Diskusi Muslimah Nusantara: Gambaran Keterpurukan dan Solusinya

Realita ini sesungguhnya mengarahkan kita untuk menyimpulkan bahwa sistem buatan manusia yang berjalan di berbagai negeri nyata menghasilkan kerusakan, kesengsaraan, juga melahirkan orang-orang yang tidak ada rasa kemanusiaan karena di tengah bencana mereka malah memanipulasi penderitaan dan merampas hak rakyat untuk mendapatkan bantuan.”


POJOKOPINI.COM — “Kondisi kaum Muslimah di Nusantara terutama di Indonesia dan Malaysia, mendapati berbagai kesulitan hidup terutama dalam masa pandemi covid19. Mereka tetap dalam kondisi tak leluasa memenuhi kebutuhan ekonomi, pada saat yang sama negara tidak memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan dasar. Hidup semakin sempit, banyak pengangguran, ada kebangkrutan,” ujar Iffah Ainur Rochmah kepada POJOKOPINI.COM setelah mengisi forum diskusi virtual Muslimah Nusantara bertema “Muslimah Nusantara Rindu Khilafah” yang diadakan Jumat (25/12/2020).

Iffah juga mengungkap angka kemiskinan yang terus meningkat memperberat kondisi rakyat. Demikian juga dia ungkapkan aspek lain yaitu dampak sosial, misalnya terkait pembelajaran jarak jauh (PJJ) antara di Nusantara khususnya Indonesia dan Malaysia yang kurang lebih sama, “Kalau di Malaysia disebut Miskin Digital, di Indonesia kita menyebutkan tidak ada keadilan kuota dan sinyal yang tak merata. Karenanya kebijakan pemerintah untuk memberikan subsidi berupa kuota tidak terlalu banyak memberikan dampak atau penyelesaian atas problem yang ada.

Bagamanapun, menurut Iffah, untuk efektif belajar, generasi tak hanya membutuhkan kuota, tapi juga sinyal, device (red. alat), dan tempat yang kondusif karena dukungan orang tua dan lingkungan tak didapatkan.

Pada kesempatan itu, Iffah juga mengungkap dampak sosial yang terjadi di tengah-tengah masyarakat saat ini, “Kekerasan dalam rumah tangga yang dialami oleh Muslimah di Malaysia dan Indonesia itu hampir sama, yaitu kasus-kasus kekerasan yang semakin meningkat. Kita tentu saja bisa memprediksikan hal itu sejak awal karena kebijakan-kebijakan yang ada itu sudah jelas menimbulkan tekanan lebih berat.”

Iffah menjelaskan, pada saat tekanan itu lebih berat, yaitu tekanan ekonomi dan sosial, ditambah lagi dalam masa pandemi, benteng rumah tangga pun runtuh sama terjadi di dua negara bertetangga ini. “Orang tak leluasa ke luar rumah, bahkan ada yang menyebut dari hari ke hari, dari jam ke jam yang ditemukan adalah orang yang sama yaitu partner yang tidak bisa memberikan ketenangan, tidak bisa menginspirasi, tidak bisa menjadi sahabat. Bahkan harus terbebani dengan anak-anak yang pembelajaran jarak jauh, belum tentu semua orang tua punya kemampuan untuk mengajari anaknya. Akhirnya ada banyak sekali kasus-kasus kekerasan yang muncul setelah PSBB atau lockdown (di Malaysia) sebagai kebijakan untuk merespons wabah ini.”

Iffah juga menyoroti kasus korupsi di dua negara yang menurutnya sama, “Sepanjang pandemi ini semakin banyak yang terungkap ke publik. Hampir di semua belahan dunia, kasus korupsi itu semakin banyak dan salah satu indikatornya adalah apa yang terungkap ke publik oleh lembaga anti rasuah. Ini hanya fenomena gunung es ya, yang terungkap ke publik itu belum merepresentasikan banyaknya kasus-kasus korupsi.”

Dampak yang lebih besar lagi, lanjut Iffah, tentu saja adalah dampak kesehatan yang tak bisa dielakkan, artinya ada korban berjatuhan yang tidak segera diambil kebijakan tepat untuk membuat semakin banyak nyawa bisa diselamatkan. Semakin banyak penderitaan yang dialami oleh rakyat.

Iffah juga mengungkap potensi kapitalisasi penyakit dan hajat hidup publik yaitu obat yang peluangnya terbuka dalam masa pandemi ini.

Solusi Hakiki dan Keyakinan yang Pasti

Realita ini sesungguhnya mengarahkan kita untuk menyimpulkan bahwa sistem buatan manusia yang berjalan di berbagai negeri nyata menghasilkan kerusakan, kesengsaraan, juga melahirkan orang-orang yang tidak ada rasa kemanusiaan karena di tengah bencana mereka malah memanipulasi penderitaan dan merampas hak rakyat untuk mendapatkan bantuan,” ungkap Iffah.

Manusia itu, menurut Iffah Ainur Rochmah, memang tidak akan pernah lepas dari kepentingan diri, kelompok, dan pandangannya yang parsial dan lemah untuk melihat hakikat persoalan. Karenanya kalau hukum buatan manusia ini masih tetap dijadikan sandaran maka kita akan menyaksikan lebih banyak lagi penderitaan dan kesengsaraan, bahkan pelanggaran terhadap hukum Allah.

Iffah lalu menjelaskan bahwa sekalipun didapatkan maslahat dalam penerapan hukum buatan manusia, tetap ada kewajiban dari Allah bagi setiap Muslim untuk menerapkan hukum yang bersumber dari Allah karena itu adalah hal yang menjadi konsekuensi dari keimanan. Apalagi saat ini kita sudah menyaksikan dari seluruh aspek bahwa sistem kapitalisme demokrasi nyata tidak mampu mewujudkan tujuan bernegara, nyata tidak mengakomodir apa yang diharapkan oleh publik Muslim di berbagai negara.

Covid19 ini Allah turunkan untuk menyadarkan manusia bahwa mereka tidak layak untuk terus melanjutkan praktik sistem buatan manusia baik ideologi kapitalisme ataupun pilihan politik demokrasi yang dianggap sebangun dengan sistem kapitalisme. Oleh itu dibutuhkan sistem buatan Allah untuk mengatur seluruh aspek kehidupan, itu tidak lain adalah Khilafah,” tambahnya.

Iffah menutup dengan menyakinkan bahwa setiap Muslim harus berpegang teguh kepada akidahnya untuk menjalankan seluruh ketaatan kepada syariat allah. Salah satunya adalah dengan benar-benar meneliti apa yang dituntunkan Rasulullah untuk membangun sebuah sistem Islam yang membawa kepada jalan kebangkitan yang sebenarnya yaitu dengan Khilafah Islamiyah.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *