Dua Perisai Harus Ada

Dua Perisai Harus Ada

Oleh : Mulyaningsih, S. Pt
Pemerhati masalah anak, remaja dan keluarga
Anggota Akademi Menulis Kreatif (AMK) Kalsel

WWW.POJOKOPINI.COM — Menteri Agama Fachrul Razi meminta agar seluruh tokoh dan umat beragama di Indonesia untuk menahan diri dan tak bersikap emosional menyikapi insiden bentrok antara umat Hindu dan Muslim di India beberapa hari terakhir.

“Kepada semua tokoh dan umat beragama, baik di India maupun di Indonesia, Menag berpesan untuk menahan diri dan tidak terpancing melakukan tindakan emosional,” kata Fachrul dalam keterangan resminya, Jumat (28/2).

Lebih lanjut (Fachrul) prihatin dan mengecam keras peristiwa kekerasan atas nama agama di India tersebut. Ia berharap agar seluruh umat beragama di Indonesia mengambil pelajaran dari konflik di India. Hal itu bertujuan agar semua tindak kekerasan atas nama agama tak terjadi di Indonesia. Selain itu, tindakan kekerasan oleh sekelompok umat Hindu di India dipastikan tidak menggambarkan ajaran agamanya. Ia menduga, hal itu dilakukan karena adanya pemahaman ekstrem sebagian umat Hindu atas ajaran agamanya.

Menurutnya, ajaran agama manapun tak membenarkan pengikutnya untuk bertindak menggunakan kekerasan. Ia menyatakan semua agama pasti mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan dalam kehidupan.

UU Kewarganegaraan di India menjadi kontroversial karena mengizinkan pemerintah setempat memberi status kewarganegaraan terhadap imigran yang menerima persekusi di negara asalnya seperti Bangladesh, Pakistan, dan Afghanistan. Akan tetapi, status kewarganegaraan itu hanya diberikan kepada imigran pemeluk agama Hindu, Kristen, dan agama minoritas lainnya selain Islam. Akibat kontroversi tersebut, karena UU itu dianggap mendiskriminasi umat Islam. Tercatat sebanyak 27 orang dilaporkan meninggal dunia dan lebih dari 200 orang terluka. (cnnindonesia.com, 29/02/2020)

Kejadian yang menimpa saudara kita muslim India adalah salah satu rentetan dari berbagai kejadian yang telah menimpa kaum Muslim. Uighur, Ghouta, Palestina, dan yang lainnya sering kali menangis, namun tak ada satu negara-pun yang turut andil perihal membantu mereka. Begitu pula dengan saudara kita Rohingya pun merintih dan meminta pertolongan. Namun yang terjadi dunia tetap diam membisu tak ada suara atau tindakan yang segera dilakukan oleh para penguasa kaum muslim. Mana para penggiat HAM itu? Nyaris hilang ditelah bumi. Ketika kaum Muslim yang menjadi korban maka suara mereka tidak ada. Tak adakah secuil perasaan kemanusiaan dalam diri mereka? Mungkin itulah rentetan pertanyaan yang akhirnya menghiasi benak kita.

Pandangan Islam


Islam adalah agama yang diturunkan Allah Swt. kepada Nabi Muhammad saw. lewat perantara malaikat Jibril. Sempurna dan paripurna, itulah adanya. Tak hanya mengatur masalah ibadah manusia dengan Rabb-nya saja, namun semua lini kehidupan manusia ada aturannya.

Terkait dengan kasus di atas, maka Al Qur’an dan Hadist telah jelas menerangkan. Hal tersebut tercantum dalam beberapa surat. Sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al Maidah ayat 32 dan An-Nisa ayat 93.

“Barangsiapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena orang itu (membunuh) orang lain, atau bukan karena membuat kerusakan di muka bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh manusia seluruhnya.” (TQS. Al-Maidah: 32).
“Dan barang siapa yang membunuh seorang mu’min dengan sengaja maka balasannya ialah jahannam, ia kekal di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan melaknatnya serta menyediakan azab yang besar baginya.” (TQS. An-Nisa: 93)

Kemudian Sabda Rasulullah saw., “Bagi Allah, Hancurnya bumi beserta isinya adalah lebih ringan dibanding terbunuhnya seorang muslim.”

Subhanallah, begitu mulia dan berharganya nyawa seorang muslim. Sampai-sampai Allah Swt. sendiri berkata akan memberikan azab yang sangat pedih ketika ada orang sengaja membunuh seorang muslim. Bahkan, tertuang dalam hadist Nabi yang mengatakan bahwa hancurnya dunia ini lebih ringan dari pada terbunuhnya seorang muslim. Begitu luar biasanya penjagaan Islam terhadap nyawa seorang muslim.

Ada kejadian yang terjadi ketika masa Rasulullah. Kejadian tersebut adalah tentang pembunuhan manusia. Yaitu, terbunuhnya seorang muslim di Pasar Bani Qainuqa. Pelaku pembunuhan tersebut adalah Yahudi dari Bani Qainuqa. Lelaki muslim tersebut dibunuh karena membela seorang muslimah yang dilecehkan kehormatannya. Saat itu, Rasulullah bersikap tegas. Ketegasan beliau tampak dari pemberian hukuman terhadap pelaku dan pada kelompoknya. Pelaku pembunuhan diberikan sanksi hukuman mati. Sedangkan hukuman bagi kelompoknya adalah diusir dari kota Madinah. Rasulullah melakukan hal tersebut tidak lain adalah sebagai bentuk penghargaan Islam terhadap nyawa manusia serta perlindungan kepala negara terhadap rakyatnya.

Sungguh kejadian yang seharusnya diteladani dan dillaksanakan. Selama ini kejadian yang ada bahwa kaum muslim selalu saja ditekan, ditindas, dianiaya, dan diberikan perlakuan yang tidak manusiawi. Seperti kejadian muslim di India ini ibarat ulangan dari peristiwa-peristiwa yang menimpa kaum muslim. Selalu terulang dan kembali terjadi. Itulah fakta yang harusnya membuka mata dan hati dunia. Bahwa kejadian tersebut juga bukan karena alasan sentimen antar manusia saja. Namun lebih jauh dari itu.

Kejadian akan terus terjadi dan berulang kembali manakala sistem yang diterapkan bukan berasal dari Islam. Ditambah lagi dengan tidak adanya institusi yang berdiri untuk melindungi kaum muslim. Karena sejatinya dalam Islam nyawa dan harta akan dijaga dengan sebaik-baiknya. Orang tidak boleh sembarangan dalam hal mengambil barang orang lain tanpa seizin sang pemilik. Begitu pula dengan membunuh, tidak boleh sembarangan dalam melakukannya jika tidak ada alasan yang benar.

Dua Perisai Harus Ada

Rentetan kejadian demi kejadian yang menimpa pada kaum muslim di berbagai belahan dunia ini makin menyadarkan kita bahwa umat Islam butuh dua perisai. Kedua perisai itu tidak lain adalah seorang pemimpin yang mampu melindunginya yaitu khalifah. Dan yang kedua institusi atau negara yang mampu membela, melindungi, serta menjaga mereka dari berbagai tipu daya kaum kafir.

Imam (Khalifah) itu laksana perisai, kaum Muslim diperangi (oleh kaum kafir) di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya (HR Muslim).

Adapun dengan pemimpin (Khalifah), sebagaimana dalam hadist Nabi di atas menyebutkan bahwa dia adalah sebagai perisai (junnah). Umat berperang di belakang serta berlindung dengannya. Khalifah adalah pelindung umat dari segala bahaya yang akan menimpa pada harta, jiwa, akal, kehormatan, serta agamanya. Sehingga tidak akan mungkin pembunuhan merajalela dan dibiarkan begitu saja.

Sangat jauh berbeda dengan kondisi sekarang membunuh dan menyiksa menjadi hal yang biasa. Dan hal tersebut selalu terjadi dan menimpa kepada kaum Muslim. Hal tersebut bahkan dibiarkan oleh para pemimpin Muslim. Menjadi fenomena yang biasa terjadi. Lantas masihkah kita berdiam diri serta membiarkan hal itu terjadi? Dan apakah kita tetap membisu dengan kejadian seperti ini?

Sosok pemimpin yang dicontohkan oleh Rasulullah Muhammad saw. adalah yang patut ditiru dan dilaksanakan. Melindungi, menjaga, serta meriayah rakyat menjadi kewajibannya yang harus ia lakukan. Karena kelak di Yaumil Akhir akan dimintai pertanggungjawabannya. Semua itu dapat terwujud jika manusia mau menerapkan syariah Islam secara kaffah (menyeluruh). Tentu dengan adanya bingkai atau institusi yang mau menerapkan syariah tersebut secara sempurna. Akhir kata, marilah melangkah bersama, satukan tujuan (berjuang bersama) untuk mewujudkannya. Agar dua perisai itu kembali ada dan nyata. Sehingga kehormatan dan nyawa kaum muslim dapat terjaga serta kejadian genosida tidak akan pernah terulang kembali. Wallahu A’lam.[ ]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *