Fatwa Si Jahil

Fatwa Si Jahil

Allah singkap topeng mereka lewat lidahnya yang beracun. Hingga ruh gerombolan konspirator masjid Dhirar di masa Tabuk menari-nari di tengah pandemi.


Oleh: Aisyah Karim

POJOKOPINI.COM — Hari ini terik menyengat sepanjang hari, cahayanya kemerahan tak ramah sedikitpun. Ditengah gelombang pandemi kami tak dapat berlindung di rumah, bekerja masih diwajibkan. Tidak ada maklumat PSBB atau karantina wilayah apalagi lockdown. Ketika menapak keluar dari pintu, dengan perlengkapan khas masker tiga lapis dan cairan antiseptik, beranjak layaknya menuju medan perang.

Teringat kondisi umat 14 abad lampau, ketika orang-orang dari suku Nabath yang datang membawa minyak wangi dari Syam menuju Madinah membawa kabar bahwa Heraklius telah menyiapkan bala tentara yang amat besar berkekuatan 40 ribu pasukan ahli perang. Barisan terdepan pasukan mereka telah sampai di Balqa`. Kegentingan menimpa kaum Muslimin.

Dalam kondisi yang demikian kritis, kaum munafik meniupkan propaganda tentang betapa hebatnya persiapan Romawi. Sungguh hati yang mendengki itu menanti terjadinya hal buruk yang akan menimpa kaum Muslimin. Mereka bersusah payah membangun sarang untuk menebar isu dan berkonspirasi dalam masjid yang dikenal dengan masjid Dhirar.

Mereka membangunnya atas dasar kekafiran untuk menciptakan perpecahan di hati umat.
Mereka tawarkan kepada Rasulullah SAW untuk shalat di sana, trik memperdaya umat namun Rasulullah menundanya. Hingga setelahnya dengan tangannya sendiri Rasulullah menghancurkan tempat itu.

Kala itu, musim panas yang luar biasa menyengat, dimana-mana orang dalam kondisi kepayahan, paceklik dan kekurangan hewan tunggangan. Pengumuman perang telah disampaikan. Para aghniya berlomba menginfak harta, yang miskin melakukan segala upaya hingga memohon perbekalan untuk berjihad, tak ketinggalan para muslimah melepaskan kasturi yang membersamai hingga kalung, anting dan cincin. Tidak ada yang bersikap kikir kecuali orang-orang munafik saja.

Sejumlah 30.000 prajurit bergerak dalam keterbatasan, perbekalan tak sebanding jumlah pasukan. Satu unta dinaiki hingga 18 prajurit bergantian, kadang mereka terpaksa memakan dedaunan hingga bibir mereka bengkak. Mereka juga terpaksa menyembelih unta untuk diambil air dari kantong air di dalam perutnya. Karena demikian pahit perjalanan itu dinamakanlah pasukan ini sebagai Jaisy al-Usrah (pasukan dalam masa kesulitan).

Peperangan ini merupakan cobaan yang berat di mana diketahui perbedaan antara orang-orang yang benar-benar beriman dan orang-orang selain daripadanya. Dalam konteks kekinian, pandemi ini membawa ruh peperangan yang sama antara kebenaran dan kebathilan. Ditengah kepayahan dan kesulitan ada saja manusia yang menyusupkan propaganda `masjid Dhirar’ di masa lalu untuk memalingkan manusia dari kebenaran dengan jalan-jalan yang beracun.

Penulis buku A Man Called Ahok, Rudi Valinka menjadi perbincangan di media sosial. Hal ini lantaran cuitannya yang mengusulkan kepada MUI untuk memberikan fatwa membolehkan umat Islam tidak puasa tahun ini dikarenakan pandemi. Lalu dia sendiri berfatwa agar puasa digantikan fidyah, tak lupa dengan caption jahil murakabnya, “…Ini cara yang paling ideal dalam kondisi sekarang.”

Beeuhhh… Sape Lo? Eh tapi ternyata dia tidak sendiri. Sebagaimana yang dikutip dari laman MiddleEastMonitor (15/4/2020), usulan yang sama telah keluar dari mulut politisi Aljazair, Naoreddin Boukrouh. Katanya puasa di tengah pandemi bisa menurunkan imun tubuh dan berkontribusi pada meluasnya Corona, maka diusulnya agar puasa tahun ini ditiadakan.

Allah singkap topeng mereka lewat lidahnya yang beracun. Hingga ruh gerombolan konspirator masjid Dhirar di masa Tabuk menari-nari di tengah pandemi. Benar sejumlah cendikiawan Muslim telah mengeluarkan fatwa mengizinkan para tenaga medis untuk menunda puasa Ramadan jika situasi puasa berpotensi membahayakan di tengah perjuangan mereka merawat pasien Covid-19, namun hendaknya terlebih dahulu mereka mencari alternatif untuk dapat mempertahankan puasanya.

Pekan Lalu Al-Azhar Internasional Centre for Electronic Fatwa melalui akun Facebook-nya menyatakan bahwa seorang Muslim tidak boleh membatalkan puasa Ramadan kecuali dokter memutuskan dan membuktikan secara ilmiah bahwa puasa membuat seseorang rentan terhadap infeksi dan kematian akibat coronavirus. Sebuah fakta yang belum terbukti secara ilmiah hingga saat ini.

Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI, Ustadz Abdul Dahlan, mengingatkan bahwa puasa Ramadan adalah kewajiban. Senada dengan itu, Nadjmuddin Ramly, Wakil Sekretaris Jenderal Dewan Pimpinan MUI menegaskan, yang boleh tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah adalah orang sakit dan tidak diharapakan kesembuhannya.

Sekretaris Fatwa MUI, Asrorun Niam Sholeh mengatakan bahwa puasa Ramadan justru menjadi benteng paparan Covid-19, hal ini karena puasa terbukti menyehatkan. Manfaat puasa bagi kesehatan diaminkan pula oleh dokter ahli gizi, Inge Permadhi. Dilihat dari segi medis, puasa selama 30 hari justru meningkatkan daya tahan tubuh. Begini penjelasan beliau; secara keseluruhan orang dapat dikatakan sehat ketika memiliki saluran pencernaan yang bersih. Berpuasa, jadi salah satu jalan mewujudkan kondisi tubuh yang fit.

Jadi yang perlu didengarkan oleh umat hanya pendapat yang shahih bukan fatwa hoaks dari si Jahil. Umat hanya butuh menyematkan beberapa protokol berpuasa di tengah pandemi yaitu; hindari kerumunan, jalankan ibadah dari rumah. Jangan kosongkan masjid, gunakan protokol penanganan covid di masjid dengan menjaga jarak dan membawa sajadah pribadi, ubah cara bersedekah dengan mengirimkannya ke rumah-rumah masyarakat yang membutuhkan, dan jangan lupa bersabarlah untuk tidak mudik tahun ini. Wallahu`alam.[] #DiaryAisyah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *