HANI 2021: Menang Perang Melawan Narkoba dengan Islam

Nampaknya dengan hidup di balik dinginnya sel tahanan, bahkan sampai hukuman seumur hidup pun terbukti tak cukup ampuh untuk menuntaskannya. Dibutuhkan upaya dan usaha sungguh-sungguh untuk untuk mengakhiri gurita narkoba.


Oleh: Sri Puji Hidayati, M.Pd (Aktivis Muslimah & Pendidik Generasi)

POJOKOPINI.COM — Setiap tanggal 26 Juni diperingati sebagai Hari Anti Narkotika Internasional (HANI). Acara untuk memperingati HANI tak pernah terlewatkan setiap tahunnya, meskipun masih dalam kondisi pandemi. Pada hari senin, 28 Juni 2021, Badan Narkotika Nasional (BNN) menggelar puncak acara peringatan Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2021. Acaranya diselenggarakan di Balai Besar Rehabilitasi BNN Lido, Kabupaten Bogor.

Hadir dalam puncak acara peringatan HANI, yaitu Kepala Badan Nasional Narkotika (BNN) Republik Indonesia Petrus Reinhard Golose, serta beberapa tamu undangan. Wakil Presiden Ma’ruf Amin membuka acara peringatan HANI secara virtual di Istana Negara, Jakarta. Tema nasional yang diusung pada HANI 2021 adalah “Perang Melawan Narkoba (War On Drugs) di Era Pandemi Covid 19 Menuju Indonesia Bersih Narkoba (Bersinar)”(beritasatu.com, 28/06/2021).

Terbesit harapan yang besar dengan adanya acara peringatan HANI, yaitu untuk menyelamatkan generasi dari bahaya narkoba. Menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi negeri ini untuk mewujudkannya, mengingat kasus narkoba yang terjadi semakin meningkat setiap tahunnya. Adanya pandemi Covid-19 semakin menambah parah penggunaan narkoba. Dilansir dari beritasatu.com, 28/06/2021 jumlah penggunaan narkotika di dunia secara global terus mengalami peningkatan. Berdasarkan data World Drug Report tahun 2020, terdapat 269 juta orang yang menggunakan narkotika di seluruh dunia. Jumlahnya 30% lebih banyak dibandingkan pada tahun 2019.

Selain itu, menurut Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri Komjen Agus Andrianto, peredaran narkotika dan orang yang terjerat penyalahgunaannya masih cukup tinggi. Sepanjang Januari sampai Juni 2021, Polri telah berhasil mengungkap 19.229 kasus dan dari kasus tersebut sebanyak 24.878 orang ditangkap. Selama enam bulan, Polri telah menyita barang bukti berupa ganja 2,14 ton, sabu 6,64 ton, heroin 73,4 gram, kokain 106,84 gram, tembakau gorila 34 ton, dan ekstasi 239.277 butir (kompas.com, 14/06/2021).

Sungguh ironis, melihat fakta tentang kasus narkoba yang terjadi. Hal tersebut menunjukkan bahwa negeri zamrud katulistiwa ini masih menjadi ‘habitat nyaman’ bagi para pengedar dan pemakai barang haram itu. Tidak dipungkiri, persoalan tentang penyalahgunaan narkoba merupakan permasalahan global. Problem tersebut mengakibatkan dampak buruk di berbagai sektor kehidupan masyarakat, baik itu aspek kesehatan, pendidikan, pekerjaan, kehidupan sosial, maupun keamanan. Selain itu, kasus tentang narkoba di negeri ini sejatinya adalah persoalan yang usang. Meskipun perang melawan narkoba terus diteriakkan dan seabrek kebijakan dirumuskan dan berbagai upaya dilakukan, seperti melayangkan petisi dan kecaman untuk memerangi narkoba. Bahkan negeri ini sepertinya tidak pernah absen setiap tahunnya untuk memperingati HANI dengan berbagai tema.

Namun, sayangnya permasalahan tentang narkoba justru semakin meningkat dan para pengedar maupun pemakai tak pernah jera. Merebaknya kejahatan narkoba sebenarnya buah dari penerapan sistem sekularisme kapitalisme hari ini. Sistem tersebut melahirkan gaya hidup hedonisme, gaya hidup yang mendewakan kenikmatan jasmani.

Dalam pandangan kapitalisme, definisi kebahagiaan adalah terpenuhinya kesenangan jasmani setinggi-tingginya. Dengan adanya doktrin liberalisme yang mengajarkan bahwa setiap individu manusia harus diberikan kebebasan untuk mendapatkan kebahagian. Sehingga, membuat orang berlomba-lomba dalam kebebasan tanpa batas demi mengejar kebahagiaan dan materi yang sebesar-besarnya. Ditambah lagi adanya asas sekularisme yang memisahkan agama dari kehidupan, semakin merusak tatanan kehidupan masyarakat. Hal ini membuat agama hanya boleh mengatur urusan individu, tidak boleh dibawa ke dalam ranah urusan publik.

Bisnis narkoba merupakan bisnis yang menggiurkan. Hal ini menjadi alasan bagi pengemban ideologi kapitalisme untuk menggelar ‘dagangannya’, apalagi melihat fakta yang ada bahwa negeri ini merupakan pasarnya peredaran barang haram itu. Dalam hukum ekonomi kapitalisme yang kita pahami, jika ada suatu permintaan maka barang juga harus disediakan. Terlebih jika melihat keuntungan/materi yang melimpah dan itu sudah di depan mata. Tanpa memperdulikan bahaya apa yang akan terjadi, apalagi halal haramnya. Hal inilah yang terjadi di negeri ini, narkoba mudah didapatkan dan bebas diperjualbelikan. Generasi penerus bangsa menjadi taruhannya

Inilah pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, yaitu bagaimana menumpas peredaran narkoba dan menuntaskan persoalan tentang narkoba yang mendera negeri ini. Menuntaskan permasalahan tentang narkoba tidak semudah membalikkan tangan apalagi hanya dengan kedipan mata. Nampaknya dengan hidup di balik dinginnya sel tahanan, bahkan sampai hukuman seumur hidup pun terbukti tak cukup ampuh untuk menuntaskannya. Dibutuhkan upaya dan usaha sungguh-sungguh untuk untuk mengakhiri gurita narkoba.

Memutus mata rantai peredaran narkoba haruslah bersifat sistemis. Tidak hanya cukup sekadar mengajak masyarakat untuk bersama-sama memerangi narkoba. Akan tetapi perlu didasarkan atas penyadaran mengenai paradigma mendasar dalam hidup manusia. Setidaknya dibutuhkan sinergitas tiga unsur pokok untuk memberantas narkoba.

Ketiga unsur tersebut yaitu: pertama adalah individu yang berkepribadian Islam. Individu tersebut mempunyai ketakwaan, keimanan, dan mempunyai pondasi aqidah yang kokoh. Sehingga mereka tidak mudah tergoda menjadi pemakai ataupun pengedar narkoba, terlebih sebagai bandarnya. Individu yang berkepribadian Islam ini lahir dari sistem pendidikan Islam.

Kedua adalah masyarakat yang senantiasa beramar makruf nahi mungkar. Mereka yang peduli, tidak apatis serta tidak bersikap individualis. Adanya masyarakat yang bisa mengontrol lingkungan di sekitarnya. Mereka kembali mengambil peran pentingnya sebagai kontrol sosial dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara.

Ketiga adalah adalah hadirnya negara. Dimana negara menjadi pelindung dan pengatur urusan rakyatnya. Unsur pertama dan kedua tidak akan terwujud tanpa adanya dukungan dari negara. Hal itu disebabkan karena negaralah yang bisa membuat berbagai kebijakan untuk kehidupan rakyatnya. Oleh sebab itu, peran negara ini sangat penting. Berbagai kebijakan yang dirumuskan akan berpengaruh langsung mewarnai kehidupan.

Sinergitas tiga unsur (individu, masyarakat, dan negara) harus dapat diwujudkan dan berjalan secara bersamaan. Semua itu dapat terwujud tatkala Islam diterapkan secara menyeluruh dan paripurna di seluruh sendi kehidupan. Mimpi untuk memenangkan perang melawan narkoba dan negara bersih narkoba akan terwujud. Wallahu a’lam bi ashshawab.[]

DISCLAIMER:Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim dan dipublikasikan sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *