DiarySri: Asimilasi dan Integrasi untuk Bang Napi

DiarySri: Asimilasi dan Integrasi untuk Bang Napi

Seandainya negeri ini mau berlepas dari sistem demokrasi yang fasad ini, tentu kita dapat menyelesaikan semua persoalan negeri ini secara tuntas.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Hari ini perhatianku tertuju pada pesan berantai yang beredar di daerah Cilacap. Sebuah pesan seruan untuk berhati-hati mengenai pembebasan 30.000 napi di Indonesia akibat wabah virus corona (Covid-19).

Dikatakan dalam pemberitaan media online pembebasan ratusan bang napi dari Nusakambangan akan singgah dulu di Cilacap. Ada yang dijemput dan banyak yang tidak. Dan ada 100 lebih napi dari Lapas Cilacap yang keluar. Beredar himbauan ekstra hati-hati karena bang napi tak disangoni. Himbauan mengunci rumahpun beredar. Disertai peringatan, mungkin mereka tidak akan tertib melakukan physical distancing! Pesan mencekam yang beredar di WA itu tak ayal membuat was-was. Hingga Kepala Lapas Batu sekaligus Koordinator Lapas se- Nusakambangan Erwedi Supriyatno menyayangkan pesan itu. (Kompas.com 08/04/2020)

Mencermati keresahan masyarakat tentu hal wajar, karena di berbagai daerah banyak napi berulah beringas lagi. Seperti yang terjadi di Jawa Timur ini. Baru beberapa hari menghirup udara bebas program asimilasi dan integrasi, Residivis berulah lagi! Kapolsek Tegalsari Kompol Argya Satriya Bhawana mengatakan dua residivis ini ditangkap setelah bersama dua temannya melakukan penjambretan. Keduanya adalah napi yang baru keluar tanggal 03 April 2020 dari Lapas Lamongan. Dua orang lainnya berhasil melarikan diri kini berstatus DPO. (m.detik.com, 11/04/2020)

Mengapa penguasa negeri ini melepaskan napi dari lapas? Setelah dicari penyebabnya ternyata kebijakan yang dikeluarkan untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19. Selain itu juga untuk menghemat dana ratusan milyar.

Diri ini jadi bertanya-tanya benarkah pelepasan napi dari lapas menyelesaikan masalah? Kalau dilihat dari penyebaran Covid-19 pada orang-orang yang berkerumun, memang iya mereka berpotensi. Tapi jika penghuni lapas di atur dan tidak terlalu padat penghuninya, potensi penularan itu bisa dihindari.

Jadi, mengapa penghuni lapas itu padat sekali? Sebanyak apakah pelaku kriminal itu beraksi? Sehingga lapas begitu padat penghuni? Hingga maaf sangat tak manusiawi untuk yang namanya tempat pembinaan dan rehabilitasi.

Wajar juga kejahatan begitu merajalela. Bahkan yang keluar lebih piawai kejahatannya selepas dari lapas. Setelah kita detili ternyata perangkat hukum yang diterapkan negeri ini tidak berasal dari Illahi Rabbi. Hukum ini hanyalah buatan manusia. Warisan Belanda dan penjajah lainnya. Sehingga tak kan pernah menyelesaikan persoalan kriminalitas yang terjadi. Pembunuh, pencuri, pembegal, penipu, perampok, koruptor semua diganjar mendekam di lapas. Hanya waktunya saja yang bervariasi tergantung sejauhmana tingkat kejahatannya.

Pantas tak pernah memberi efek jera ataupun pencegah agar yang lainnya tak melakukannya. Mengapa negeri ini mau saja mewarisi aturan “penjajah”? Setelah penjajahan fisik berakhir dan berlangsung penjajahan nonfisik, maka kita dipaksa untuk menerapkan sistem demokrasi yang didiktekan penjajah.

Demokrasi lahir dari ideologi sekularisme batil. Sehingga semua yang lahir darinya hanyalah kebatilan. Termasuk hukuman bagi pelanggar hukum. Pantas ya semua solusi untuk persoalan termasuk wabah Covid-19 ini kemudian melahirkan masalah pelik.

Seandainya negeri ini mau berlepas dari sistem demokrasi yang fasad ini, tentu kita dapat menyelesaikan semua persoalan negeri ini secara tuntas. Apalagi Rasulullah Saw adalah teladan kita. Beliau telah mencontohkan sebuah sistem pemerintahan yang mampu menjawab semua. Karena pondasinya adalah ideologi Islam yang mulia. Hukum- hukum yang diterapkan telah terbukti sebagai zawajir (pencegah) dan jawabir (penebus dosa bagi pelaku).

Hukuman bagi pencuri dipotong tangannya. Asyariqu wasyariqatu faqthau aidiyahuma. “Laki-laki dan perempuan yang mencuri potonglah kedua tangannya.” Hukuman bagi pembunuh adalah qishash. Pezina yang sudah menikah, baik laki-laki maupun pezina perempuan maka rajamlah. Bagi pezina yang ghairu muhshan (belum menikah) dijilid 100 kali dera dan di asingkan. Dan masih banyak perintah syara untuk mengatasi kriminalitas.

Ketika aturan Allah diterapkan maka dijamin menyelesaikan persoalan manusia secara tuntas. Dan karakter hukum Islam adalah jika satu aturan diterapkan maka semua aspek lainnya dijamin terjaga. Pencuri yang dipotong tangannya tak hanya membuat jera bagi pelaku, tetapi mencegah yang lainnya melakukannya. Bahkan dosa pelaku telah terhapuskan begitu ditunaikan di dunia.

Tentu alangkah ruginya manusia jika tak mau menerapkannya. Karena kehidupan aman, tentram, bahagia dunia dan akhirat akan diraihnya. Bahkan berkah langit dan bumi akan tercurah, sebagaimana firman Allah dalam QS Al A’raaf : 96.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” Semoga sistem Islam kaffah dalam khilafah segera tegak di bumi ini agar semua persoalan dapat diselesaikan secara tuntas. Wallahu a’lam bishawab.[]

1. https://regional.kompas.com/read/2020/04/08/17084821/beredar-pesan-berantai-soal-pembebasan-napi-nusakambangan-kalapas-jangan?page=2

2. https://m.detik.com/news/berita-jawa-timur/d-4973428/baru-bebas-ikut-program-asimilasi-dua-bandit-terpaksa-ditembak-kakinya?utm_source=copy_url&utm_campaign=detikcomsocmed&utm_medium=btn&utm_content=news

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *