Dilema Pedagang Bertaruh Nyawa dalam Pengurusan Buruk Sistem Kapitalisme

Dilema Pedagang Bertaruh Nyawa dalam Pengurusan Buruk Sistem Kapitalisme

Jadi negara harus mampu menjamin terjaganya nyawa rakyat termasuk pedagang, selamat kesehatannya. Namun di sisi lain, negara juga wajib menjamin rakyat untuk tetap bisa terpenuhi kebutuhan dasarnya (hajatul asasi) seperti makan dan tempat tinggal.


Oleh: Ummu Farhan

POJOKOPINI.COM — Perut Kenyang tapi terancam mati terpapar virus, atau mati kelaparan di rumah karena tak bekerja. Agaknya itulah dilema pedagang hari ini. Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKPPI) mencatat sebanyak 529 pedagang positif corona (Covid-19) di Indonesia, 29 di antaranya meninggal dunia (Okezone.com, 13/6/2020). Disinyalir virus merebak tersebab para pedagang tak patuhi protokol kesehatan dan edukasi minimalis, hal itu diperparah dengan cara yang tak persuasif membuat masyarakat enggan bahkan sampai mengusir petugas yang hendak melakukan tes terhadap pedagang dan pengunjung pasar (Kumparan.com, 11/6/2020).

Dewan Pakar Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat, Hermawan Saputra mengingatkan bahwa penanganan pasar berbeda dengan tempat lainnya dalam mencegah penyebaran virus corona (Covid-19. Pasar mempunyai karakter yang berbeda dalam memastikan penerapan protokol kesehatan. Pasalnya, aktivitas di pasar tidak hanya dari manusia ke manusia melainkan melibatkan barang dan uang (Okezone.com, 14/6/2020). Rumitnya pengaturan di pasar menyebabkan interaksi manusia yang terjadi meniscayakan pelibatan negara dalam melindungi masyarakat. Para pedagang dan pembeli di pasar takkan mampu menjalankan roda ekonomi tanpa resiko terpapar virus jika negara tak hadir untuk mem-back up.

Meski begitu hal ini agaknya justru menegaskan bahwa pemerintah tak cukup menyediakan sarana tes, dan lemah dalam edukasi mengimbau masyarakat khususnya pedagang agar mematuhi protokol kesehatan. Selayaknya pemerintah melakukan pendekatan yang persuasif agar secara sadar masyarakat melakukan protokol kesehatan dengan sempurna. Hal itu dilakukan oleh para pedagang tanpa terbebani target kebutuhan hidup yang mendesak.

Sehingga di sisi lain juga negara selayaknya hadir memberi jaminan pemenuhan kebutuhan agar rakyat tidak memaksakan untuk berjualan yang berisiko besar terhadap sebaran virus. Saat semua itu sudah terpenuhi, kemudian diberlakukan sanksi tegas yang dijalankan oleh aparat terhadap masyarakat yang enggan mematuhi protokol kesehatan. Namun sekali lagi, hal itu dilakukan saat semua tahapan sempurna.

Jadi negara harus mampu menjamin terjaganya nyawa rakyat termasuk pedagang, selamat kesehatannya. Namun di sisi lain, negara juga wajib menjamin rakyat untuk tetap bisa terpenuhi kebutuhan dasarnya (hajatul asasi) seperti makan dan tempat tinggal.

Namun sungguh hal itu mustahil dilakukan dalam iklim hidup di bawah naungan sistem kapitalisme sekuler yang saat ini dipakai untuk mengatur manusia. Sistem ini menjadikan ekonomi sebagai prioritas untuk terus dihidupkan dan meletakkan urusan keselamatan dari terpapar virus kepada pundak setiap individu rakyat. Sistem ini juga takkan mempedulikan hajatul asasi rakyat untuk dipenuhi sebagaimana titah sistem Islam dalam Qur’an dan Sunnah.

Kejam, meski tak secara blak-blakan para penguasa negeri-negeri dalam sistem kapitalisme di seluruh dunia mengakui, agaknya mereka menjadikan herd immunity sebagai pilihan untuk menghadapi pandemi. Sederhananya, Anda mau hidup, maka Anda harus bekerja dengan imunitas tubuh yang kuat. Jika Anda tak mau mati terkena Covid19 di luar rumah, maka matilah di rumah-rumah Anda karena kemiskinan.

Sistem Islam, Mendesak untuk Ditegakkan

Alhasil, disadari atau tidak, keberadan sistem Islam untuk menyelamatkan peradaban manusia merupakan perkara yang sangat mendesak. Jika kapitalisme menjadikan kebijakan tambal sulam yang memunculkan masalah di atas masalah sebagai solusi racunnya, maka Islam telah sangat siap dengan sistem kompehensif dan dinamisasinya  untuk menyejahterakan manusia di dunia, termasuk menjamin hidup para pedagang.

….Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. Dia menerangkan yang sebenarnya dan Dia pemberi keputusan yang paling baik.” (QS. Al-An’am: 57)[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *