Generasi Muslim, Follower atau Leader?

Generasi yang mampu mengguncang dunia, menggulung tirani sistem kufur kapitalis liberalis sekuler, mencampakkan seluruh sistem dan Undang-undang buatan manusia, untuk kembali ke fitrah. Kembali ke syar’iah dalam bingkai Khilafah. Hanya generasi terbaiklah yang kelak akan mewarisi kekuasaan kaum muslimin sebagaimana generasi terdahulu yang namanya terukir tinta emas. Generasi yang tidak hanya tenar di bumi tapi juga di langit.


Oleh: Ummu Dafina

POJOKOPINI.COM — Di era globalisasi informasi yang pesat, liberalisasi semua bidang semakin kaffah. Kemerosotan berpikir umat pun makin terpuruk. Kondisi ini menjadi penyebab munculnya fenomena generasi follower.

Generasi follower adalah generasi yang tidak produktif, pembebek dan pengikut setia sesuatu atau seseorang. Umumnya para follower ini termasuk kategori positivis (menelan mentah-mentah informasi) dalam menerima informasi. Barangkali kita pun pernah seperti itu ketika masih ABG dulu. Punya artis favorit, dan apa saja yang ada di artis tersebut pasti diikuti. Mulai cara berpakaian, makanannya, hobinya, aksesoris yang dikenakan, bahkan semua pola sikap dan pola pikirnya pun diikuti. Astaghfirullah.

Jika kita lihat, perkembangan fenomena generasi follower saat ini makin menggila. Mereka seolah sudah kehilangan jati diri. Ketika salah dalam memilih sosok panutan, banyak remaja yang akhirnya terjerumus pada pergaulan bebas, mabuk dan narkoba. Bahkan berani membentak dan marah pada orang tua ketika tidak dibelikan aksesoris yang mahal seperti milik artis kesayangannya. Protes soal makanan, sampai ada fans fanatik yang tidak rela jika artis kesayangannya memiliki pasangan hidup, bahkan lebih rela jika artis tersebut penyuka sesama jenis! Na’uzubillah.

Dengan munculnya fenomena ini semakin menambah kewaspadaan kita dalam mengawasi ananda terutama yang menginjak usia remaja. Dalam terjemah Qur’an surat Al Furqan ayat 74 yang berbunyi: “Ya Tuhan kami, karuniakanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertaqwa.”

Mencetak generasi pemimpin sebagaimana generasi sahabat terdahulu, merupakan impian setiap orang tua atas ananda. Kita tentu tidak ingin anak-anak tumbuh menjadi generasi embebek, minus prestasi, hedonis, jauh dari tuntunan agama, alay, cuek dan terbawa arus sekuler kapitalis.

Dalam salah satu Shirah Nabawi kita bisa menemukan jejak, dimana Rasulullah SAW mencetak generasi pemimpin. Di rumah Arqam bin Arqam beliau menempa mental para sahabat dengan aqidah Islam yang tertancap kuat. Rasul membentuk karakter para sahabat agar senantiasa terikat dengan hukum syara, membangun pola pikir dan pola sikap Islam, sehingga dalam hal apapun mereka senantiasa mengingatkan diri pada seluruh aturan Islam.

Dengan terbentuknya pola pikir dan pola sikap Islam dalam setiap individu meniscayakan mereka siap untuk memimpin umat dan mengemban amanah dakwah.

Sebut saja Ali bin Abi Thalib yang masuk islam dan dibina Rasulullah pada usia 8 tahun. Beliau kemudian tumbuh menjadi kuncinya ilmu, menjadi wali dan khalifah ke empat masa Khulafaur Rasyidin. Ada pula Zubair bin Awwam. Beliau masuk Islam dan dibina Rasulullah sejak usia 8 tahun.Zubait kemudian diangkat menjadi panglima perang dan termasuk sahabat yang di jamin masuk surga.

Belum lagi sosok pemuda fenomenal, Mush’ab bin Umair. Seluruh penduduk Mekah sangat mengenal pemuda tampan yang dipuja gadis-gadis Mekah. Sosoknya yang tampan dan selalu berpenampilan dengan pakaian terbaik, selalu menjadi pusat perhatian. Namun, saat cahaya iman merasuki sanubarinya, ia rela menanggalkan semua kemewahan yang dimiliki dan menjadi duta dakwah yang berhasil mengajak penduduk Madinah memeluk Islam.

Karakter pemimpin juga ada pada diri sahabat seperti Abu Bakar Ash-Shiddiq. Sahabat Rasul yang terkenal cerdas, penyantun, dan lembah lembut bisa bersikap tegas dan tidak kenal kompromi ketika menghadapi sebagian kaum muslim kembali kafir dan tidak mau bayar zakat pasca wafatnya Rasulullah Saw. Beliau memerangi kaum tersebut sampai kembali kepangkuan Islam.

Begitupun dengan Umar bin Khattab yang memiliki karakter keras dan tegas, dalam didikan Rasulullah Saw bisa bersikap lemah lembut terhadap sesama muslim.

Kaum muslimin dengan segala potensinya dianugerahkan Allah untuk menjadi pemimpin di muka bumi. Saat ini kita bisa saksikan hampir seluruh aspek kehidupan ketika tidak dipimpin oleh Islam, menjadi kacau, rusak dan hancur. Bencana dimana-mana, keadilan ternoda, kesejahteraan jauh dari harapan, kaum muslimin terhina, terusir dan jauh dari predikat umat terbaik.

Sudah saatnya kita kembali menata generasi yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw, yang tidak hanya mencetak generasi yang shalih/ shalihah saja tetapi layak menjadi pemimpin umat yang bertaqwa.

Generasi yang mampu mengguncang dunia, menggulung tirani sistem kufur kapitalis liberalis sekuler, mencampakkan seluruh sistem dan Undang-undang buatan manusia, untuk kembali ke fitrah. Kembali ke syar’iah dalam bingkai Khilafah. Hanya generasi terbaiklah yang kelak akan mewarisi kekuasaan kaum muslimin sebagaimana generasi terdahulu yang namanya terukir tinta emas. Generasi yang tidak hanya tenar di bumi tapi juga di langit.

Tidak akan lama lagi bisyarah Rasulullah Saw terealisasi. Tidakkah kita ingin generasi terbaik itu adalah anak kita?[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *