Haram Tetap Haram Meski 1000 Manfaatnya

Haram Tetap Haram Meski 1000 Manfaatnya

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S. Kom

Tanaman ganja kembali menjadi bahan perbincangan, setelah seorang anggota DPR komisi VI, Rafly Kande dari Fraksi PKS melontarkan usulan agar ganja jadi komoditas ekspor. Usulan itu disampaikan Rafly dalam rapat bersama Menteri Perdagangan di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (29/1/2020) lalu. (SerambiNews.Com)

Dia berpendapat ada peluang tanaman ganja bisa diatur dalam regulasi khusus, seperti bahan baku industri obat atau farmasi. Peneliti ganja dari Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh, Profesor Musri Musman menjelaskan dari hasil studi literatur yang ada, ganja memiliki sejumlah manfaat terutama dalam dunia farmasi. Mursi mengatakan sennyawa yang ada dalam tanaman ganja berpotensi untuk menyemuhkan berbagai macam penyakit.

“Di ganja telah ditemukan 1263 senyawa dan 144 diantaranya berpotensi sebagai obat-obatan, obat tersebut dalam konteks anti virus, anti bakteri hingga anti kanker” ujarnya seperti dikutip dari chanel Youtube KompasTV, Minggu (2/2/2020)
“Dapat ditanggulangi oleh penggunaan ganja, terutama kadar minyaknya” tegasnya

Minyak ganja disebut dengan Cannabidiol atau sering disingkat CBD yang merupakan hasil dari ekstra alami tanaman Cannabis Sativa alias Ganja. Musri menilai pernyataan yang dikeluarkan Rafly Kande merupakan sebuah langkah awal untuk menggali potensi yang ada di taman ganja.
“Sangat dibutuhkan di dalam pengobatan dalam bahan obat-obatan. Pak Rafly menangkap peluang tersebut. Makanya dijadikan komoditas eskpor “ imbuhnya

Musri melanjutkan saat ini permintaan akan ketersediaan CBD meningkat di pasar dunia. Di pasaran 1 gram CBD dihargai paling murah 60 Dollar atau Rp. 826.332,-. Tidak hanya sebatas obat, ganja juga memiliki komponen lain yang bermanfaat di bidang kehidupan lainnya. Seperti bahan baku pembuatan plastic biodegradable, bahan bangunan, keperluan ototmotif hingga pupuk.

Pernyataan dari Rafly Kande sungguh mengejutkan publik, terutama masyarakat Aceh. Pasalnya ia meminta legalisasi untuk mengekspor ganja ke luar agar menjadi komoditas dari obat-obatan. Sedangkan pada hakikatnya, meski Aceh adalah wilayah yang subur akan barang haram itu tetap saja ia tak berfikir bagaimana nantinya kelanjutan dari para pemuda yang sudah dimabuk ganja.

Harusnya Rafly menyadari seberapa buruk citra masyarakat Aceh di luar sana, hanya karena di Aceh ladang subur ganja bukan berarti masyarakatnya menyetujui hal itu. Karna efek yang ditimbukannya itu sangat berbahaya tentunya, belum lagi ejekan dan cemohan yang diterima pemuda Aceh jika keluar dari wilayahnya.

Dan pernyataan Rafly seolah seperti angin segar di saat kemarau, sambutan dari pemuda Aceh sungguh luar biasa mereka langsung membuat seminar dan mendatangkan seorang Profesor ahli sebagai narasumbernya. Professor inilah yang kemudian mengatakan banyaknya manfaat apabila kita kemudian mengembangkan ladang ganja ini menjadi sebuah bisnis. Dan pastinya akan membantu pendapatan negara juga.

Seolah-olah tidak ada cara lain untuk dijadikan bisnis di negeri ini, sehingga hal haram pun yang dilarang agama kemudian dicari manfaatnya. Untuk menambah pendapatan negara tidak harus melakukan perbuatan yang tidak diridhoi Allah. Banyaknya para Professor namun berfikir begitu sempit, entah karena lamanya hidup dalam dunia kapitalis. Sehingga semua dilegalkan selama memberi manfaat, bukan kah kapitalis seperti itu?

Meski demikian PKS memahami UU Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika tegas melarang ganja dan mengkategorikannya sebagai Narkotika golongan I atau dilarang untuk pelayanan kesehatan. Sehingga kemudian meluruskan bahwa itu adalah usulan pribadi dari Rafly tidak mewakili suara PKS. Meski Rafly juga sudah meminta maaf namun kehebohan masih saja terjadi hingga saat ini, bahkan banyak juga yang kemudian mendukung langkahnya itu.

Saat di undang dalam Progaram Sapa Indonesia malam, Arsul menegaskan sikap PPP yang jelas menolak ide legalisasi ganja. Setidaknya ada dua hal yang mendasari sikap PPP ini, yaitu Pertama, Arsul membeberkan legalisasi ganja pada dasarnya bertentangan dengan aturan hukum yang dimilik Indonesia. Alasan kedua adalah,ide tersebut bertentangan dengan semangat yang di usung PPP sebagai partai berasaskan nilai-nilai keislaman.

Pandangan Islam tentang Narkoba


Hukum penggunaan narkoba dalam pandangan islam sebenarnya telah dijelaskan sejak lama. Tepatnya pada 10 Februari 1976, Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan fatwa bahwa penyalahgunaan dan peredaran narkoba hukumnya bersifat haram. Keputusan tersebut tentu didasari atas dalil-dalil agama yang bersumber dari Al-quran dan hadist.

Menurut ulama, narkoba adalah sesuatu yang bersifat mukhoddirot (mematikan rasa) dan mufattirot (membuat lemah). Selain itu, narkoba juga merusak kesehatan jasmani, mengganggu mental bahkan mengancam nyawa. Maka itu, hukum penggunaan narkoba diharamkan dalam islam

Dalil-Dalil yang Mengharamkan Narkoba


Terdapat banyak sekali dalil, baik ayat Al-quran, hadist ataupun pendapat ulama yang menjelaskan keharaman penyalahgunaan narkoba. Diantaranya yaitu:
Dari Ummu Salamah mengatakan, “Rasulullah SAW melarang segala sesuatu yang memabukkan dan melemahkan (menjadikan lemah).” (HR Abu Daud).

“Memakan (mengisap) ganja yang keras ini terhukum haram, ia termasuk seburuk-buruk benda kotor yang diharamkan. Sama saja hukumnya, sedikit atau banyak, tetapi mengisap dalam jumlah banyak dan memabukkan adalah haram menurut kesepakatan kaum Muslim. Barangsiapa yang menganggap bahwa ganja halal maka dia termasuk kafir dan diharuskan bertobat. Jika ia bertobat maka urusannya dianggap selesai. Tetapi jika ia tidak mau bertobat maka dia harus dibunuh sebagai orang murtad yang tidak perlu dimandikan jenazahnya, tidak perlu dishalati dan tidak boleh dikubur di permakaman kaum Muslim”. (Ibnu Taimiyah)

Dalam kitab al-fatawa al-kubra, ibnu taimiyah juga mengatakan bahwa segala sesuatu yang bisa menghilangkan keasadaran akal itu adalah haram, meskipun tidak sampai memberi efek memabukkan. Mengonsumsi sesuatu yang menghilangkan akal adalah haram berdasarkan ijma’ kaum muslimin.
Ash-shan’ani menjelaskan dalam kitab subulussalam, bahwa sesungguhnya segala sesuatu yang memabukan adalah haram, apapun jenis dan bentuknya. Tidak harus alkohol. Meskipun bukan berbentuk minuman, seperti ganja tetap saja haram.

Jadi sangat jelas bahwa dalil-dalil ini memperkuat dugaan bahwa sesuatu yang haram meski tidak memabukkan tetap saja haram. Meski dikatakan 1000 manfaat nya dan bisa mengobati segala jenis penyakit, jika masih ada yang halal mengapa harus mencari yang haram. Inilah kapitalis selalu mencari manfaat, tidak mau tahu bahwa nantinya akan merusak akal generasi. Sehingga jadilah orang-orang yang malas berfikir.

Karena itu ketika akidah kapitalis meraja maka pemisahan agama dan kehidupan semakin nyata. Tak bisa kita berharap pada kefasadan sistem saat ini, cukuplah kita dibodohinya dan betapa lelahnya hidup disistem ini. Sehingga rasanya kita benar-benar butuh Islam ditegakkan secara kaffah di muka bumi ini, sehingga generasi terlindungi dan terjaga akalnya Wallahu ‘Alam. []

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *