Framing, Sebuah Teori Jurnalistik

Framing, Sebuah Teori Jurnalistik

Oleh: Sri Rahayu

“Berita yang kita saksikan hari ini bukanlah apa adanya, dia adalah hasil framing.” (Cut Putri Cory)


POJOKOPINI.COM — Memperhatikan pemberitaan media hari ini kita dapati beranekaragam arah, sudut pandang dan kepentingannya. Tak ada media yang netral hari ini. Ada media yang berpihak kepada yang haq yang selalu menyuarakan kebenaran. Ada juga media yang setia kepada kebatilan. Landasan atas itu semua adalah ideologi apa yang dimilikinya.

Media yang berideologi sekuler kapitalisme akan benar-benar memanfaatkan peran media. Bahkan media adalah salah satu pilar yang menjaga kelangsungan hidupnya. Tak heran media seperti ini selalu menonjolkan aspek yang membela mati-matian ideologinya dan memusuhi habis-habisan ideologi Islam sebagai lawannya. Hal ini sesuai dengan realita bahwa senantiasa terjadi benturan antara yang haq dan yang batil hingga hari kiamat. Selain dalam kehidupan nyata, benturan itu sangat jelas di media.

Pantaslah framing sebagai sebuah teori jurnalis sangat ampuh digunakan sebagai agenda setting. Keberpihakan ideologi dan kepentingan diwujudkan dalam framing media. Framing, sebuah teori dari ilmu jurnalistik lekat dalam aktivitas menyeleksi, memilah untuk kemudian menonjolkan sesuatu sekaligus menenggelamkan sesuatu yang lain. Sehingga framing merupakan aspek penting dalam media.

Media ada di tengah masyarakat untuk mengontrol persepsi publik. Sehingga secara kognitif mampu mempengaruhi keputusan yang dibuat. Secara afektif mampu mempengaruhi keberpihakan. Dan secara konatif mampu mempengaruhi prioritas. Demikianlah sangat strategisnya peran media, sehingga ideologi yang saat ini berkuasa terus menerus menggoreng isu-isu yang mereka pandang strategis untuk membela ideologinya dan membunuh ideologi musuhnya, yaitu Islam.

Nah, di tengah pergolakan kebatilan dan kebenaran yang memang akan terus terjadi sampai hari kiamat, maka sangat penting bagi para penulis Muslim menguasai teknik framing.

Teknik menulis framing di antaranya dapat dilakukan dengan berdiri di balik tokoh. Menggunakan tokoh yang segaris dengan kita. Pernyataan tokoh tersebut kita gunakan untuk menguatkan pendapat kita. Sumbernya dari mana, bisa dari media. Menariknya ketika berdiri di balik tokoh maka kita tak perlu capek merangkai kata, kita gunakan saja pernyataan tokoh tersebut dan kita tinggal menekankannya. Atau dengan kata lain mengambil sari patinya.
Pemilihan narsum mana yang mau dimasukkan ke dalam body atau lead tulisan juga penting dilakukan. Tokoh yang segaris dengan kitalah yang kita pilih. Bukan tokoh berseberangan.

Aspek lainnya adalah berdiri di belakang media primer. Kak Cory mencontohkan, ketika menjadikan pernyataan Henry Kissinger yang mengatakan wabah Corona ini berdampak panjang, sebagai pendapat yang menguatkan pendapat kita. Di akhir ditekankan dalam analisis kita, agaknya Kissinger telah mencium bau bangkai kapitalisme. Dan semakin dekatnya peradaban baru yaitu Islam tegak.

Ada beberapa hal penting yang harus diperhatikan bagi penulis ideologis Muslim. Di antaranya adalah sumber primer. Penulis ideologis harus melakukan tattabu‘ dan selalu pasang mata perkembangan media.

Hati-hati dengan media abal-abal. Karena syara memerintahkan kita untuk menyortir berita. Media yang memiliki badan hukum saja yang boleh kita kutip beritanya. Berhati-hati pula menulis diksi, substansi dan angel, sebaiknya yang konstruksi untuk menghindari jeratan UU ITE.

Self editing harus dilakukan sebelum dikirim ke media. Demikian juga standar hukum syara tetap harus dilakukan karena hukum menulis sama dengan hukum berbicara. Demikian catatan saya tentang framing, sebuah teori jurnalistik. Selamat menulis ideologis.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *