Dunia Islam Mengecam, Omong Kosong dalam Sistem Demokrasi

Dunia Islam Mengecam, Omong Kosong dalam Sistem Demokrasi

Pernyataan sikap mengutuk dan mengecam yang ditunjukan oleh pemimpin-pemimpin negara Muslim hanyalah sebuah kemunafikan dan omong kosong ketika negara diatur dan dikendalikan oleh sistem sekuler demokrasi kapitalis.


Oleh: Sarah Ainun, M.Si

POJOKOPINI.COM — Sepanjang sejarah, penistaan agama seperti penghinaan yang ditujukan kepada baginda Rasulullah Saw, berulang-ulang kali terjadi dan akan terus dilakukan baik secara individu, kelompok bahkan level negara seperti Prancis saat ini. Sikap umat Islam dan dunia Islampun berulang kali mengutuk, mengecam pelaku penghinaan Nabi Muhammad Saw sampai tindakan boikotpun terbukti sampai saat ini tidak akan mampu menghentikan prilaku biadab yang menghina kehormatan agama dan ajaran Islam.

Itulah kenapa hal ini rasanya segaris dengan pendapat seorang pengamat dan seorang tokoh Nahdlatul Ulama pemboikotan diragukan efektivitasnya, karena tidak memberi solusi atas persoalan mendasar yang terjadi di Prancis yakni pertentangan antara nilai-nilai agama dengan sekularisme ekstrem (BBC News Indonesia, 2/03/2020).

Tindakan Prancis yang berulang-ulang melakukan penghinaan Nabi Muhammad Saw sebagai suatu sikap sinisme barat dan tindakan anti Islam. Sejak kekhilafahan Utsmaniyyah di bawah kekuasaan khalifah Abdul Hamid II (1876-1918), Prancis telah merancang drama teater bertajuk “Muhammad dan kefanatikan“, mengambil karya Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang melecehkan dan menghina Nabi Muhammad Saw.

Namun, Prancis dengan segera membatalkannya setelah khalifah Abdul Hamid II memerintahkan Prancis untuk menghentikan pementasan drama tersebut melalui dutanya di Paris. Hanya dengan mengingatkan akibat politik yang akan dihadapi Prancis, cukup membuat Barat takut dan tidak berani menghina Nabi Muhammad Saw. Barat menyadari kekuatan khalifah dan umat Islam di bawah institusi politik sistem Islam yang hanya loyal kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dan menerapkan hukum syariat secara total tidak akan segan-segan untuk menyerukan pasukan dan seluruh umat berjihad melawan negara tersebut.

Dalam sistem Islam seorang khalifah akan menjadikan syariat termasuk jihad di dalamnya sebagai hukum legal yang diterapkan bahkan menjadi puncak keilmuan yang dicita-citakan semua muslim dan merindukan syahid dijalanya. Dengan demikian syariat menjadi satu-satunya perisai yang terbukti selama kurang lebih 13 abad mampu menjaga kehormatan umat dan agama.

Tidak dengan kondisi saat ini, ketika pemimpin-pemimpin negara Muslim menanggalkan satu persatu syariat Islam yang menjadi akidah dan landasan hukum negara dan lebih memilih menjadi pemuja buta nilai-nilai sekuler yang mensucikan nilai-nilai HAM, demokrasi dan toleransi dan melahirkan paham liberalisme pemuja berbagai bentuk kebebasan tanpa batas. Maka, pernyataan sikap mengutuk dan mengecam yang ditunjukan oleh pemimpin-pemimpin negara Muslim hanyalah sebuah kemunafikan dan omong kosong ketika negara diatur dan dikendalikan oleh sistem sekuler demokrasi kapitalis.

Sejak tahun 2006 sampai saat ini media liberal seperti Charlie Hebdo telah beberapa kali menerbitkan belasan kartun yang mengejek Nabi Muhammad SAW karena meyakini kebebasan dalam dunia jurnalistik tidak memiliki batasan (Lingkarkediri, 02/11/2020). Dikutip dari CNN Indonesia, 03/11/2020 presiden Prancis Emmanuel Macron membela penerbitan kartun Nabi Muhammad oleh majalah Santire Charlie Hebdo atas nama kebebasan berpendapat. Sebelumnya insiden seorang guru sejarah Samuel Paty yang dipenggal kepalanya oleh Abdoullakh Abouyezidovitch berusia 18 tahun setelah membahas kartun Nabi Muhammad Saw di kelasnya mengundang pernyataan presiden Prancis Macron, Islam adalah “agama yang mengalami krisis di seluruh dunia”, pernyataanya ini mengundang murka umat Islam di seluruh dunia (CNN Indonesia, 03/11/2020).

Jika merunut dari kasus penghinaan kepada Nabi Muhammad Saw, bukankah ini lagu dan pemain lama dalam sistem baru? Sistem yang dirancang untuk menghalalkan perilaku mengolok-ngolok Islam dan menghina Nabi Muhammad Saw. Sistem yang melahirkan dalil freedom of speech dan freedom of expression di atas nilai-nilai agama dan syariat. Maka tidak heran jika Prancis sebagai pionir sistem demokrasi ini melahirkan pelaku-pelaku dan media-media liberal anti-Islam yang menderaskan dan mempropagandakan ajaran-ajaran agama.

Dan tidaklah kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan. Tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan- peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan” (QS. Al-Kahfi [18]: 56).[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *