Gombal Program Perlindungan Sosial

Lintah darat global akan terus mengisap darah negara pengutang, hingga sekarat tak berdaya. Begitulah realitas sistem kapitalisme, demokrasi.


Oleh: Sri Rahayu

POJOKOPINI.COM — Bank Dunia atau World Bank melihat kalau stimulus program perlindungan sosial dari pemerintah merupakan kunci untuk menyelamatkan perekonomian masyarakat dari krisis Covid-19. “Simulasi kami, kalau pemerintah tidak memberikan perlindungan sosial, maka sebanyak 8,5 juta masyarakat Indonesia bisa jatuh miskin akibat krisis ini.” (Kontan.co.id, 20/12/2020).

‘Wejangan’ Bank Dunia atau World Bank untuk menyelamatkan ekonomi masyarakat yang tengah dihantam wabah Covid-19 ini patut kita cermati. World Bank, badan keuangan yang dalam sistem kapitalisme adalah ibarat jantung yang memompa darah. Hidup matinya sistem kapitalisme sangat tergantung apakah jantung (Bank) itu berfungsi atau tidak. Saham, uang kertas, hutang, bunga dan lain- lain ibarat darah yang dipompa dan diedarkan ke seluruh sendi kehidupan. Inilah kehidupan yang dibangun atas landasan ideologi sekularisme, demokrasi, kapitalisme. Tak heran melahirkan masyarakat yang limbung dan sakit.

Berbagai dana yang digelontorkan untuk berbagai program termasuk program perlindungan sosial sejatinya hanyalah jeratan hutang yang kian membuat sebuah negeri terpuruk. Sedangkan bagi World Bank hutang adalah darah yang membuat sistem kapitalisme hidup dan melakukan penjajahan. Lintah darat global akan terus mengisap darah negara pengutang, hingga sekarat tak berdaya. Begitulah realitas sistem kapitalisme, demokrasi.

Pakar ekonomi kapitalisme, Sri Mulyani yang juga Menteri Keuangan Kabinet Indonesia Maju Jilid 2 pemerintahan Joko Widodo, berpesan kepada David Malpas saat resmi menjabat Presiden Bank Dunia 9 April 2019 lalu. Dia berharap Malpass memiliki fokus pada isu spesifik sebagaimana kepemimpinan Presiden Bank Dunia sebelumnya, yaitu akan memiliki perhatian untuk menyelesaikan isu atau program setiap negara, termasuk negara kecil, negara miskin dan rentan (fragile), dan negara kepulauan. “Yang harus dilakukan adalah memastikan bagaimana operasi Bank Dunia ke sebuah negara atau bagaimana janji Bank Dunia kepada negara terkait peningkatan modal kepada semua negara,” ujar mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia tersebut (Kontan.co.id, 12/4/2019).

Sistem yang bertumpu pada ekonomi ribawi telah menjerat setiap negeri. Sistem ini sangat sempit dan meremehkan persoalan (baca tak mampu melihat akar persoalan, sehingga solusi yang ditawarkan hanyalah ilusi) termasuk persoalan kemiskinan. Kemiskinan yang terjadi hari ini, bukanlah persoalan yang akan selesai dengan sekadar memberikan program perlindungan sosial maupun bantuan sosial semata. Program dan bantuan untuk rakyat memang diperlukan tetapi tidak cukup hanya itu. Apalagi hanya mengikuti arahan World Bank. Tentu tak akan menyelesaikan masalah. Belum lagi ternyata bantuan atau program yang digulirkan tidak tepat sasaran. Bahkan yang membuat miris dikorupsi oleh tikus-tikus berdasi.

Sistem demokrasi kapitalisme menciptakan kesenjangan abadi. Empat orang terkaya memiliki kekayaan yang senilai dengan 100 juta rakyat miskin. Budaya korupsi tumbuh subur, karena memang lahir dari rahim demokrasi. Sungguh kita merasa sangat miris, bantuan sosial untuk ‘wong cilik’ yang terdampak pandemi Covid-19 dikorupsi, bahkan oleh Menteri Sosial! Juliari Batubara, seorang menteri yang konon katanya berasal dari partai yang mengklaim membela ‘wong cilik’ tega makan bansos untuk kaum miskin dan papa.

Itulah demokrasi, sistem batil karena lahir dari pondasi sekularisme. Sebuah tatanan kehidupan yang mengandalkan akal manusia sebagai pemutus perkara. Menetapkan baik buruk, halal haram hanya mengikuti syahwat semata. Pantaslah lahir orang-orang yang berbuat kerusakan. Betul juga kata Mahfudz M.D, malaikatpun kalau masuk dalam sistem demokrasi akan berubah menjadi iblis? Begitulah sistem rusak melahirkan orang-orang berbuat kerusakan.

Tentu di tengah pandemi yang menimpa kita, kita rindu sosok pemimpin yang amanah. Rindu kita pada pemimpin yang dengan ketulusannya, dilandasi keimanan menjaga rakyat agar terhindar dari berbagai mara bahaya. Melindungi nyawa, harta, kehormatan, nasab (keturunan), akal, aqidah, agama dan negara. Pemimpin yang tidak hanya mengorbankan rakyatnya, demi para korporasi yang telah mendukung penguasa.

Rindukah kita pada pemimpin yang dengan kekuasaannya sabar me-ri’ayah urusan rakyat? Pemimpin yang menjadi khadimatul ummah (pelayan rakyat)? Pemimpin yang dengan tangannya sendiri memanggul gandum untuk wanita yang rumahnya dihiasi tangisan pilu anak-anak kelaparan? Kemudian memberikan dan melayani rakyat miskin? Takkan pernah muncul pemimpin amanah seperti itu, kecuali dalam sistem Islam. Sebuah sistem kehidupan yang di dalamnya diterapkan syariat Islam kaffah, dalam Khilafah. Sungguh kita butuh dan rindu khilafah. Wallahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *