Hadapi Corona, Lambat Tanggap Berujung Gagap

Hadapi Corona, Lambat Tanggap Berujung Gagap

Oleh : Nisa Revolter

WWW.POJOKOPINI.COM — negeri ini masih berduka. Pandemi covid-19 belum juga usai. Rakyat masih berjibaku melawan covid-19 ini. Upaya demi upaya telah dilalui untuk memutus mata rantai penyebaran virus ini. Dari rakyat biasa hingga penguasa turut andil bekerjasama melandaikan kurva penyebaran covid-19. Tak terkecuali tenaga medis, di berbagai daerah terus bergerak melayani pasien positif corona ataupun masih dalam pemantauan. Tenaga medis sebagai garda terdepan hadapi covid-19. Tak berlebihan jika mereka disebut sebagai “pahlawan kemanusiaan”. Namun sayang, jika para pahlawan ini tak dibekali dengan senjata medis maka tak ada bedanya mereka dengan rakyat biasa. Apalagi ada sebagian oknum seakan tak peduli persiapan protokol medis dan juga senjata pelindung bagi para tenaga medis.

Virus covid ini menyebar di dalam kerumunan massa maka pembatasan sosial menjadi salah satu usaha menghentikan penyebarannya. Termasuk di jalur transportasi, jikalau menyebar luas maka harus ditindaklanjuti cepat.

Inilah yang dikhawatirkan salah satu anggota DPRD Kota Baubau Provinsi Sulawesi Tenggara, Acep Sulfan. Seperti telah dilansir Baubau Post (04/05/2020), Acep Sulfan merasa geram atas sikap Direktur RSUD Baubau dr Nuraerni Djawa. Pihaknya menilai jika Direktur RSUD Baubau tidak kooperatif dalam menangani Covid-19 di Baubau. Pimpinan rumah sakit milik daerah itu enggan menyiapkan alat rapid test untuk memeriksa puluhan penumpang KM Mega Abdi yang tiba dari Obi, Maluku Utara.

Permintaan Acep Sulfan agar penumpang dirapid test bukan tanpa alasan, melainkan untuk mengetahui kondisi kesehatan para penumpang dan tidak menjadi kekhawatiran di tengah-tengah masyarakat atas kehadiran mereka.

Tidak mendapatkan kepastian, Acep segera mendatangi Sekber Gugus Tugas Covid-19 dan meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) menyiapkan rapid test yang mereka miliki. Namun jumlah Rapid test tersisa tinggal 10 unit, sementara ada 26 orang penumpang harus diperiksa.

Mengetahui hal itu, Acep pun meminta Dinkes mencari rapid test dari rumah sakit lain. Kemudian diperoleh pinjaman dari Rumah Sakit Bhayangkara Baubau.

Abai Bukan Solusi

Sangat disayangkan kasus ini terjadi. Apalagi di kondisi sedang mengganasnya virus covid-19. Bagaimanapun juga kerjasama itu perlu. Ditambah lagi seorang pimpinan adalah yang berhak me-manage bawahannya juga yang lebih besar perhatiannya terhadap kesehatan rakyat.

Ini baru satu kasus yang terpantau media, masih banyak lagi kasus serupa atau bahkan lebih parah dari kasus ini. Kelambanan dalam penanganan covid-19 ini menjadi bukti atas hilangnya rasa sensitif pimpinan atau otoritas daerah terhadap rakyatnya.

Tidak dapat dipungkiri, sesungguhnya semuanya telah tersistem. Otoritas daerah yang sebagai bawahan pusat menderita insensitif rasa menandakan atasannya juga pun mengajarkan hal demikian. Pepatah mengatakan “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya”. Inilah cerminan sistem kesehatan kita, lamban dan abai akan kesehatan rakyat.

Islam Solusi Tuntas

Sehat sesungguhnya sangat didambakan oleh semua orang. Saat sakit, segala upaya dicoba dan jika tak berhasil, maka rumah sakitlah sebagai tempat mengadu. Keberadaan rumah sakit yang memadai, baik dari sisi kuantitas maupun kualitas sangat dibutuhkan. Apalagi di tengah kondisi pandemi wabah. Seluruh ketersediaan alat medis misal ventilator dan APD (Alat Pelindung Diri) bagi tenaga medis, obat-obatan hingga alat pendeteksi seperti rapid rest sangat diperlukan. Begitupun juga vaksin untuk mencegah penularan yang hingga saat ini tengah diteliti dan ditunggu rakyat. Maka, rumah sakit bukan hanya sekedar tempat berharap sembuh tapi juga tempat pendidikan dan penelitian.

Tentu semua itu tak ditemui dalam sistem yang serba berbelit dan lamban seperti di negara kita ini. Semua hanya ada di dalam islam.

Jika kita buka dalam lembaran sejarah, telah tercatat dalam kegemilangan islam dengan rumah sakitnya yang menawan. Will Durant dalam The Story of Civilization menyatakan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya.  Contohnya, Bimaristan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160 telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis. Para sejarahwan berkata bahwa cahayanya tetap bersinar tidak pernah padam selama 267 tahun.”

Rumah sakit tersebut dilengkapi dengan peralatan paling modern dan tenaga dokter serta perawat yang profesional. Rumah sakit ini yang pertama kali menerapkan rekam medis (medical record). Khalifah, kepala negara juga membuka sekolah kedokteran di rumah sakit tersebut. Untuk memajukan sekolah, khalifah menghibahkan perpustakaan pribadinya dan para dokter pun sekaligus berprofesi sebagai pengajar.

Selain perawatan dan pendidikan, rumah sakit pun tetap memperhatinkan layanan kepada pasien. Seperti Rumah Sakit Baghdad, yang dibangun umat Islam ketika masa Kekhalifahan Harun Al-Rashid. Rumah sakit ini sangat memperhatikan kualitas layanan dan ketaatan yang kuat terhadap penggunaan obat-obat yang teruji secara ilmiah. Dengan kata lain, hanya obat yang telah teruji secara klinis yang diberikan kepada pasien.

Salah satu pemimpin rumah sakit ini adalah Al-Razi, ahli penyakit dalam terkenal. Al-Razi menulis banyak buku tentang kedokteran, salah satunya bertajuk al-Mansuri. Dalam buku tersebut dibahas tiga aspek penting dalam kedokteran, yaitu kesehatan masyarakat, pengobatan preventif, dan penanganan penyakit-penyakit khusus.

Buku-buku al-Razi banyak menjadi rujukan dan dipelajari di sekolah-sekolah kedokteran, termasuk di negara-negara Barat hingga saat ini. Dan masih banyak rumah-rumah sakit lain yang lebih menawan.

Jelaslah rumah sakit dalam islam bukan hanya untuk pelayanan kesehatan publik, tapi juga sebagai tempat pendidikan dan penelitian. Sistem kesehatan menjadi salah satu perhatian penting bagi negara. Itu dalam sistem islam. Di negara yang menerapkan islam sebagai acuan. Bahkan tercatat dalam sejarah. Islam yang terterapkan dalam bingkai daulah khilafah takkan berpisah dengan mengedepankan urusan rakyat.

Namun semua hanya ilusi jika sistem yang diterapkan seperti saat ini, yaitu sistem kapitalisme-sekuler, sebab rasa individualisme masih menghantui para pemangku kebijakan. Kesehatan rakyat seakan utopis belaka. Untuk itu sudah saatnya campakkan kapitalisme, dan berjuang dalam kembalinya peradaban islam gemilang. Mari kita songsong kebangkitan islam yang dirindukan.
Wallahu a’lam bishshowab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *