Hadiah Hari Ibu: Campakkan Kapitalisme, Tegakkan Sistem Islam

Sebagaimana pula segala sesuatu yang bertentangan dengan kondisi itu adalah ‘mimpi buruk’ bagi para Ibu. Saat anaknya tumbuh dengan gizi yang minus atau stunting, pendidikan yang ‘terancam’, kesehatan dan keamanan yang mengernyitkan dahi, dan tak ada jaminan penjagaan terhadap ketakwaan.


Oleh: Cut Putri Cory

POJOKOPINI.COM — Tak ada yang paling membuat bahagia kaum Ibu selain kebahagiaan bagi anak-anaknya. Generasinya tumbuh besar dengan gizi yang cukup, pendidikan yang melangit, kesehatan dan keamanan yang terjaga, pun terjaminnya penjagaan terhadap ketakwaan anak-anaknya tentu menjadi concern yang akan selalu diupayakan dan dirindukannya.

Sebagaimana pula segala sesuatu yang bertentangan dengan kondisi itu adalah ‘mimpi buruk’ bagi para Ibu. Saat anaknya tumbuh dengan gizi yang minus atau stunting, pendidikan yang ‘terancam’, kesehatan dan keamanan yang mengernyitkan dahi, dan tak ada jaminan penjagaan terhadap ketakwaan.

Ketika negara gagal menyuasanakan takwa bagi seluruh rakyat termasuk generasi, maka amoralitas dan dekadensinya pun menjadi konsekuensi logis. Generasi kita hari ini agaknya kenyang dengan berbagai bahaya di depannya, mulai dari narkoba, pornografi dan pornoaksi, serta semua yang termasuk rangkaian peristiwa kekerasan saat ini begitu marak terjadi pada generasi. Hampir-hampir kita bisa mengatakan, kalau tidak menjadi pelaku kekerasan, maka mereka sangat mungkin menjadi korban. Kekerasan apapun itu, baik verbal maupun fisik.

Jika sudah generasinya rusak, maka yang paling mudah untuk disalahkan adalah para Ibu. Mereka menjadi yang tersalah karena dianggap yang paling bertanggung jawab dalam pendidikan dan penjagaan generasi. Padahal tanggung jawab untuk menjaga generasi tak semata ada di pundak Ibu. Tugas berat ini ada pada pundak setiap anggota keluarga, kedua orang tua, termasuk seluruh elemen masyarakat dan negara.

Pada titik ini, kita sampai di tahap memahami bahwa memanglah sistem terapan adalah biang kerok baik atau buruknya kualitas generasi. Generasi tersuasana untuk menjauh dari Islam karena penerapan sistem kapitalisme meniscayakan sekularisme sebagai landasan berpikirnya (qaidah fikriyyah), sehingga hukum yang diterapkan sangat bertolakbelakang dengan Islam. Sudahlah tak dilandasi nash syara’, pun hukum yang ada justru merupakan buah pikir manusia yang pada faktanya banyak bertentangan dengan hukum syara’ itu.

Maka apa yang bisa kita harapkan dari sistem sekuler yang dijalankan dengan mesin sistem demokrasi ini? Kebaikan generasi adalah utopi, sehingga bahagianya para Ibu pun semakin terasa jauh. Tak mungkin. Justru yang ada penerapan sistem kapitalisme demokrasi memproduksi kerusakan generasi yang secara langsung juga berdampak pada kehancuran Ibu.

Di sisi lain, sistem ini menjadikan para Ibu tergerus dalam sekularisme sehingga banyak kaum Ibu yang tak memahami tugas mulianya dalam mendidik generasi. Belum lagi, iklim hedonisme yang menyeret kaum Ibu ke dunia kerja, meski pada faktanya, banyak sekali kaum Ibu yang dipaksa oleh sistem ekonomi kapitalisme yang mencekik untuk terus bekerja keras demi memberi makan perut anak-anaknya. Namun sangat penting untuk dipahami bahwa hal ini juga merupakan dampak dari penerapan sistem kapitalisme demokrasi.

Jadi, yang menjadi sebab kesedihan kaum Ibu adalah faktor sistemik. Ini karena ketiadaan sistem Islam sebagai pengatur kehidupan, tak ada penerapan syariat Allah yang holistik menyeluruh. Sehingga untuk membahagiakan kaum Ibu, khususnya di momentum Hari Ibu yang terus berulang adalah dengan mencampakkan sistem kapitalisme demokrasi dan menegakkan sistem Islam dalam Khilafah.

Mengganti sistem yang rusak dan merusak adalah kebutuhan faktual, sekaligus merupakan kewajiban syariat. Seluruh Ibu dan siapapun yang bertanggung jawab untuk mengelola negara ini harus memahami bahwa satu-satunya sebab rusaknya kaum Ibu dan generasi adalah karena pelanggaran syariat yang marak tersebab tidak diterapkannya hukum Allah, dan untuk memperbaiki semua masalah pelik umat ini adalah dengan penerapan hukum syariat itu. Di seluruh aspek kehidupan umat.

Inilah hadiah terbesar yang juga merupakan kewajiban. Dan kewajiban itu ada pada pundak seluruh umat Islam. Beri hadiah kaum Ibu dengan penerapan hukum Allah dan mencampakkan sistem selain Islam, maka bahagianya di dunia dan akhirat niscaya. Insya Allah.[]

DISCLAIMER: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.