Di Ujung Demokrasi

Di Ujung Demokrasi

Jika memang demokrasi menomorsatukan rakyat, namun mengapa penanganan terhadap keinginan rakyat sangat lambat bahkan cenderung abai?


Oleh : Radayu Irawan, S.Pt

POJOKOPINI.COM — Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) dikabarkan kembali menggelar aksi demo menolak pengesahan RUU Omnibus Law Cipta Kerja di kawasan Istana Merdeka, Jakarta (Liputan6.com, 20/10/2020). Estimasi massa aksi sebanyak 5.000 Mahasiswa dari seluruh Indonesia (Surya.co.id, Senin 19/10/2020). Menurut pantauan detik.com, Selasa (20/10/2020) pukul 15.14 WIB, massa tampak memenuhi kawasan Patung Kuda.

Kami tetap menyampaikan #MosiTidakPercaya kepada pemerintah dan wakil rakyat yang tidak berpihak pada kepentingan rakyat,” kata Koordinator Pusat Aliansi BEM SI, Remy Hastian (Tribunnews.com, 20/10/20).

Bak singa yang telah bangun dari tidur panjangnya. Mahasiswa kembali mengambil gelar agen of change yang disematkan di pundak mereka. Isu pengesahan UU Omnibus Law telah membukakan mata hati, pemikiran, pemahaman dan perasaan dari setiap lapisan masyarakat negeri ini.

Walaupun agaknya aksi demo ini sudah di ambang keterlamabatan. Namun, patut diapresiasi secara penuh apa yang telah diperjuangkan oleh Mahasiswa dan masyarakat yang terus menyuarakan aspirasi mereka.

Terbukti bahwa Mahasiswa sudah sangat geram dengan berbagai permasalahan di negeri ini yang kian pelik. Namun, lagi-lagi pemahaman terhadap arah perjuangan yang tepat belum mereka peroleh seutuhnya. Sehingga arah dari pergerakan elemen masyarakat yang melakukan demo masih kembali kepada sistem demokrasi yang jelas-jelas tidak mampu mengentaskan setiap problematika yang terjadi di negeri ini.

Mahasiswa harus kembali kepada arah perjuangan Islam. Sehingga, tak hanya perkara omnibus law, bahkan seluruh problematikan negeri ini akan tuntas. Karena jika tetap menuntut terhadap sistem demokrasi ber-mabda kapitalisme dengan asas sekularisme hanya akan membuat kekecawaan yang berkepanjangan.

Buktinya sudah nyata, demokrasi yang secara teori “Dari rakyat oleh rakyat dan untuk rakyat” namun saat mayoritas suara rakyat yang sudah 3 kali melakukan demo, belum ada realisasi secara tanggap dari pihak pemegang kekuasaan. Jika memang demokrasi menomorsatukan rakyat, namun mengapa penanganan terhadap keinginan rakyat sangat lambat bahkan cenderung abai?

Sejak saat ini, sudahlah, tak ada lagi yang bisa diharapkan dari sistem buatan manusia. Selayaknya hamba kembali kepada sistem Ilahi, yang akan menjamin setiap hak rakyat dengan sempurna dalam tatanan Daulah Islam.

Sesungguhnya manusia yang paling dicintai oleh Allah pada hari kiamat dan paling dekat kedudukannya di sisi Allah adalah seorang pemimpin yang adil. Sedangkan orang yang paling dibenci oleh Allah dan paling jauh kedudukannya dari Allah adalah seorang pemimpin yang zalim” (HR. Tirmidzi).

Siapapun pemimpin yang menipu rakyatnya, maka tempatnya di neraka.” (HR. Ahmad).[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *