Gencatan Senjata, Muslihat Zionis Israel di Bumi Palestina

Racun nation state (nasionalisme) juga menjadi biang keladi rendahnya kepedulian pemimpin kaum Muslimin terhadap konflik Palestina. Karena paham nation state merupakan paham yang dibuat oleh kaum kafir untuk memecah negeri Muslim yang luas dan besar menjadi negeri kecil dan lemah yang hanya mementingkan kepentingan negeri sendiri, tanpa peduli penderitaan saudaranya kaum Muslim di wilayah lainnya.


Oleh: Mauiza Ridki Al-Mukhtar (Aktivis Dakwah Peduli Umat dan Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Konflik Palestina yang memanas pada pekan lalu, karena pasukan Zionis Israel kembali menggepur kompleks masjid al-Aqsa. Pasukan Zionis Israel melakukan penyerangan tanpa pandang bulu, banyak yang menjadi korban baik kaum wanita, anak-anak, orang tua dan lainnya. Dilansir dari Buletin Kaffah Edisi 194, korban di pihak warga Palestina atas serangan tentara Zionis Israel tersebut mencapai 232 orang di antaranya wanita dan 65 di antaranya anak-anak.

Kasus penyerangan tentara zionis Israel tidak hanya kali ini saja terjadi, tetapi kasus tersebut terus terjadi sepanjang penjajahan Israel terhadap Bumi Suci Palestina. Sudah 73 tahun lamanya bumi Palestina dijajah hingga saat ini. Semejak berakhirnya Perang Dunia ke II dan runtuhnya institusi politik kaum Muslimin yaitu: Negara Islam/ Daulah Khilafah. Semejak saat itulah kaum Muslimin Palestina terus dibombardir oleh tentara Zionis Israel. Sudah tak terhitung berapa jumlah korban di Palestina, baik yang meninggal dunia, luka-luka, maupun pelecehen yang dirasakan oleh Muslimah Palestina.

Konflik berkepanjangan yang tak kunjung henti itu menimbulkan banyaknya korban jiwa telah membuat simpati umat manusia di seluruh penjuru dunia, baik dari negeri mayoritas Muslim hingga negeri non Muslim. Mereka melakukan aksi di jalan menuntut Zionis Israel menghentikan serangannya terhadap Palestina dan mendesak untuk kemerdekaan Palestina.

Pemimpin negeri Muslimpun angkat bicara atas penyerangan yang dilkukan tentara Zionis Israel dengan mengutuknya. Mereka berupaya mencari solusi atas konflik tersebut dengan berunding agar konflik dapat dihentikan. Merekapun akhirnya bersepakat memberikan solusi terhadap konflik Palestina dan Israel yaitu melalui jalur genjatan senjata dan perdamaian.

Zionis Israel Melanggar Perdamaian dan Genjatan Senjata

Genjatan senjata yang ditengahi oleh Mesir berlaku pada dini hari jum’at, setelah 11 hari pemboman Israel tanpa henti di daerah kantong yang dikepung ribuan roket diluncurkan ke Israel oleh Hamas. Kesepakatan genjatan senjatapun disepakati oleh kedua pihak Palestina-Israel di jalur Gaza, Jum’at, 21 Mei 2021. Akan tetapi genjatan senjata dan perdamaian itu dilanggar oleh pihak Israel tak lama dari kesepakatan damai tersebut. Polisi Israel menyerbu kompleks Masjid al-Aqsa dan menembakkan gas air mata ke arah warga Palestina setelah shalat Jum’at, 21 Mei 2021 (CNBCIndonesia.com).

Bangsa Kera (Israel) merupakan bangsa perusak dan gemar berdusta. Hal itu sudah dijelaskan oleh Allah SWT dalam kitab-Nya 1400 tahun yang lalu. Allah SWT berfirman yang artinya: “Dan Ingatlah, ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu), “Janganlah kamu menyembah selain Allah dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua, kerabat, anak-anak yatim dan orang miskin. Dan bertutur katalah yang baik kepada manusia, laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Tetapi kemudian kamu berpaling (mengingkari), kecuali sebagian kecil dari pada kamu, dan kamu (masih menjadi) pembangkang” (TQS. Al-Baqarah: 83).

Tak hanya itu bahkan kaum Bani Israel juga berani membunuh para nabi yang merupakan utusan Allah untuk meyampaikan risalah kebenaran-Nya kepada umat manusia. Sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang kafir kepada ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak (alasan yang benar) dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira yaitu: azab yang pedih” (TQS. Ali-Imran: 21).

Genjatan Senjata dan Perdamaian Mustahil Selesaikan Konflik Palestina-Israel

Maka dari itu solusi yang ditawarkan oleh pemimpin kaum Muslimin terhadap Palestina dengan berdamai dan genjatan sejata takkan mampu menyelesaikan permasalahan konflik tersebut. Ini justru membiarkan kaum Zionis Israel berlindung dan memulihkan kekuatannya kembali di balik gencatan senjata dan perdamaian. Hal itu akan membuat Zionis Israel semakin leluasa melakukan penyerangan dan memperkuat hegemoni penjajahannya terhadap Bumi Palestina. Seharusnya pemimpin kaum Muslimin mengirimkan militernya untuk berjihad melawan kaum Israel bukan dengan genjatan senjata dan perdamaian.

Pemimpin negeri Muslim yang tak kunjung mengirimkan militernya untuk membasmi Zionis Israel, ini membuktikan bahwa mereka tidak membela kaum Muslim Palestina secara sempurna. Mereka takut memerangi Israel karena di balik Israel disokong oleh negara Amerika Serikat yang merupakan negara adidaya saat ini. Kebanyakan pemimpin negeri Muslim saat ini menjadi boneka kaum kafir negeri adidaya itu. Tak hanya itu mereka juga banyak bekerja sama dalam hubungan dagang dengan Israel, bahkan merekapun ada yang sudah melakukan normalisasi hubungan diplomatik dengan Zionis Israel.

Racun nation state (nasionalisme) juga menjadi biang keladi rendahnya kepedulian pemimpin kaum Muslimin terhadap konflik Palestina. Karena paham nation state merupakan paham yang dibuat oleh kaum kafir untuk memecah negeri Muslim yang luas dan besar menjadi negeri kecil dan lemah yang hanya mementingkan kepentingan negeri sendiri, tanpa peduli penderitaan saudaranya kaum Muslim di wilayah lainnya.

Tak adanya junnah/ pelindung kaum Muslim sehingga negaranya menjadi lemah terus diperdaya oleh negara adidaya. Zionis Israel dengan leluasa melakukan penyerangan terhadap Palestina tak kan mampu dihentikan oleh negeri-negeri kaum Muslim yang lemah itu. Bantuan senjata canggihpun selalu difasilitasi oleh Amerika Serikat untuk memperlus ekspedisi wilayah jajahan Israel terhadap wilayah Palestina. Dilansir dari cnnindonesia.com, Amerika Serikat janji akan menambah Iron Dome untuk Israel.

Sedangkan militer Palestina hanya dibantu oleh Hamas dan secercah bebatuan yang dilempari oleh warga Palestina untuk mempertahankan nyawa dan tanah suci kaum Muslimin itu. Zionis Israel akan terus melakukan penyerangan terhadap kaum Muslimin Palestina jika tidak ada junnah kaum Muslimin.

Membebaskan Bumi Palestina

Junnah yang dimaksud di sini adalah tegaknya negara adidaya Islam yaitu Ad-Daulah Khilafah. Kebaradaan Daulah Khilafah menjadi urgen untuk melindungi segenap tumpah darah, kehormatan, wilayah dan harta kaum Muslimin di seluruh penjuru dunia. Keberadaan Ad-Daulah Khilafah menjadi wajib adanya sebagaimana disepakati oleh empat mazhab. Syekh Abdurrahman al-Jaziri (w. 1360 H) menegaskan bahwa para imam mazhab (yang empat) telah sepakat Imamah (Khilafah) adalah wajib. (Al-Jaziri, Al-Al-Fiqh’ala al-Madzhabib al-Arba’ah, 5/416).

Daulah Khilafah akan menghapus paham nation state paham yang membatasi kaum Muslimin karena batasan wilayah. Dalam sistem Islam sesungguhnya kaum Muslimin besaudara, artinya kaum Muslimin harus peduli satu sama lain. Sebagaiman firman Allah SWT yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara”. (TQS. Al-Hujarat: 10).

Ad-Daulah Khilafah juga memiliki sistem pertahanan yang sangat kuat, karena negara mengalokasikan anggaran dalam bidang militer sangat besar. Untuk mempersiapkan panglima perang, prajurit, peralatan militer terbaik dan mengembangkan teknologi di bidang militer dalam berjihad/berperang maupun dalam rangka untuk menakut-nakuti musuh.

Politik Luar Negeri Daulah Khilafah adalah dengan dakwah dan jihad. Dakwah dilakukan untuk menyebarkan risalah kebenaran dari Allah SWT untuk menyeru umat manusia di seluruh penjuru dunia. Sedangkan jihad yang dilakukan Daulah Khilafah dalam rangka mempertahankan wilayah dan melakukan ekspedisi perluasan wilayah melalui futuhat/ penaklukan suatu wilayah untuk tunduk dalam aturan Islam dan menjadi bagian wilayah Ad-Daulah Khilafah.

Ad-Daulah Khilafah tak kan mebiarkan satu nyawa kaum Musliminpun mati sia-sia di tangan kaum kafir harbi dan takkan membiarkan wilayahnya dikuasai oleh kaum kafir tersebut walau hanya sejengkal. Melainkan Khalifah/ pemimpin dalam Daulah Khilafah akan mengirimkan panglima dan pasukan terbaiknya untuk berjihad melawan kaum kafir harbi itu hingga tuntas. Karena sesungguhnya berjihad adalah perintah Allah yang wajib untuk diaplikasikan, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya: ”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun merasa berat dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui” (TQS. At-Taubah: 41).

Daulah Khilafah juga menutup seluruh akses hubungan terhadap negara kafir harbi yang telah memerangi kaum Muslimin, baik dalam hubungan dagang, diplomasi maupun yang lainnya. Daulah Khilafah akan memerangi negara kafir harbi yang memerangi kaum Muslimin seperti Israel yang telah menjajah Palestina.

Sejarah telah mencatat bagaiman kegigihan Shalahudin Al-Ayyubi membebaskan Baitul Maqdis pada tahun 1187. Shalahudin Al-Ayyubi fokus terlebih dahulu menyatukan kekuatan kaum Muslimin di Mesir dan Syam selama 33 bulan, setelah kaum Muslimin bersatu, maka beliau hanya butuh 13 bulan untuk membersihkan Palestina dari kekuatan Pasukan Salib dari Eropa (Dalam buku karangan Dr. Ali Muhammad Ash Shalabi, Shalahuddin Al-Ayyubi wa juhuduhu fi al-Qadha’ala Daulah Al Fathimiyah).

Tak hanya itu sejarah juga telah membuktikan bagaimana ketegasan Khalifah Abdul Hamid II menolak tawaran Yahudi untuk membeli sepetak tanah di Palestina, melalui tokoh Zionis Yahudi Theodore Herzl. Dan berkata, ”Saya tidak akan melepaskan tanah Palestina walau hanya sejengkalpun karena tanah ini milik rakyatku, mereka berjuang untuk memperolehnya sehingga mereka sirami darah mereka…” (Republika.com).

Inilah Daulah Khilafah negara super power yang berdiri secara independen yang tak takut bahkan tak gentar melawan musuh termasuk melawan kekejaman Zionis Israel dan sekutunya. Maka hanya dengan berdirinya Daulah Khilafahlah yang akan mampu membebaskan Al-Aqsa Palestina yang sedang terjajah. Oleh sebab itu marilah kita rapatkan barisan untuk memperjuangkan dan menyongsong tegaknya institusi politik super power tersebut!!! Wallahu a’lam bi ash-shawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *