Generasi Sampah tak Lahir dari Sistem Islam

Generasi Sampah tak Lahir dari Sistem Islam

Generasi Islam adalah generasi produktif, mereka akan membuat prestasi bukan sensasi demi mengejar kesenangan dan ketenaran. Ilmu dan teknologi mereka gunakan untuk dakwah dan kebaikan bukan membuat konten sampah tidak bermutu.


Oleh: Risa Sartika

POJOKOPINI.COM — Masih terngiang-ngiang di telinga kita semua, deretan kasus remaja yang membuat heboh jagat maya dalam sepekan ini. Dari kasus seorang youtuber yang viral dengan konten sampah tak bermutunya hingga beberapa kasus remaja yang melecehkan Islam dengan gerakan shalat.

Sepekan terakhir ini masyarakat dibuat tercengang dengan video prank Ferdian Paleka dan dua rekannya. Aksi iseng bagi-bagi sembako dengan kardus isi sampah dan batu bata menuai kecaman dari masyarakat. Tampak dalam video tersebut yang menjadi korban prank adalah waria dan sekelompok anak jalanan. Tak terima dengan perbuatan ketiganya, korbanpun melaporkan Ferdian dan kawan-kawan ke pihak kepolisian. Karena konten sampah tersebut sudah meresahkan warganet, polisipun langsung menelusuri keberadaan pelaku.

Tidak hanya itu, masih di pekan yang sama masyarakat juga dikagetkan dengan tingkah laku beberapa remaja yang melecehkan Islam dengan gerakan shalat. Di antaranya, sebuah video di aplikasi Tiktok  yang menjadi perbincangan publik setelah penggunanya melecehkan gerakan shalat. Di dalam video yang beredar terlihat seorang perempuan menggunakan mukena sedang menjalankan ibadah shalat, namun di pertengahan, tiba-tiba ia berjoget diiringi musik disko.

Ada pula video yang menggambarkan segerombolan remaja perempuan yang sengaja membuat konten video mempermainkan gerakan shalat, dalam video tersebut, tampak imam menghadap ke arah makmum, dan membuat gerakan yang menakuti makmum. Miris.

Astaghfirullah. Di tengah pandemi dan bulan Ramadan bukannya memperbanyak taubat kepada Allah dan berbuat baik, malah membuat konten-konten sampah dan melecehkan gerakan shalat. Hadeeeh semakin kacau saja ya kelakuan generasi kita hari ini.

Walaupun aparat sudah turun tangan untuk menangkap beberapa orang pelaku, namun perbuatan yang sama selalu saja berulang dan hukuman yang diberikan tidak menimbulkan efek jera. Hal itu wajar terjadi, paham sekularisme liberalisme menjadi arah pandang generasi saat ini. Akibatnya generasi tidak memikirkan benar salah sesuai aturan Allah SWT. Pun hukuman yang diterapkan tak menimbulkan efek jera padahal perbuatan yang dilakukan terkategori kriminal berat.

Tapi kasus di atas cuma salah satu contoh saja, jika kita telusuri lagi lebih dalam maka kita akan menemukan banyak konten dan video sampah tak bermutu seperti itu. Mirisnya lagi pelakunya itu adalah para remaja. Demi mengejar popularitas di dunia maya dan mencari kesenangan berbagai hal dilakukan meskipun hal tersebut melanggar syariat Allah.

Liberalisme yang menjanjikan kebebasan berekspresi dalam sistem demokrasilah yang menyuburkan keberadaan para konten kreator sampah. Akibatnya kejadian semacam ini terus berulang meski undang-undang sudah melarang. Alhasil kita melihat adanya kontradiksi dari praktik penerapan hukum dan cita-cita mewujudkan generasi emas. Mustahil. Selama liberalisme sekuler masih menjadi ruh dari penerapan sistem yang mengatur manusia, maka selamanya generasi yang terbentuk adalah “generasi sampah”.

Sebenarnya generasi sampah tidak akan terlahir jika sistem yang mendidiknya benar yaitu sistem Islam. Islam memberikan perhatian khusus kepada generasinya. Islam juga memberikan solusi tuntas atas permasalahan kehidupan manusia, tidak ada yang namanya generasi sampah dalam naungan sistem Islam. Generasi di dalam Islam akan dididik agar memiliki kepribadian Islam baik dalam pola pikirnya maupun dalam pola sikapnya. Akalnya akan membimbing tingkah lakunya agar terhindar dari perbuatan unfaedah.

Adapun yang bertanggung jawab untuk mewujudkan generasi peradaban Islam adalah keluarga sebagai wadah pertama dan utama yang menanamkan serta pembentukan aqidah Islam kepada generasi melalui didikan orangtua. Orangtua bertugas mendidik generasi sejak dini dan melindunginya dari cengkraman pemikiran rusak kapitalisme sekuler. Namun keluarga saja tidak akan sanggup berjuang sendiri, lingkungan sekitar (kehidupan bermasyarakat) juga menjadi faktor pendukung masuknya pemikiran-pemikiran rusak kepada generasi, oleh karena itu dalam kehidupan bermasyarakat standar baik dan buruknya juga harus berlandaskan Islam, dengan demikian akan terjadi pengendalian iman di tengah-tengah masyarakat.

Dalam mewujudkan generasi yang berkepribadian Islami tidak cukup hanya di keluarga dan masyarakat saja. Dibutuhkan satu wadah besar yang akan menjamin dapat menghasilkan generasi peradaban luar biasa yang berbekal ilmu-ilmu yang diperlukan dalam kehidupan baik ilmu keislaman maupun ilmu dalam cakupan sains dan teknologi. Generasi Islam adalah generasi produktif, mereka akan membuat prestasi bukan sensasi demi mengejar kesenangan dan ketenaran. Ilmu dan teknologi mereka gunakan untuk dakwah dan kebaikan bukan membuat konten sampah tidak bermutu. Maka dari itu kita butuh peran negara untuk menerapkan dan menjalankan sistem pendidikan serta sistem sosial lainnya yang terkait.

Negara menerapkan sistem ini melalui undang-undang syariah. Inilah bentuk mekanisme penjagaan negara (Khilafah) terhadap generasi yang telah terbukti menghasilkan generasi cemerlang selama Islam diterapkan secara kaffah dalamĀ  satu kepemimpinan dunia.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *