Ekonomi Kapitalisme, Berimbas Kriminalitas tak Terbendung

Ekonomi Kapitalisme, Berimbas Kriminalitas tak Terbendung

Akhirnya, kriminalitas tak terbendung. Banyak yang menghalalkan segala cara dengan alasan memenuhi kebutuhan dasar mereka.


Oleh: Jumratul Sakdiah

POJOKOPINI.COM — Imbas Corona, banyak pihak yang menjadi terdampak. Jumlah pengangguran kian bertambah dan banyak perusahaan yang bangkrut hingga akhirnya memutuskan hubungan kerja dengan karyawannya (palembang.kompas.com 30/04/2020).

Ditambah lagi besarnya biaya tagihan listrik. Membuat rakyat semakin tercekik. Bahkan salah satu pemilik rumah di Medan mengaku harus membayar sampai Rp 700 ribu perbulannya, padahal rumah tersebut kosong tanpa penghuni (medan.kompas.com, 19/06/2020). Dan ini menjadikan rakyat semakin kesulitan untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya, apalagi di tengah pandemi Corona yang sampai sekarang belum juga reda.

Tindakan kriminal pun akhirnya semakin tak terkendali. “Data tingkat kriminalitas saat pandemi Corona, berdasarkan data statistik kejahatan yang dicatat oleh Polri. Pada Minggu ke-19 dan Minggu ke-20 terjadi kenaikan sebesar 7,04 persen,” kata Ahmad dalam konferensi pers di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan, Senin (18/5) (m.merdeka.com, 18/05/2020)

Melajunya gelombang PHK di tengah Corona, tak dipungkiri adanya. Karena banyak perusahaan yang mengaku tak memperoleh keuntungan dan memilih untuk gulung tikar. Walhasil, pengangguran di negeri ini semakin meningkat.

Kelangkaan pekerjaan menambah daftar sulit untuk tetap bertahan dalam kungkungan sistem ekonomi kapitalisme. Betapa tidak, negara berlepas tangan dari tanggung jawabnya mengurusi rakyat. Rakyat dibiarkan mengais sisa-sisa rupiah di tengah kejamnya peradaban ini. Kebutuhan pokok yang kian melonjak harganya ditambah dengan kesulitan memperoleh nafkah untuk tetap bertahan hidup.

Wajar ini terjadi, karena sejatinya sistem ekonomi kapitalisme, hanya menguntungkan para kapitalis. Sementara orang-orang yang tetap bekerja di bawah tekanan mereka, rela melakukan apa saja demi hanya sesuap nasi.

Akhirnya, kriminalitas tak terbendung. Banyak yang menghalalkan segala cara dengan alasan memenuhi kebutuhan dasar mereka. Di samping kurangnya ketakwaan yang seharusnya dibina oleh negara. Misalnya, suami yang tega menjual istri seharga Rp 300 ribu, karena alasan kesulitan mendapat pekerjaan sementara di sisi lain dia butuh makan (regional.kompas.com, 02/06/2020) dan tentu masih banyak fakta kejahatan lain yang semakin merajalela.

Rakyat butuh pemimpin yang pandai urus rakyatnya. Pemimpin yang tak akan biarkan rakyatnya kelaparan serta menutup peluang terjadinya kejahatan. Negara harusnya menjamin kebutuhan rakyat dan menyediakan lapangan pekerjaan untuk mereka. Bukan membiarkan mereka mengais rezeki sendiri apalagi di tengah pandemi, yang nyawa menjadi taruhannya.

Islam telah berhasil menjawab semua ini karena kehebatan sistem pemerintahan Islam yang terintegrasi didalamnya sistem ekonomi Islam. Dapat dipastikan mampu menjamin ekonomi rakyatnya. Kenapa tidak, karena dalam Islam kebutuhan pokok rakyat mendapat jaminan dari negara termasuk lapangan pekerjaan. Disamping ketakwaan individu terus dipupuk oleh negara. Sehingga kriminalitas mudah diminimalisir bahkan bisa sama sekali tidak ada. Dan ini terjadi pada masa Islam tegak dalam sebuah negara. Negara itu bernama Daulah Khilafah Islamiyah. Terbukti selama berabad-abad telah menyejahterakan manusia.

Tak ada sistem terbaik kecuali Islam. Sebuah tatanan kehidupan yang aturannya bersumber dari wahyu Allah SWT. sehingga tak ada yang meragukan kesempurnaannya. Dan sejarah telah membuktikan kegemilangan penerapannya. Dan sebentar lagi sejarah itu akan berulang, mari sama-sama menyingsing fajar kemenangan dengan tegaknya khilafah di muka bumi ini.[]

Ilustrasi: Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *