Duh Rohingya, Deritamu Tak Berkesudahan

Duh Rohingya, Deritamu Tak Berkesudahan

Oleh : Cut Zhiya Kelana,S. Kom

WWW.POJOKOPINI.COM — Komisi Penyelidikan Independen (ICOE) yang dibentuk pemerintah Myanmar merilis hasil penyelidikan menjelang putusan Pengadilan Tinggi PBB terkait genosida terhadap etnis Rohingya. ICOE menyatakan bahwa Myanmar tidak melakukan genosida, hanya kejahatan perang yang dilakukan oleh beberapa personel militer. Hasil penyelidikan itu mendapat kecaman keras dari kelompo-kelompok Hak Asasi Manusia. ICOE mengakui bahwa beberapa personel menggunakan kekuatan yang tidak proposional terhadap etnis Rohingya. (MoslemToday.com)

Phil Robertson dari Human Rights Watch mengatakan bahwa laporan itu tampaknya hanya mengkambinghitamkan prajurit secara individu alih-alih menempatkan tanggung jawab pada komando militer. “Seluruh penyelidikan ICOE, termasuk metodologi dan operasinya, telah jauh dari transparan.” Phil Robertson

Myanmar juga menghadapi tuntutan hukum lain atas Rohingya, termasuk penyelidikan oleh pengadilan Kriminal International, Pengadilan Kejahatan perang terpisah dan gugatan hukum di Argentina yang menuduh keterlibatan Aung San Suu Kyi.

Mengapa Myanmar menolak mengakui telah melakukan genosida terhadap etnis Rohingya menjelang keputusan pengadilan PBB? Ini membuktikan bahwa genosida terhadap etnis Rohingya di Rakhine itu benar adanya. Dan pemerintah Myanmar menutup mata akan hal itu. Mereka membiarkan para tentaranya membumi hanguskan perkampungan muslim Rohingya, memperkosa para wanitanya, membunuh anak-anaknya dengan dalih mencegah timbulnya pemberontakan. Lalu membenarkan hal ini terjadi? Seorang saksi dari wartawan BBC, melihat sendiri bagaimana kekejaman para militer itu. Ada 10.000 nyawa melayang karna dibunuh dan 700.000 warga Rohingya yang selamat melarikan diri di kamp pengungsian Banglades pada tahun 2017 lalu.

Meskipun begitu kemana para muslim Rohingya ini mengadu? Tak ada tempat yang mereka tuju, semua negara menolak kedatangan mereka, yang hanya lari menyelamatkan dirinya dan bertahan hidup. Sekalipun mereka kembali ke Myanmar, hal yang sama akan terjadi kembali.

Sebelumnya Negara Afrika Barat tepatnya negara kecil bernama Gambia, berhasil membawa kasus ini ke Mahkamah Internasional atau International Court of Justice (ICJ). Memberikan sejumlah bukti dan saksi. Tuduhan genosida terhadap pemerintahan Myanmar ini mendapat dukungan dari 57 anggota negara organisasi konferensi Islam (OKI) dan satu tim pengacara internasional, tetapi Tambadou inilah yang menjadi motor penggerak utama.

Pengadilan juga mendengar kesaksian dari perempuan yang berhasil melarikan diri dari serangan. Kesaksian ini dihadirkan di pengadilan melalui penasehat hukum untuk Gambia, Andrew Loewenstein. Bicara kepada BBC, ex Kepala Badan Kemanusiaan PBB Zeid Raad al-Hussein mengatakan Gambia telah mengajukan kasus yang kredibel tentang adanya niatan untuk melakukan genosida.

Keputusan dari PBB saja berani mereka tolak, bagaimana lagi hendak mengadili para Jendralnya di Persidangan Pengadilan Internasional (ICC) Den Haag nanti. Demokrasi tak akan mampu menyelesaikan masalah atau mencari jalan tengah untuk perdamaian ini.

Namun seperti yang diketahui bahwa tidak cukup hanya Gambia yang bergerak mengadili genosida yang terjadi pada etnis rohingya, namun semua kaum muslimin hanrus bergerak. Dan kita menyadari bahwa tidak akan pernah ada keadilan bagi kaum muslimin yang terus ditindas, dizhalimi. Yang ada adalah penebaran racun bernama “Islamophobia” dimana sebenarnya muslim menjadi korban namun dituduh menjadi teroris.

Karna ini bukan hanya masalah kemanusiaan tapi masalah yang lebih kompleks lagi yaitu ketiadaannya Islam yang Kaffah dengan Syariat sebagai penerapan hukumnya. Rohingya tanpa Islam akan terus menderita, siapa yang mampu melindungi mereka saat ini tanpa Islam. Bukankah dalam sebuah hadist dikatakan bahwa “Perumpamaan orang yang beriman bagaikan satu tubuh, bila salah satu anggota tubuhnya sakit, maka seluruh tubuh akan merasakannya” (HR. Bukhari dan Muslim). PBB yang punya kuasa saja tak berdaya di hadapan Myanmar, begitu juga negara muslim lainnya tak akan mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Myanmar.

Islam sangat memuliakan manusia, ini terbukti bahwa tiap nyawa sangat berharga untuk dilindungi. Hukuman yang masih sering kita dengar dan pernah diterapkan adalah nyawa dibayar nyawa. Bahkan membunuh bisa terbilang dosa besar.

Lalu siapa yang akan bertanggungjawab atas semua penderitaan muslim Rohingya? Tentunya semua kaum muslim. Maka sudah saatnya Islam kembali memimpin dunia, menyelesaikan semua permasalahan yang ada dengan kembali ke Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.[]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *