Duka Srebrenica, Luka Umat Islam di Bumi Balkan

Duka Srebrenica, Luka Umat Islam di Bumi Balkan

Tidak tegak dan diterapkannya hukum-hukum Allah oleh sebuah negara, merupakan bencana besar bagi umat. Maka kembalinya Khilafah, pelaksana hukum syariat Allah, sebagai kiblat peradaban adalah satu-satunya harapan agar perdamaian dunia terwujud dalam kehidupan.


Oleh: Ana Frasipa

POJOKOPINI.COM — Sejarah Balkan tak bisa dilepaskan dari sejarah Islam di Bumi Eropa. Selama 400 tahun kepemimpinan Daulah Utsmaniyah banyak warga Balkan yang sukarela menganut Islam bahkan dari warga Serbia sendiri, hingga kemudian Islam menjadi mayoritas, maka penduduk Bosnia adalah komposisi antara keturunan etnis Serbia, Kroasia dan keturunan dari Slavia Bosnia yang menganut Islam di bawah pemerintahan Khilafah Utsmaniyah di abad Pertengahan.

Islam sebagai mayoritas menyulut kecemburuan Ortodoks, Perpecahan Yugoslavia dan kemenangan referendum Bosnia Herzegovina untuk merdeka, tak diterima oleh etnis Serbia maka klimaksnya terjadilah Perang Bosnia pada kurun waktu 1992-1995. Kaum Bosniak (orang muslim Bosnia) menjadi korban. Menurut Fernando Baez, peristiwa Perang Bosnia menyebabkan 150.000 orang meninggal, 2 juta terusir dari rumahnya serta hancurnya gedung dan mesjid, perpustakaan dan semua bangunan yang menjadi jejak keberadaan Daulah Utsmaniyah di Bumi Balkan.

Perang Bosnia adalah salah satu sejarah kelam dan luka bagi kaum muslimin bahkan bagi kemanusiaan itu sendiri. Sulit membayangkan yang terjadi saat itu. Di sebuah wilayah bernama Srebrenica, puncak kebiadaban terjadi. Para muslimah yang diperkosa, bayi yang dicincang, penyiksaan pada kaum lelaki dan jenis pembantaian lain yang sungguh di luar nalar dan nurani. Dan media memberitakannya sebagai peperangan.

Kita sebagai Muslim tentu bertanya-tanya, bagaimana mungkin di jaman modern ini bahkan PBB yang melegislasi dirinya lembaga perdamaian tak mampu menyelesaikan konflik, bahkan seolah menutup mata. Apakah karena yang menjadi korban adalah Muslim. Lalu kita jadi bertanya lagi. Adakah tanah yang aman di bumi ini bagi kaum muslimin bahkan hingga kini?

Jika perang, bukankah seharusnya tidak menganiaya wanita, anak-anak, lansia, bangunan, bahkan pohon tetap punya hak untuk hidup. Rasanya tak ada yang lebih horor dan mencekam daripada ajal di depan mata namun dilalui dengan penyiksaan di luar perikemanusiaan. Terbuat dari apakah hati manusia macam itu?

Benarlah adanya, yang terjadi di Srebrenica, Bosnia memang bukanlah peperangan, namun sebuah genosida, upaya pembersihan etnis Muslim yang sistematik dan terencana. Pasukan wakil PBB hanyalah penonton, mereka hadir di sana tanpa ada peran sedikitpun, justru menambah luka dan mengonfirmasi tentang ketidakpedulian dunia sesungguhnya.

Sungguh, ini adalah potret kedengkian yang sudah mendarah daging terhadap umat Islam, bagaimana tidak, Bosnia hanya menuntut haknya untuk merdeka sesuai hasil referendum. Tapi begitulah, orang kafir tak rela melihat orang muslim hidup damai berdaulat. Pemusnahanpun jadi jalan pintas meluluhlantakan jejak peradaban Islam di Bumi Balkan.

Ketiaadan Khilafah sebagai pelindung, sebagai perisai (junnah) umat, menjadikan kaum Muslimin jadi santapan empuk orang-orang kafir. Alasan kemanusiaan tak berguna sama sekali. Hak Asasi Manusia, hak kemerdekaan setiap bangsa yang digemborkan Barat, tak lebih dari retorika pemanis liberalisme. Tak berlaku bagi kaum Muslimin. Bentuk hipokritisme yang nyata. Standar ganda politik Barat ketika berhadapan dengan Umat Islam.

Atas segala peristiwa yang menimpa kaum muslimin, kita semakin paham, sungguh tak ada bumi yang aman bagi umat bahkan seluruh makhluk untuk ditinggali. Tidak tegak dan diterapkannya hukum-hukum Allah oleh sebuah negara, merupakan bencana besar bagi umat. Maka kembalinya Khilafah, pelaksana hukum syariat Allah, sebagai kiblat peradaban adalah satu-satunya harapan agar perdamaian dunia terwujud dalam kehidupan.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *