Industri Pariwisata Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta, Bambang Ismadi merespons aksi demonstrasi para pekerja dan pemilik tempat hiburan malam di depan Balai Kota, Selasa (21/7) pagi. Bambang mengatakan, berdasarkan keputusan Tim Satgas Penanganan Covid-19 Jakarta, tempat hiburan itu belum bisa beroperasi (CNN Indonesia).

Mencermati kebijakan terhadap hiburan malam yang lekat dengan maksiat dalam sistem demokrasi dapat dikritisi sebagai berikut:

Pertama, demokrasi memang selalu bersandar pada kepentingan dan keuntungan. Kebijakan berputar pada kedua poros secara bergantian. Jika ingin keuntungan materi, tentu izin hiburan malam diberikan. Namun jika yang dituju kepentingan kebijakan tentu segaris dengan kepentingan. Beda lagi ketika ingin mendapat simpati rakyat, tentu bisa saja sementara mengikuti keinginan rakyat. Untuk kemudian bisa berpindah manakala targetnya lain lagi. Demikianlah karakter demokrasi yang lahir dari ideologi sekuler kapitalisme.

Ideologi batil buatan manusia pasti menimbulkan keresahan dan kerusakan. Karena apapun yang dibangun atas landasan kefasadan pasti kerusakan juga yang lahir darinya.

Kedua, demokrasi mendewakan kebebasan. Semua kebebasan sangat dipelihara dan dijunjung tinggi dalam sistem ini. Bebas berekspresi, berpendapat, berakidah dan memiliki. Sungguh kebebasan tanpa batasan ini sumber konflik dan persoalan pelik. Termasuk kehidupan malam, walau lekat dengan maksiat tetap harus diberi ruang lebar. Itulah demokrasi.

Ketiga, penguasa demokrasi lebih memikirkan dan meriayah tuannya para korporasi daripada rakyatnya. Sehingga kebijakan hanya bertumpu pada kepentingan korporasi. Sehingga sering kita dapati bisnis haram tetap tumbuh subur dalam demokrasi.

Keempat, masyarakat dimiskinkan sistem demokrasi sekuler, sehingga tak berdaya dan seakan tak punya pilihan. Hingga kadang masyarakat yang kering aqidahnya bahkan berpendapat ‘jangankan yang halal, cari yang haram saja susah’. Begitulah sekulerisme menjadikan manusia berada dalam pusaran kerusakan sistemik. Lantas bagaimana mengeluarkan manusia dari tragedi demi tragedi?

Sungguh tempat kembali itu sebenarnya telah ada dan dimiliki umat Islam. Hanya karena masih berada dalam pengaruh bius demokrasi, kesadaran umat belum pulih. Butuh waktu, energi, kemauan, kesabaran dan keistikamahan untuk mendapatkan kesadaran diri umat.

Semua aktivitas menuju kesadaran umat itu sangat penting hari ini. Rasulullah shalallahu alaihi wassalam sudah memberikan panduannya. Peta jalannya adalah dengan meniti dakwah Rasulullah shalallahu alaihi wassalam. Dengan terus menggencarkan dakwah pemikiran, politik, tanpa kekerasan hingga mendapatkan nushrah-Nya (pertolongan-Nya).

Ada yang mengatakan dakwah seperti itu lama. Bicara waktu memang sangat relatif. Lama adalah ukuran ketidakpastian. Sedangkan pertolongan-Nya adalah janji Allah yang pasti. Sesuatu yang pasti itu sangat dekat. Allah telah berjanji sebagaimana dalam QS an-Nuur : 55.

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُمْ فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَىٰ لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُمْ مِنْ بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْنًا ۚ يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئًا ۚ وَمَنْ كَفَرَ بَعْدَ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

Allah telah menjanjikan kepada orang-orang di antara kamu yang beriman dan yang mengerjakan kebajikan, bahwa Dia sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka dengan agama yang telah Dia ridai. Dan Dia benar-benar mengubah (keadaan) mereka, setelah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka (tetap) menyembah-Ku dengan tidak menyekutukan-Ku dengan sesuatu pun. Tetapi barang siapa (tetap) kafir setelah (janji) itu, maka mereka itulah orang-orang yang fasik.”

Semoga warna kehidupan yang subur bisnis maksiat segera hilang seiring datangnya fajar Khilafah Islamiyah yang dijanjikan Allah subhanahu wata’ala. Aamiin.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *