Digerogoti LGBT, Apa Sebab?

Digerogoti LGBT, Apa Sebab?

Perilaku LGBT tumbuh subur dalam iklim kehidupan sekuler liberal karena dianggap sebagai sebuah kebebasan dalam memilih orientasi seksual yang disukai. Jauhnya nilai-nilai agama dari kehidupan serta tidak adanya sanksi tegas dari negara ikut memperpanjang rantai penularannya.


Oleh: Ummu Abdullah

POJOKOPINI.COM — Keberadaan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) yang muncul di lingkungan TNI dan Polri disinggung pertama kali oleh Ketua Kamar Militer Mahkamah Agung (MA) Mayor Jenderal (Purn) Burhan Dahlan (cnnindonesia.com, 22/10/20).

Jubir MA Hakim Agung Andi Samsan Nganro memberikan keterangan tertulis bahwa sebanyak enam belas perkara sudah diputus di tingkat kasasi dan semuanya dipecat. Selain dipecat karena berperilaku homoseksual, mereka juga diberikan hukuman penjara karena melanggar Surat Telegram (ST) Panglima TNI tentang Larangan terhadap Prajurit TNI dan PNS serta keluarganya untuk tidak melakukan hubungan sesama jenis. Telegram serupa juga dikeluarkan KSAD Nomor ST/2694/2019 tanggal 5 September 2019 tentang penerapan hukum secara tegas, terukur, proporsional kepada oknum Prajurit dan PNS TNI AD yang terlibat kasus hubungan sesama jenis (news.detik.com, 21/10/20).

Keputusan pemecatan terhadap pelaku gay di tubuh TNI Polri pun menuai kecaman. Salah satunya dari lembaga Amnesty International Indonesia. “Putusan ini sangat tidak adil dan harus dibatalkan. Bagaimanapun setiap warga negara, setiap orang, tidak boleh ada yang dihukum hanya karena orientasi seksual mereka,” ujar Usman Hamid Direktur Eksekutif Amnesty International Indonesia. Menurutnya, Indonesia sudah selayaknya mengikuti langkah sejumlah negara maju yang membolehkan gay masuk militer dan penilaian harus dari hal objektif seperti pendidikan (bbc.com, 22/10/20).

Berbeda dengan Majelis Pengadilan Militer Denpasar yang mengapresiasi tindakan pemecatan terhadap perwira TNI Polri. Letkol Ronny Suryandoko SIP SH MHan yang mengatakan pelaku yang melakukan perilaku seks yang menyimpang dengan sesama jenis dan terlibat komunitas LGBT seharusnya dapat menjadi contoh bagi masyarakat di lingkungannya dalam menaati aturan hukum. Apa yang dilakukan para pelaku sudah melanggar aturan perundang-undangan maupun ketentuan agama sehingga harus ditindak tegas (news.detik.com, 21/10/20).

Perilaku LGBT dapat menyebabkan penyakit HIV/AIDS. Perilaku ini awalnya menjangkiti pria dengan gaya hidup homoseksual yang ditularkan pada pria lain yang awalnya berorientasi seks heteroseksual. Parahnya lagi, penyakit ini bisa ditularkan kepada pihak lain yang tidak terlibat secara langsung dengan perilaku LGBT. Tak hanya HIV/AIDS, penyakit seperti Sifilis, Gonorrhea, Uretritis dan Klamidia Nonspesifik Nongonococcal, Herpes Genital dan Hepatitis B merupakan beberapa penyakit yang bisa disebabkan oleh perilaku LGBT.

Perilaku LGBT tumbuh subur dalam iklim kehidupan sekuler liberal karena dianggap sebagai sebuah kebebasan dalam memilih orientasi seksual yang disukai. Jauhnya nilai-nilai agama dari kehidupan serta tidak adanya sanksi tegas dari negara ikut memperpanjang rantai penularannya.

Allah SWT telah memberikan aturan mulai tindakan pencegahan hingga sanksi terkait perilaku LGBT. Mulai dari peran orangtua dalam memberikan pendidikan seks kepada anak sesuai jenis kelamin seperti menjelaskan perbedaan aurat laki-laki dan perempuan dan memberikan pakaian serta mainan sesuai jenis kelamin. Islam juga memerintahkan agar orangtua memisahkan tempat tidur anak baik yang berlainan jenis maupun yang sejenis. Seperti dalam hadis berikut:
مُرُوا أَوْلاَدَكُم بالصَّلاَةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْع سِنِينَ وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ في المَضَاجِعِ
Perintahkanlah anak-anak kalian shalat ketika usia mereka tujuh tahun, pukulah mereka karena (meninggalkan)nya saat berusia sepuluh tahun, dan pisahkan mereka di tempat tidur” (HR. Abu Daud).

Sebagai tindakan kuratif, Islam memberikan sanksi tegas kepada pelakunya yaitu hukuman mati bagi pelaku liwath (sodomi) sebagaimana diriwayatkan dari ‘Ikrimah dari Ibnu ‘Abbâs ra berkata, Rasulullah Saw bersabda, “Barang siapa yang kalian ketahui telah berbuat liwath (perbuatan kaum luth), maka bunuhlah kedua pelakunya, baik pelaku itu sendiri maupun partnernya.” (HR. Al-Khamsah kecuali Nasa’i).

Para sahabat juga pernah membahas hal ini, sebagaimana diriwayatkan dari Abu Bakar ra bahwa beliau pernah mengumpulkan para sahabat Rasul untuk membahas kasus liwath. Di antara para sahabat Rasul itu yang paling keras pendapatnya adalah Ali ra. Ia mengatakan: “Liwath adalah perbuatan dosa yang belum pernah dikerjakan oleh para umat kecuali oleh satu umat (umat Luth) sebagaimana telah kalian ketahui. Dengan demikian, aku punya pendapat bahwa pelaku liwath harus dibakar dengan api.

Hal ini bukan diskriminasi dan pelanggaran HAM, namun ketika perilaku LGBT dibiarkan hanya akan membuat kerusakan lebih luas lagi. Hal ini disebutkan dalam Al-Qur’an pada Surat Al A’raaf ayat 80-84 yang menceritakan kisah Nabi Luth As yang berakhir kepada pembinasaan Kaum Sodom:
وَلُوطًا إِذْ قَالَ لِقَوْمِهِ أَتَأْتُونَ الْفَاحِشَةَ مَا سَبَقَكُمْ بِهَا مِنْ أَحَدٍ مِنَ الْعَالَمِينَ (٨٠) إِنَّكُمْ لَتَأْتُونَ الرِّجَالَ شَهْوَةً مِنْ دُونِ النِّسَاءِ بَلْ أَنْتُمْ قَوْمٌ مُسْرِفُونَ (٨١) وَمَا كَانَ جَوَابَ قَوْمِهِ إِلا أَنْ قَالُوا أَخْرِجُوهُمْ مِنْ قَرْيَتِكُمْ إِنَّهُمْ أُنَاسٌ يَتَطَهَّرُونَ (٨٢) فَأَنْجَيْنَاهُ وَأَهْلَهُ إِلا امْرَأَتَهُ كَانَتْ مِنَ الْغَابِرِينَ (٨٣) وَأَمْطَرْنَا عَلَيْهِمْ مَطَرًا فَانْظُرْ كَيْفَ كَانَ عَاقِبَةُ الْمُجْرِمِينَ (٨٤

  1. Dan (Kami juga telah mengutus) Luth, ketika dia berkata kepada kaumnya, “Mengapa kamu melakukan perbuatan keji, yang belum pernah dilakukan oleh seorang pun sebelum kamu (di dunia ini).
  2. Sungguh, kamu telah melampiaskan syahwatmu kepada sesama lelaki bukan kepada perempuan. Kamu benar-benar kaum yang melampaui batas.”
  3. Dan jawaban kaumnya tidak lain hanya berkata, “Usirlah mereka (Luth dan pengikutnya) dari negerimu ini, mereka adalah orang yang menganggap dirinya suci.”
  4. Kemudian Kami selamatkan dia dan pengikutnya kecuali istrinya. Dia (istrinya) termasuk orang-orang yang tertinggal (dibinasakan).
  5. Dan Kami hujani mereka dengan hujan (batu). Maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang yang berbuat dosa itu.

Suatu tindakan dosa akan mendatangkan musibah dan azab di suatu negeri yang tidak hanya menimpa yang berdosa saja tetapi juga mengenai pada mereka yang beriman, sebagaimana telah diriwayatkan dalam Shahih Muslim:
عَنْ زَيْنَبَ بِنْتِ جَحْشٍ أَنَّهَا سَأَلَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَتْ لَهُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَنَهْلِكُ وفينا الصَّالِحُونَ؟ قَالَ: (نَعَمْ إِذَا كَثُرَ الْخَبَثُ”.
Dari Zainab binti Jahsy bahwasanya ia bertanya kepada Rasulullah Saw, “Wahai Rasulullah, apakah kami akan dibinasakan padahal ada orang-orang shalih di tengah kami?” Beliau menjawab, “Ya, bila keburukan telah demikian banyak.” Wallahu a’lam.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *