Emansipasi VS Investasi

Emansipasi VS Investasi

Mimpi, wanita mulia dengan aturan selain Islam. Islam tidak perlu emansipasi karena seorang perempuan telah diatur dan dijamin kemuliaannya oleh Sang Pencipta sesuai dengan kodratnya.


Oleh: Yeni Ummu Athifa (Institute Kajian Politik dan Perempuan)

POJOKOPINI.COM — Baru-baru ini viral di Twitter, foto seorang wanita Garda Kerajaan Arab Saudi yang berdiri di samping koleganya. Dengan mengena pakaian bermodel sama dengan pria di sebelahnya (bercelana, bedanya perempuan tetap berkerudung walaupun terlihat pendek sekadar menutupi leher).

Seakan-akan kemunculan foto ini menunjukkan kepada dunia semakin besarnya peran wanita di negara itu, mulai dari peluang kerja baru hingga kebebasan sosial yang semakin luas. Begitulah, setidaknya pesan yang ingin disampaikan dari foto dan berita yang dilansir dari media online (sindonews.com, 27/6/2020).

Sejak beberapa tahun yang lalu, kran kebebasan bagi perempuan di Arab Saudi ini mulai terbuka lebar ketika putra mahkota Arab Saudi Mohammed Bin Salman yang juga menjabat sebagai deputi Perdana Menteri, melakukan rentetan perubahan sosial dan budaya untuk menghapus citra Arab Saudi sebagai negara Kerajaan Islam ultrakonservatif.

Sehingga berbagai peraturan yang selama ini dianggap mengekang perempuan di negeri tersebut dilakukan pelonggaran. Akibat para perempuan dengan dalih emansipasi menuntut kesamaan hak dengan kaum pria di sana. Adapun macam perubahan-perubahan yang telah terlaksana antara lain; di bolehkannya para wanita untuk menghadiri perayaan-perayaan seperti perayaan hari kemerdekaan, ikut menonton bersama permainan sepak bola, menonton bioskop ataupun konser. boleh mengemudi, yang dimulai diizinkan pada 2018 lalu.

Perempuan juga punya hak atas akses pendidikan dan kesehatan tanpa izin wali laki-laki, yang didekretkan oleh kerajaan di bawah Raja Salman pada Mei 2017 lalu. perempuan kini dapat bepergian tanpa mengenakan abaya (baju gamis hitam). wanita kini bisa mendaftarkan diri di bidang militer, dengan kriteria fisik yang sesuai seperti tinggi, berat badan, dan pendidikan. Namun, perempuan masih perlu meminta izin wali laki-lakinya untuk melamar pekerjaan di bidang tersebut dan sebagainya.

Semua tindakan tersebut merupakan bagian dari program transformasi Arab Saudi yang mengacu pada visi barunya yang dinamakan “transformasi Arab Saudi menuju 2030“. Berdasarkan Visi 2030 ini, Arab Saudi berupaya meningkatkan partisipasi perempuan di pasar tenaga kerja dari 22 persen menjadi 30 persen dan mengurangi tingkat pengangguran dari 11,6 persen menjadi 7 persen.

Nyata sudah, semua ini merupakan sebuah keberhasilan dari musuh-musuh Islam, khususnya kaum feminisme. Mereka yang selama ini getol dan berusaha menyebarkan paham emansipasi/kesetaraan gender ke negeri-negeri Muslim terutama yang mereka sasar adalah negara-negara yang masih kental dengan ajaran Islamnya.

Apalagi selama ini negara Arab masih menjadi kiblat pandangan kaum muslimin, bahkan banyak yang menganggap negara Arab adalah sebagai panutan hanya karena budayanya masih kental dengan ajaran Islam, misal dari sisi pakaiannya, dibatasi ruang publik antara wanita dan pria dan sebagainya.

Pun masih ada hukum syara’ yang diberlakukan seperti potong tangan bagi pencuri atau hukum rajam/cambuk bagi penzina dan sebagainya. Padahal sistem negara nya sudah tidak berbeda dengan negara mayoritas Islam lainnya yaitu Demokrasi-Kapitalisme-Sekularisme. Wajar kalau Arab Saudi menjadi sasaran propaganda musuj-musuh Islam ( kafir barat) baik secara nyata maupun terselubung tak termasuk kaum feminisme di dalamnya.

Dan parahnya propaganda juga mereka lancarkan melalui orang Islam sendiri yang telah berhasil mereka pengaruhi sehingga menjadi kaki tangan mereka (penjajah) di negeri sendiri. Baik melalui organisasi-organisasi sosial kemasyarakatan bahkan juga melalui pemerintah sendiri dengan bermantel kerja sama. Mirisnya negara pun memanfaatkan kebebasan para wanita ini untuk meraih keuntungan dari segi ekonomi negara.

Mengapa? Karena dengan longgarnya aturan kehidupan, pemerintah Arab Saudi berharap para investor tidak ragu datang ke negara Arab sehingga berbagai investasi akan mengalir ke negeri ini. Sementara musuh Islam/negara Barat justru ini yang mereka inginkan. Mereka diterima secara terbuka dengan dalih investasi hingga mereka akan menguasai negara tanpa ada perlawanan. Padahal sejatinya, investasi dari negara musuh/kafir dalam sistem Demokrasi-Kapitalisme akan menjadikan negara terjajah.

Perempuan Mulia dengan Syariat

Sesungguhnya emansipasi tumbuh dari sistem sekuler yang memisahkan antara kehidupan dan nilai agama. Sistem yang menjadi kesenangan hidup dilihat dari sisi fisik dan nilai materi. Jadilah kebebasan sesuatu yang sangat di dambakan. Maka tak heran dalam sistem sekuler wanita akan berharga jika ia berdaya dan mampu menghasilkan nominal.

Mirisnya, dari sisi kaum Muslim/Muslimah, sadar atau pun tidak bagai di cocok hidung, termakan dengan propaganda kaum SPILIS ini, seakan membenarkan hujan-hujatan mereka. Seolah tanpa emansipasi, benar syariat mengekang dan mendiskriminatif kaum wanita.

Selain itu musuh-musuh Islam tahu pasti kehancuran peradaban Islam dimulai dari rusaknya seorang wanita. Sehingga wajar mereka menginginkan wanita menjadi pesaing bagi laki-laki dan memperebutkan kedudukan dengan kaum laki-laki. Sehingga seorang wanita akan mengabaikan kewajibannya dan lebih banyak waktu di luar rumah.

Akibatnya abailah ia sebagai seorang ibu ataupun istri, maka dampaknya akan membawa kehancuran bagi keluarganya. Suami dan anak-anak tak terurus, Anak-anak kehilangan kasih sayang, tak jarang terjerumus kepada kemaksiatan. betapa banyak keluarga berantakan karenanya.

Tragisnya, kehancuran bukan saja dialami oleh diri dan keluarganya namun lebih jauh kehancuran negara bahkan peradaban Islam didepan mata ketika para wanita melepaskan kodratnya. Tercabutlah kemuliaan dan Jadilah ia terhina sebab keluarnya dia dengan meninggalkan aturan Allah SWT atas dirinya.

Sesungguhnya tidak akan ada kehidupan yang lebih baik daripada kehidupan yang sesuai syariat. Mimpi, wanita mulia dengan aturan selain Islam. Islam tidak perlu emansipasi karena seorang perempuan telah diatur dan dijamin kemuliaannya oleh Sang Pencipta sesuai dengan kodratnya.

Allah telah menciptakan laki-laki dan perempuan dengan kelebihan dan kekurangan masing-masing untuk saling melengkapi. Sehingga Allah menurunkan aturan kehidupan bagi keduanya sesuai dengan karakteristik yang dimiliki masing-masing. Ada hak dan kewajiban yang sama untuk keduanya namun ada hak dan kewajiban yang berbeda. Firman Allah SWT,

Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat dan mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Taubah [9]: 71)

Demikian juga ukuran nilai amalan antara laki-laki dan perempuan, Allah SWT menilainya berdasarkan amalan-amalan yang telah di syariatkan bukan berdasarkan gender. Sebagaimana firman Allah taala dalam alquran,

Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.” (QS. An Nisâ [4]: 124)

Wallahu a’lam bi shawwab.[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *