Generasi Rapuh, Tanggung Jawab Siapa?

Generasi Rapuh, Tanggung Jawab Siapa?

Jika tak ingin terjadi lagi musibah rapuhnya mentalitas generasi yang berkelanjutan maka penerapan pendidikan ala kapitalisme/sekuler tak dapat terus diterapkan, karena penerapannya akan terus mengikis mentalitas generasi. Sudah saatnya kita menerapkan sistem pendidikan Islam. Sehingga orientasi pendidikan berbasis materi berubah menjadi pendidikan yang berorientasi terhadap kehidupan akhirat.


Oleh: Radayu Irawan, S.Pt

POJOKOPINI.COM — Miris. Menurut CNN Indonesia (19/10/20) seorang siswi melakukan bunuh diri karena kekhawatiran akan tugas yang menumpuk, kemudian makin diperparah karena jaringan internet yang tidak memadai. Terlebih dengan jumlah mata pelajaran di sekolah yang bisa mencapai belasan.

Aksi bunuh diri itu terjadi pada seorang siswi SMA di Gowa, Sulawesi Selatan, berinisial MI (16). Dia nekat bunuh diri dengan meminum racun rumput pada Sabtu (17/10) pekan lalu (batampos.co.id, 19/10/20).

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan diminta mengevaluasi beban tugas bagi siswa selama pembelajaran jarak jauh (PJJ), untuk mencegah terulang kasus siswa bunuh diri yang terjadi di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan (CNN Indonesia, 19/10/20).

Rapuhnya Generasi, Tanggung Jawab Siapa?

Orang-orang berpendidikan seyogianya mampu menyelesaikan dan memecahkan setiap permasalahan dalam hidupnya. Bahkan di negeri ini, pendidikan merupakan salah satu poin yang wajib diberikan negara kepada rakyatnya. Kewajiban ini tertuang dalam Undang-undang Dasar 1945.

Kaum terdidik yang kuat mentalitasnya, didukung penerapan sistem pendidikan yang membentuk mentalitas mustahil membentuk pribadi intelektual yang rapuh.

Siapa yang tak heran, saat dikejutkan oleh aksi bunuh diri yang perbuatan tersebut ia lakukan karena banyaknya tugas selama masa pembelajaran jarak jauh (PJJ). Bahkan, siswi tersebut merekam aksinya melalui sebuah video berdurasi 32 detik.

Dikutip dari batampos.co.id (19/10/20) Muhammad Ramli Rahim mengatakan bahwa, “Kejadian ini menurut kami bukan kejadian tunggal. Stres yang dialami siswa akibat PJJ yang tidak memiliki standar khusus sangat memberatkan siswa, tugas-tugas guru telah mengakibatkan depresi terhadap siswa yang akhirnya dapat berujung pada kejadian bunuh diri seperti ini,

Kejadian ini seharusnya menjadi alarm yang sangat keras kepada pemerintah dan dengan tegas memperingatkan pemerintah bahwa masalah penugasan-penugasan ini adalah sesuatu yang sangat serius memberikan dampak depresi kepada siswa,” ungkap Ketua Umum Jaringan Sekolah Digital Indonesia Muhammad ini seperti dikutip CNN Indonesia (19/10/20).

Alih-alih dapat mencerdaskan kehidupan bangsa, malah memakan korban jiwa. Ada apa dengan pendidikan di negeri ini? Dimanakah letak kesalahannya? Jikalau kesalahan terletak pada individu, tak mungkin ini menjadi kasus tunggal yang pernah terjadi. Mengingat banyak terjadi kekerasan terhadap anak selama masa pandemi tersebab ketidaksiapan keluarga menghadapi masa-masa sulit.

Ini juga menjadi fakta bahwa lemahnya mentalitas generasi sudah sangat akut. Bunuh diri merupakan musibah yang lahir dari bencana keimanan yang rapuh. Kehidupan sekularisme dalam bingkai kapitalisme menjadi tersangka kerapuhan mentalitas generasi.

Di sisi lain penerapan sistem kapitalisme yang bertolak ukur nilai dan selembar ijazah menjadi bukti bahwa penerapan sistem kapitalisme menghasilkan output yang minim iman dan ilmu.

Banyak intelektual melakukan cara-cara yang haram agar bisa lulus ujian. Seperti mencontek yang sudah menjadi hal yang lumrah. Menyogok sudah menjadi budaya. Bahkan Intelektual yang jujur dijadikan sebagai bahan olokan. Anehnya, beberapa pengajar menghalalkan cara-cara yang haram tersebut, dengan dalih kasihan dan pura-pura tak acuh.

Korelasi yang buruk dari pengajar dan intelektual dibenarkan dalam sistem kapitalisme yang tumbuh subur di negeri ini. Iklim ini terbentuk dari penerapan sistem pendidikan sekuler yang merupakan turunan dari sistem kapitalisme. Sistem inilah yang memproduksi kaum intelektual dengan mentalitas bermasalah. Jadi, generasi hari ini bisa dikatakan sebagai korban sistem.

Tak semata kesalahan individu, bunuh diri tak akan terjadi jika intelektual memiliki aqidah Islam yang kokoh. Aqidah Islam yang kokoh akan terbentuk dari kurikulum yang dijalankan oleh pengajar yang juga memiliki aqidah Islam yang kokoh. Sedangkan kurikulum itu adalah buah dari kebijakan negara dalam pengaturan terhadap manusia dalam naungannya. Jadi, negara punya andil besar terhadap bentuk mentalitas generasi.

Namun sayang seribu sayang, sistem kapitalisme berbasis sekularisme tak akan memberi ruang yang luas untuk membentuk aqidah Islam yang kokoh untuk setiap intelektual. Sungguh miris. Bahkan sistem ini dengan mudahnya membentuk intelektual yang memiliki aqidah Islam nan rapuh.

Sistem Islam Penjaga Generasi

Jika tak ingin terjadi lagi musibah rapuhnya mentalitas generasi yang berkelanjutan maka penerapan pendidikan ala kapitalisme/sekuler tak dapat terus diterapkan, karena penerapannya akan terus mengikis mentalitas generasi. Sudah saatnya kita menerapkan sistem pendidikan Islam. Sehingga orientasi pendidikan berbasis materi berubah menjadi pendidikan yang berorientasi terhadap kehidupan akhirat.

Tentu penerapan sistem pendidikan berbasis aqidah Islam juga tak dapat berdiri sendiri. Ia harus ditopang dari sistem Islam lainnya seperti ekonomi, perpolitikan, sanksi, pergaulan, sosial, bahkan sistem pemerintahannya dalam bingkai negara.

Ya Allah, siapa saja yang memimpin (mengurus) urusan umatku ini, yang kemudian ia menyayangi mereka, maka sayangilah dia. Dan siapa saja yang menyusahkan mereka, maka susahkanlah dia“. (HR. Muslim No 1828)

Rasulullah SAW. bersabda, “Siapa yang diamanati Allah untuk memimpin rakyat, lalu ia tidak memimpinnya dengan tuntunan yang baik, ia tidak akan dapat merasakan bau surga.” (HR Bukhari dan Muslim)[]

Picture source by Google

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *