Gelombang Kedua Covid-19: Tumbangnya Sistem Kesehatan Ala Kapitalis

Padahal jelas hanya dengan sistem Islam satu-satunya solusi pengaturan soal kesehatan, dengannya negara melayani dan menjamin kebutuhan vital masyarakat.


Oleh: Yulia Hastuti, SE, M.Si

POJOKOPINI.COM — Indonesia kembali mencatat rekor penambahan kasus baru Covid tertinggi selama pandemi melonjak 21.095 kasus pada Sabtu (26/06), DKI Jakarta menjadi penyumbang terbanyak untuk lonjakan itu sebanyak 9.271 kasus. Angka tersebut menjadi yang tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kondisi keterisian tempat tidur atau Bed Occupancy Rate (BOR) Rumah Sakit (RS) pasien Covid-19 di sejumlah wilayah nyaris penuh, terutama di Jakarta dan Jawa Barat yang sudah masuk kategori merah. Tingkat keterisian RS Covid-19 di dua daerah tersebut mencapai 80 persen lebih. Bahkan di sejumlah daerah tingkat keterisian BOR ICU sudah mencapai 100 persen antara lain Serang, Bandung Barat, Majalengka, Pangandaran, Kota Banjar, Kabupaten Tasikmalaya, Kota Pekalongan, Rembang, dan Jepara. Berdasarkan data Persi, BOR RS di tiap provinsi Pulau Jawa sudah melebihi ambang batas yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sebesar 60 persen (CNNIndonesia.com, 26/6/2021).

Sejumlah daerah yang fasilitasnya terbatas dan kasus tinggi telah mengalami kesulitas dalam menangani pasien Covid-19. Permintaan tabung oksigen melonjak drastis. Data harian menunjukkan 1 di antara 2 orang yang menjalani tes PCR dinyatakan positif covid. Menurut Ikatan Dokter Indonesia (IDI) lonjakan gelombang 2 Covid-19 ini merupakan akibat dari masuknya virus varian baru yang berasal dari India. Imigrasi membuka pintu untuk ratusan WN India masuk ke Indonesia pada April yang lalu sehingga risiko yang harus kita terima dengan dampak lonjakan pasien Covid-19 yang semakin mengganas. Varian baru virus corona yaitu Alpha, Beta dan Delta jauh lebih cepat menular dan dapat menginfeksi dengan berpapasan dalam hitungan detik.

Sebelumnya sejumlah Ahli Kesehatan telah mengingatkan ancaman lonjakan Covid-19 yang akan terjadi di Indonesia berkaca dari kasus lonjakan Tsunami Covid-19 di India. Seharusnya Indonesia saat itu mengambil kebijakan yang komprehensif untuk menghentikan penyebaran virus bukan malah membuka lebar pintu masuk terhadap WNA dan WNI dari luar negeri terutama berasal dari India yang masuk ke Indonesia atas pertimbangan ekonomi semata.

Ketidakpatuhan masyarakat terhadap protokol kesehatan selalu menjadi dalih atas lonjakan kasus yang malah menunjukkan ketidakmampuan negara dalam mengurusi rakyat. Kebijakan kontraproduktif yang ada agaknya membuat rakyat semakin sulit percaya dan enggan mematuhi peraturan-peratuhan yang ditetapkan. Ketidakmampuan negara dalam mengurusi rakyat sekaligus menunjukkan hilangnya wibawa kepemimpinan mereka di mata rakyat.

Kebijakan rem-gas, rem-gas yang dilakukan selama ini adalah kebijakan terkatung-katung yang hanya menunda bom waktu (ledakan kasus). Gonta ganti istilah pembatas kegiatan masyarakat membuat bingung sejak awal dari PSBB, PSSB transisi, rem darurat, PPKM, PPKM Mikro, dan sebagainya tidak memberi dampak yang signifikan bahkan jumlah penularan tidak berkurang, seperti DKI dan daerah lain malah semakin meningkat tajam.

Negara memang sudah salah langkah sejak awal ketika dominan menjadikan pertimbangan ekonomi dalam menyelesaikan kasus wabah. Diperparah dengan penerapan kebijakan-kebijakan yang kian menjauhkan jarak antara mereka dengan rakyatnya. Situasi wabah yang makin tak terkendali menunjukkan sistem kesehatan yang diterapkan oleh kepemimpinan kapitalistik sudah kolaps.

Sistem kapitalisme jelas tidak mampu menyelesaikan permasalahan dengan tuntas. Negara harusnya mampu memfalisitasi kebutuhan hidup rakyatnya dengan mencakup pangan, sandang, papan, jaminan kesehatan, pendidikan, dan keamanan. Perlindungan dan pelayanan kesehatan yang baik harusnya menjadi hak setiap warga negara dengan didapat rakyat secara gratis maupun murah, namun dalam sistem kapitalis semua serba dibisniskan, tanpa mengindahkan penderitaan rakyat yang semakin mencekik.

Padahal jelas hanya dengan sistem Islam satu-satunya solusi pengaturan soal kesehatan, dengannya negara melayani dan menjamin kebutuhan vital masyarakat. Islam sebagai sebuah ajaran dan pedoman hidup telah menawarkan beberapa aturan bagi manusia yang berlaku secara universal tentu bertujuan mencapai kebahagiaan tidak hanya di dunia melainkan hingga akhirat.

Problematika kehidupan yang akan terus terjadi hingga akhir zaman wajib diselesaikan hanya menggunakan solusi Islam. Umat harus disadarkan dengan perubahan pemikiran ideologis bahwa memandang kehidupan dan problematika dengan pandangan yang benar sebagaimana pandangan Islam. Padangan mendasar dengan meyakini bahwa hidup adalah untuk beribadah dan Allah SWT memiliki hak untuk ditaati. Membangkitkan ghirah masyarakat dengan membuka ruang-ruang diskusi dan dakwah Islam-Ilmiah demi menjawab problematika masyarakat dengan pandangan Islam. Hingga solusi hakiki dapat mudah diraih dengan perubahan sistemis dan mendasar hanya dengan institusi Khilafah rasyidah ‘ala minhajjin Nubuwwah. Aamiin.[]

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *