Dilema Rakyat: Butuh, namun tak Mampu!

Dilema Rakyat: Butuh, namun tak Mampu!

Pilih makan atau masker untuk meneruskan hidup? Karena jika tidak makan mereka kelaparan dan tidak memakai masker bisa saja mereka tertular. Bukankah dua-duanya dapat menyebabkan kematian?


Oleh: Yeni Ummu Athifa (Pemerhati Masalah Sosial Keumatan)

POJOKOPINI.COM — Bagaikan makan buah simalakama, dimakan mati ibu, tak dimakan mati ayah. Masyarakat saat ini dihadapkan pada situasi yang pelik, kala wabah Covid-19 makin mengkhawatirkan karena kasusnya semakin meningkat baik ODP, PDP hingga kasus yang meninggal dunia.

Ditambah dengan adanya rekomendasi dari WHO, yang menganjurkan agar setiap orang diharuskan memakai masker sejalan dengan hasil penelitian bahwa virus penyebab covid-19 akan bertahan 8 jam di udara. Akibatnya, saat ini Pemerintah menyeru agar setiap masyarakat yang keluar rumah wajib mengenakan masker.

Namun ditegaskan bahwa penggunaan masker kesehatan/masker medis tetap diprioritaskan untuk dokter, perawat, dan petugas di rumah sakit. Sedangkan masker yang dipakai oleh masyarakat cukup masker kain. Walaupun dari segi efektivitasnya sangat kurang, pemakaian masker kain adalah pilihan akibat sulitnya mendapatkan masker kesehatan.

Menurut Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Doni Monardo mengatakan bahwa tujuan utama penggunaan masker kain bagi masyarakat yang keluar rumah adalah mengurangi risiko penularan melalui droplet atau percikan ludah yang keluar saat seseorang bersin, batuk, atau saat berbicara. Penggunaan masker juga mengurangi potensi penularan melalui sentuhan tangan ke bagian wajah, terutama hidung dan mulut. (Republika.com, 07/04/2020).

Wajar kalau masker kembali menjadi primadona. Bukan saja dari segi harganya yang mahal juga menjadi barang langka yang sulit didapat. Ketika dulu saja, awal merebak wabah Covid-19 saja harganya sudah meroket padahal saat itu masker hanya dianjurkan untuk orang yang sakit dan para medis yang berhubungan dengan pasien saja. Tentunya akan lebih di buru masyarakat dengan adanya imbauan di atas.

Bagi masyarakat sendiri, menjadi suatu dilema akibat mahalnya harga masker yang layak di pakai. Bagaimana tidak? Inginnya melindungi diri dari kemungkinan terpaparnya Covid-19 ini dengan masker yang layak. Tapi apa daya mereka tak mampu. Bukan saja karena harganya yang tak terjangkau di tengah sulitnya perekonomian hidup saat ini. Bahkan barangnya sulit di dapat. Wajar harganya melangit, bahkan mengalahkan harga bahan pokok. Padahal bahan pokok pun sangat mereka butuhkan.

Tentunya terasa berat bagi masyarakat kalangan menengah ke bawah. karena untuk memenuhi makan dengan layak saja mereka susah, boro-boro membeli masker yang layak buat di pakai saat keluar rumah. Pilih makan atau masker untuk meneruskan hidup? Karena jika tidak makan mereka kelaparan dan tidak memakai masker bisa saja mereka tertular. Bukankah dua-duanya dapat menyebabkan kematian?

Jika demikian pentingnya masker saat ini, seharusnya pemerintah jangan hanya mengimbau namun menjadi suatu kewajiban bagi negara memenuhi kebutuhan masyarakat akan masker. Bukankah menjamin kesehatan masyarakat menjadi tanggung jawab negara?

Dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia (UUD 1945) menjamin, bahwa setiap orang berhak hidup sejahtera lahir dan batin, bertempat tinggal, dan mendapatkan lingkungan hidup yang baik dan sehat serta berhak memperoleh pelayanan kesehatan. Sebagaimana Terkandung dalam UUD 45 pasal 34, berbunyi:
1) Fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara.
(2) Negara mengembangkan sistem jaminan sosial bagi seluruh rakyat dan memberdayakan masyarakat yang lemah dan tidak mampu sesuai dengan martabat kemanusiaan.
(3) Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak.
(4) Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan pasal ini diatur dalam undang-undang.

Namun sayang, tampaknya hal tersebut tak sesuai dengan realitas yang terjadi di masyarakat. Bukan menjadi rahasia lagi jika kesehatan kini menjadi barang mahal bagi sebagian masyarakat utamanya masyarakat menengah ke bawah. Seakan penguasa terkesan berlepas tangan terhadap masalah ini.

Tidaklah demikian jika negara menjalankan sistem Islam, karena pemenuhan hidup rakyat merupakan hak rakyat dan kewajiban negara untuk mencukupinya. Tidak saja pangan dan sandang termasuk di dalamnya pendidikan, kesehatan dan keamanan bahkan akan menjaga akal rakyatnya.

Dalam hal kesehatan, Islam telah mencontohkan bahwa pelayanan untuk masyarakat haruslah terbaik, berkualitas bahkan diberikan secara Cuma-cuma dan berkesinambungan. Apatah yang urgen seperti penyediaan masker seperti saat ini, tentulah pemerintah akan serta merta memenuhinya degan berbagai upaya.

Semua ini merupakan wujud peri’ayahan (pengurusan) masyarakat oleh negara yang hakiki. Pemimpin akan melaksanakan kewajibannya dengan rasa tanggung jawab. Karena takutnya akan Allah Ta’ala. Sesuai Sabda Rasulullah SAW, “Imam (Khalifah) yang menjadi pemimpin manusia, adalah (laksana) penggembala. Dan hanya dialah yang bertanggungjawab terhadap (urusan) rakyatnya.” (HR Al- Bukhari). WallahuA’lam Bi Shawwab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *