Hentikan Apartheid yang Dilakukan Israel di Palestina, Begini!

Berharap pembebasan Palestina dari pendudukan Israel dengan HAM ibarat mengecat langit, sebuah kemustahilan yang pasti. Mana mungkin kita bisa, kecuali cat itu tumpah muntah ke wajah kita sendiri. Umat Islam selayaknya melihat hal ini, berpaling dari HAM dan menuntut penyelesaian ala Islam dengan membentuk kesadaran politik umat Islam global yang bersatu.


Oleh: Cut Putri Cory (Aktivis Muslimah)

POJOKOPINI.COM — Lembaga pemantau hak asasi manusia, Human Rights Watch (HRW), menuduh Israel melakukan kejahatan apartheid terhadap orang-orang Palestina (CNN Indonesia, 28/04/2021). Semua itu dituangkan HRW yang berbasis di New York dalam laporan setebal 213 halaman. Laporan ini memperbandingkan antara Israel dengan era apartheid Afrika Selatan. Laporan juga menilai apakah tindakan dan kebijakan tertentu, merupakan tindakan apartheid sebagaimana didefinisikan dalam hukum internasional.

Dalam laporannya, HRW menyoroti pembatasan mobilitas warga Palestina sebagai contoh kebijakan kejahatan apartheid dan penganiayaan. Selain itu, contoh lainnya, yaitu Israel melakukan penyitaan tanah milik Palestina untuk permukiman Yahudi di wilayah pendudukan yang direbut Israel dalam Perang 1967.

Di seluruh Israel dan (wilayah Palestina), otoritas Israel telah mengejar niat untuk mempertahankan dominasi atas Palestina dengan melakukan kontrol atas tanah dan demografi untuk kepentingan orang Israel Yahudi,” kata laporan HRW sebagaimana dikutip Reuters, Selasa (27/4/2021).

Apartheid, seperti dikutip dari elsam.or.id, adalah sebuah sistem pemisahan berdasarkan ras, agama dan kepercayaan, diskriminasi etnis dan pemisahan kelas sosial, dimana kelompok mayoritas mendominasi kelompok minoritas. Karakteristik yang muncul adalah pemisahan secara fisik serta wilayah setiap ras, kemudian diskriminasi terhadap distribusi servis dan jasa publik. Apartheid memaksakan sebuah praktek yang mirip dengan perbudakan dalam berbagai bagian kehidupan berdasarkan karakteristik berbeda, seperti ras. Apartheid adalah pelanggaran terhadap hak asasi manusia dan merupakan kejahatan Internasional.

Peningkatan tensi ‘serangan’ Israel atas Palestina terjadi sejak awal Ramadan. Dilansir di Daily Sabah, Kamis (29/4/2021), setiap Jumat, ribuan jamaah Palestina dengan cemas mencoba untuk menghadiri shalat Jumat di Masjid Al-Aqsa. Mereka melewati langkah-langkah ketat tentara Israel, melewati banyak penghalang ketika polisi Israel meningkatkan penjagaan di sekitar Yerusalem.

Pada dini hari, otoritas pendudukan Israel menutup pos pemeriksaan yang memisahkan Yerusalem dari sisa Tepi Barat dan mengerahkan polisi untuk melintasi Kota Tua. Tujuannya adalah untuk menghalangi pergerakan orang Palestina dan memaksa mereka berjalan lebih jauh untuk mencapai Yerusalem.

Dominasi Israel atas Palestina adalah fakta penjajahan, dan situasi di kawasan dalam bulan Ramadan ini benar-benar semakin memanas. Beberapa kali terjadi bentrokan antara massa yahudi dan kaum Muslimin yang menuntut pembebasan. Ekstremis Yahudi meningkatkan serangannya, bahkan berupaya menyerbu Masjid Al-Aqsa. Mufti Agung Yerusalem sekaligus Imam Masjid Al Aqsa, Syekh Muhammad Hussein, menyebut mereka telah membuka pintu menara Masjid dan memutus kabel listrik pengeras suara untuk mencegah Azan berkumandang. “Mereka menyita makanan berbuka puasa saat Ramadan, selain mengancam akan menyerbu Masjid di hari-hari terakhir bulan suci Ramadan,” kata Syekh Hussein dilansir dari Middle East Monitor (20/4/2021).

Menurut Jerusalem Post, Kepala Militer Israel, Kochavi membatalkan kunjungannya karena untuk meningkatkan persiapan terkait situasi di Jalur Gaza. Selama pertemuan di markas IDF Divisi Gaza, Kochavi melakukan penilaian situasi dan memerintahkan pasukan untuk bersiap menghadapi berbagai skenario. Dia juga berbicara dengan kepala permukiman Israel di dekat Gaza dan menyatakan penghargaannya atas “kepemimpinan dan ketahanan mereka.”

Dalam beberapa hari terakhir, kami menghadapi peristiwa kekerasan di beberapa lokasi di front Palestina, dan kami bertindak untuk memulihkan stabilitas dan perdamaian komunitas di selatan,” ujar Kochavi (Republika, 27/4/2021).

HAM yang tak Bertaji di Hadapan Israel

Mutiara Masjid Al-Aqsa menjadi titik pertikaian konstan dalam konflik Palestina-Israel. Ini merupakan wilayah yang paling diperebutkan di Tanah Suci sejak Israel menduduki Yerusalem Timur termasuk Kota Tua pada tahun 1967, bersama dengan Tepi Barat dan Jalur Gaza. Ketegangan telah membara di dekat Al-Aqsa selama beberapa tahun terakhir. Semakin Israel mengeluarkan taringnya, semakin berbondong-bondong umat Islam tak gentar mempertahankan diri di bumi Ribath tersebut. Bertahun-tahun bentrokan terus terjadi ketika orang-orang Yahudi mencoba memasuki kompleks masjid untuk memperingati hari raya Yahudi atau mencaplok tanah rakyat Palestina. Bentrokan yang terjadi pada bulan Ramadan pun tak terelakkan, hampir setiap bulan puasa ekstremis yahudi mencoba merangsek masuk ke kompleks Masjidil Aqsa.

Escalating the demographic war: The strategic goal of Israeli racism in  Palestine – Middle East Monitor

Berbagai negara menjadi saksi atas penjajahan yang dilakukan Israel atas Palestina, namun pembelaan tak keluar dari mulut mereka kecuali diplomasi kosong yang tak bertaji. HAM yang didengungkan sakti tak berlaku untuk Palestina, justru HAM ini merupakan alat untuk legitimasi stigma atas Islam dan syariatnya, bukan sebenar-benar tujuan untuk menjunjung tinggi kemanusiaan.

Entah berapa nyawa lagi yang harus dikorbankan untuk membuktikan kepada dunia bahwa Israel tak mengerti kecuali diplomasi kecuali dengan ‘bahasa pedang’, karena pada faktanya negeri-negeri Muslim di dunia telah terbungkam melalui pengadopsian kapitalisme demokrasi hasil impor dari Amerika yang merupakan pelayan setia Israel.

Apartheid yang berhasil dibuktikan oleh Human Right Watch agaknya tak lebih sekadar omong kosong yang takkan menjadi palu untuk menghentikan penderitaan Palestina. Itu hanya pemanis untuk menampakkan kepada umat Islam yang ‘terbuai’ dengan HAM, agar semakin tertipu dengan racun berbalut madu HAM yang dicekoki ke dalam pemikiran umat ini.

Palestina, Tanggung Jawab Siapa? - dakwatuna.com

Berharap pembebasan Palestina dari pendudukan Israel dengan HAM ibarat mengecat langit, sebuah kemustahilan yang pasti. Mana mungkin kita bisa, kecuali cat itu tumpah muntah ke wajah kita sendiri. Umat Islam selayaknya melihat hal ini, berpaling dari HAM dan menuntut penyelesaian ala Islam dengan persatuan membentuk kesadaran politik umat Islam global yang bersatu.

HAM mengajari kita bagaimana berpura-pura empati padahal tetap membiarkan ribuan nyawa kaum Muslimin Palestina tumpah. Pembantaian tetap dilakukan, dominasi atas tanah dan harta rakyat Palestina terus terjadi sejak lama, dan HAM hari ini mendeklarasikan empati palsunya atas penderitaan yang masih terus berlangsung itu.

Urgensi Kesadaran Politik Islam

Kenapa hari ini kita tak mampu mendeteksi penjajah sebagai lawan adalah akibat dari jauhnya kita dari kesadaran politik Islam. Umat ini dibuat terbuai dengan janji palsu sejahtera dan damai dalam naungan kapitalisme demokrasi, tak melirik Islam sebagai sebuah ideologi yang memiliki institusi politik penerap syariat Allah yang kaffah.

Kesadaran politik yang lemah itu pula yang pada akhirnya menjadikan umat ini tak kuasa untuk bangkit, pemikiran umat ini digerogoti sekularisme yang menjadi ruh daripada kapitalisme. Dipisah agama dari kehidupan, alhasil umat ini tak melihat Islam sebagai problem solving untuk seluruh urusannya. Inilah yang menjadi sumber malapetaka, sekularisme.

Uni Eropa Desak Israel Hentikan Penghancuran Bangunan Warga Palestina –  KUPAS MERDEKA

Dalam melihat Palestina, kita dibuat berputar-putar pada win win solution yang sejatinya merupakan pembodohan yang memenangkan Israel. Solusi dua negara yang diinisiasi Amerika adalah racun bagi umat Islam, karena Israel adalah penjajah yang mencaplok wilayah kharajiyah milik umat Islam.

Pun kesadaran politik umat harus sampai pada paradigma Islam dalam bernegara, karena memang pada faktanya Islam punya konsep kepemimpinan, konsep bernegara. Islam pernah berjaya dalam naungan Khilafah, dan sebagaimana dijanjikan Nabiyullah Muhammad Saw dalam haditsnya, Khilafah akan kembali. Dan seluruh elemen umat harus memahami bahwa pembebasan atas penderitaan yang dialami Baitul Maqdis takkan pernah menemui ujungnya kecuali Khilafah yang melakukan pembebasan itu.

Umar bin Khaththab dan Shalahuddin al Ayyubi adalah saksi yang sampai hari ini masih bisa kita dengar dan saksikan kisahnya tentang betapa kuatnya bargaining power Islam dalam menjaga Baitul Maqdis, menciptakan keamanan antar manusia apapun agamanya, sekaligus menyejahterakannya. Inilah yang merupakan agenda besar umat Islam, mewujudkan kembali kesadaran politik itu, dan bersatu.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *