Dua Ribu Dua Tiga, Dimana Fokus Kita?

Kita semua sepakat bahwa dunia tak baik-baik saja. Sistem kerja peradaban yang memisahkan peran agama dari kehidupan jadi biangnya. Ada pengkondisian sistemik yang membuat berbagai macam kekacauan, kerusuhan, ketidakadilan, penindasan, kesenjangan hidup, kelaparan, kesedihan, kepahitan sebab labirin kemaksiatan yang seolah tiada ujungnya.


Oleh: Ummu Zhafira (Ibu Pembelajar)

POJOKOPINI.COM — Tahun 2023 di depan mata. Minggu keduanya telah kita lalui bersama. Beragam spekulasi mewarnai, tentang resesi, banyaknya bencana baik bencana alam, sosial dan lain sebagainya. Tapi sebagai muslim tentu saja kita harus menyikapi waktu dengan benar. Pergantian tahun semestinya menjadi bahan muhasabah kita. Harus ada banyak hal yang perlu kita hisab dari diri kita, direnungkan, lalu kita cari formula terbaik agar kita menjadi mukmin yang beruntung sebab ada pertumbuhan dari hari ke hari, menjadi lebih baik dalam segala aspek kehidupan, utamanya dalam hal mengemban amanah yang telah Allah bebankan.

Ada yang telah menyusun resolusi untuk tahun yang diramalkan bakal penuh kegelapan. Apa saja upaya yang sudah atau akan disiapkan dalam menghadapi kondisi seperti itu? Kita seringkali pandai menuliskan mimpi-mimpi besar tapi lupa mencari tahu bagaimana cara bekerja keras dan cerdas yang efektif dalam mewujudkannya. Masih ingat bagaimana sindiran para motivator soal resolusi? Resolusi kita tahun per tahun tetap sama, tak banyak perubahan. Lantas bagaimana bisa kita mewujudkan perubahan peradaban jika kita selalu bekerja dengan pola yang sama tanpa mau peduli untuk berupaya mencari wasilah lain yang lebih baik, lebih efektif dalam meraih tujuan?

Kita semua sepakat bahwa dunia tak baik-baik saja. Sistem kerja peradaban yang memisahkan peran agama dari kehidupan jadi biangnya. Ada pengkondisian sistemik yang membuat berbagai macam kekacauan, kerusuhan, ketidakadilan, penindasan, kesenjangan hidup, kelaparan, kesedihan, kepahitan sebab labirin kemaksiatan yang seolah tiada ujungnya. Konsep berpikir seperti ini, tanpa sadar memola kita untuk senantiasa terpojok sebagai korban. Lantas jadi halal bagi kita untuk selalu menyalahkan keadaan.

Setiap kegagalan yang kita temukan dalam hidup, maka yang salah adalah keadaan. Wajar aku begini karena sistemnya masih seperti ini. Ketika tak ada perubahan yang berarti pada tim kerja kita, maka itu salah mereka. Kenapa tak mau berubah? Ketika anak-anak tak sesuai harapan, maka yang ada adalah kekecewaan. Tanpa kita sadari, kita lebih sering menempatakan diri sebagai korban yang kemudian menjadi alasan untuk menyalahkan. Jadi tak heran ketika kita akan selalu gagal memutus mata rantai gajah karena kita tak mau legowo mengalah, mengakui kita sebagai individu yang banyak salah, lalu mengambil tanggungjawab untuk merubah diri sehingga bisa melakukan perubahan pada peradaban busuk ini.

Betul, memang betul kita ini korban, tapi sebagai individu yang mewarisi darah perjuangan, maka tak selayaknya kita rida senantiasa berdiri di barisan para korban. Ya, kita adalah pejuang. Kita harus bisa melakukan banyak hal demi mewujudkan perubahan itu. Jangan, jangan rida dikendalikan sepenuhnya oleh pengkondisian dalam hidup kita. Itu maunya musuh-musuh kita, para pedebah pemuja dunia itu. Sehingga dari sinilah kita tanpa sadar memilih untuk menjadi pribadi yang reaktif. Fakta atau kondisi yang ada seolah menjadi beban berat yang membuat laju perubahan kita melambat bahkan stagnant, mandeg, kaku membeku.

Bukankah Allah sudah karuniakan akal kepada kita. Dia adalah bekal terbaik bagi kita, sebab kita memiliki nalar/kesadaran diri dalam menentukan banyak hal. Nalar ini jugalah yang bisa menjadikan kita memiliki kendali saat merespon pengkondisian yang ada. Ketika Allah memberikan kita sebuah kondisi, apa yang bisa kita lakukan terhadap kondisi tersebut? Marahkah, sedihkah, atau menerimakah dengan penerimaan berdasarkan syariat-Nya? Ingatkah kita pada potongan firman Allah dalam Qur’an surat Ar-Ra’d ayat 11, “Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

Hanya Allah memang yang memiliki kendali untuk mengubah keadaan. Allah yang menjanjikan kemenangan, tapi manusia diberikan kebebasan dalam menentukan langkah-langkah praktis agar kemenangan itu Allah beri. Ya, manusia harus terikat dengan sunnatullah. Kisah perjuangan baginda Rasulullah Saw. dan para sahabat menjadi bukti bagaimana mereka menegakkan tawakal. Bagaimana Rasulullah menyusun berbagai macam strategi dakwah di Mekkah, lalu merambah ke kabilah-kabilah di sekitarnya. Beliau menyusuri jalan dakwah meski dengan cacian, hinaan bahkan darah yang mengucur dari kaki mulia beliau saat orang-orang jahiliyah melempari batu. Begitu pun para sahabat, golongan terbaik yang dimiliki Islam itu melakukan berbagai macam upaya agar Risalah kenabian tersebar luas menyapu seluruh jazirah Arab. Hingga kemenangan-kemenangan itu mereka genggam, atas ijin Allah. Masyaallah.

Seandainya saja, Rasulullah Saw. dan para sahabat menjadikan kondisi kaum Quraisy jahiliyah memola perjuangan mereka, maka mustahil perjuangan itu berhasil. Tapi manusia-manusia mulia itu adalah sosok-sosok terbaik sebagai visioner sejati. Mereka memahami betul posisi mereka sebagai pelaku peradaban bukan korban peradaban. Mereka menjadi cermin bagaimana proaktivitas itu bekerja. Dari merekalah kita belajar memahami bagaimana meletakkan fokus dalam hidup. Muhammad Al Fatih dan para pendahulunya pun mewariskan itu kepada kita. Bagaimana pendahulu mereka membangun cita-cita besar dengan upaya-upaya terbaik sehingga lahirlah Muhammad Al-Fatih yang selalu proaktif dalam tugas penaklukan. Bahkan hingga di akhir-akhir perjuangannya itu, kita melihat bagaimana pola Allah memberikan pertolongan. Bukan dengan leha-leha dan terhanyut dengan pola yang dibuat musuh-musuh Allah!

Mari kita kembali pada diri dan dua ribu dua puluh tiga ini. Telah berapa lama kita hidup di dunia? Belasan tahun? Puluhan tahun? Lantas berapa lama nalar kita mulai bekerja maksimal? Juga sejak kapan Allah beri nikmat kita ini menemukan jalan mulia, yakni jalan perjuangan? Waktu. Dia bergulir melaju menyeret kita membentuk lukisan sejarah kehidupan yang akan kita pertanggungjawabkan. Waktu tak berputar kembali dari detik ke detik hingga tahun ke tahun melainkan ia terus berlari menuju akhir yang entah kapan itu terjadi. Waktu adalah karunia yang tak sepantasnya kita sia-siakan.

Imam Syafi’i mengatakan,”Waktu itu bagaikan pedang, jika engkau tidak menggunakannya dengan baik, ia akan memotongmu.” Sudahkah kita gunakan pedang waktu yang Allah beri ini dengan penuh kebaikan? Apakah hari-hari kita sudah kita isi untuk belajar bertumbuh menjadi lebih baik meski inci demi inci. Bukankah kita semua menginginkan keberuntungan dalam hidup. “Barang siapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin dialah tergolong orang yang merugi dan Barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin dialah tergolong orang yang celaka.” (HR. Al Hakim).

Fakta memang harus kita kaji tapi bukan berarti menjadi penentu dimana kita berdiri, tapi dia harus kita sikapi sebagaimana Rasulullah dan para sahabat menyikapinya. Lihatlah waktu yang sudah berlalu, kebiasaan-kebiasaan yang telah kita tinggalkan. “Siapa yang hidup di atas suatu kebiasaan, niscaya dia akan diwafatkan dengan kebiasaan tersebut.” (Ibnu Katsir). Dua ribu dua tiga adalah hari ini dan masa depan. Sudah tergambarkah dimana kita harus memusatkan fokus perhatian kita? Jika kita mengambil peran sebagai korban, sudah jelas kita akan memilih berdalih dalam setiap amanah yang menumbuhkan. Tapi jika kita mau memilih menjadi pelaku, pejuang sejati maka kita akan mengambil amanah-amanah itu dengan lapang dada, mengerahkan seluruh daya untuk inisiatif dalam shaf jamaah, rela menapaki jalan pembelajaran meski semua dibumbui dengan berbagai kesulitan.

Keyakinan penuh kita atas cita-cita besar adalah bara, yang selalu menyulutkan api perjuangan di berbagai medan. Fokus kita bukan hasil, tapi proses. Dan proses itu semua dimulai dari diri kita bukan orang lain. Sudahkah kita lebih baik dari kemarin? Sudahkah kita belajar hal-hal lain yang akan memudahkan setiap amanah dan kewajiban kita tunaikan? Tak apa, kita manusia biasa. Kita tak sempurna. Ada kalanya kita lelah, tapi jangan menyerah. Istirahatlah sejenak, charge energimu lalu kembali bergerak melaju, bertumbuh bersama waktu hingga masanya kembali, dan Allah meridai. []

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.