Hilangnya Kasih Sayang Remaja

Hilangnya Kasih Sayang Remaja

Oleh: Syifa Putri
Ummu wa Rabbatul Bayt dan Pegiat Dakwah Kab. Bandung

WWW.POJOKOPINI.COM — Sistem sekuler yang sedang diterapkan di Indonesia saat ini, yaitu dimana aturan kehidupan dipisahkan dari aturan agama, merupakan biang keladi atas semua permasalahan yang terjadi. Bagaimana tidak? Baru-baru ini terjadi kasus yang sangat mencengangkan, yaitu seorang remaja berumur 15 tahun berinisial NF, tega membunuh teman main adiknya berinisial APA yang masih berumur 6 tahun, dengan cara ditenggelamkan di dalam bak kamar mandi rumahnya.

Lebih parahnya lagi, setelah melakukan pembunuhan tersebut, dia tidak merasa bersalah dan malah merasa puas. Seperti pengakuanya setelah menyerahkan diri ke kantor polisi sektor Metro Taman Sari Jakarta Pusat (6/3).

Saat ini kepolisian telah mengumpulkan barang bukti yang terdiri dari dua bagian. Bagian pertama adalah alat yang dipakai membunuh. Sedangkan bagian kedua adalah gambar-gambar dan catatan harian pelaku sebanyak 14 lembar serta satu gambar perempuan yang sedang terikat. Saat NF ditanya mengenai gambar tersebut, ia menjelaskan bahwa gambar tersebut adalah cerita di mana penyiksa dan tersiksa sama-sama merasa senang.

Berdasarkan pengakuannya, dia juga mengaku suka menonton film horor. Diantaranya Slender Man dan Chucky. Sebagaimana dikisahkan Slender Man adalah karakter supernatural fiksi yang digambarkan sebagai sosok kurus tinggi dengan kepala tanpa wajah. Sedangkan Chucky adalah karakter arwah pembunuh berantai yang masuk ke dalam tubuh boneka.

Sementara itu pemerhati anak, Seto Mulyadi alias Kak Seto, mengatakan kasus mengejutkan ini tak lepas dari lemahnya peran orang tua dan lingkungan sekitar NF yang abai dengan gejala kejiwaan pelaku. Seto menduga NF mengalami gangguan kejiwaan callous-unemotional (CU), semacam gejala mengarah pada perilaku psikopat. Seto mengatakan tidak sedikit anak yang memiliki gejala gangguan kejiwaan seperti itu.

Gejalanya berupa perubahan sikap anak atau remaja yang cenderung kekurangan empati, seperti menyiksa binatang. Gangguan kejiwaan itu, kata dia, sebetulnya bisa segera diatasi jika orang tua peduli dengan perubahan sikap anak. Terlebih perubahan sikap saat anak mulai beranjak remaja, ujarnya kepada CNN Indonesia (9/3).

Bisa kita simpulkan dari paparan cerita tersebut, faktor keretakan rumah tangga dan tontonan film kekerasan dianggap menjadi pemicu tindakan tersebut. Apabila melihat dari segi pendidikan, pelaku adalah anak yang pintar dan berprestasi. Hal ini telah membuktikan bahwa sistem sekuler liberal mencetak generasi yang pintar tanpa ada akhlak di dalamnya, sehingga mencabut rasa kemanusiaan dan menghasilkan perempuan tanpa belas kasihan.

Sistem kapitalis-sekuler telah menyita sebagian besar waktu dan tenaga siswa sehingga mengabaikan aspek pembentukan kepribadian yang kuat. Dengan kurikulum sekuler-kapitalis, para pelajar terbentuk menjadi peribadi yang kering jiwa, keras mental, bahkan jumud dari mencari solusi berbagai persoalan yang menimpanya.

Kata iman dan takwa tidak lebih dari lips servis. Kata iman dan takwa tidak terwujud dalam kenyataannya. Padahal sejatinya apabila strategi pendidikan sejalan dengan tujuan, maka akan dihasilkan target optimal, yaitu terbentuknya generasi ideal. Namun faktanya menunjukkan bahwa ada perbedaan antara konsep dan metode pelaksanaannya. Ditambah sikap keluarga yang abai akan pendidikan anak-anaknya.

Hal ini tidak terjadi dengan sendirinya, akan tetapi karena sistem kapitalis-sekuler. Kapitalisme telah menyebabkan beban hidup semakin berat pada setiap keluarga. Keluarga pun harus memutar otak mencari penghidupan. Dengan dalih mencari penghidupan yang layak, ayah dan ibu sibuk bekerja siang dan malam, akhirnya anak pun diabaikan. Peran ibu sebagai pendidik yang pertama bagi anak-anaknya, jadi tidak tertunaikan, tidak sempat memberikan perhatian dan kasih sayang yang paripurna.

Karena sibuk di luar rumah akhirnya para ibu banyak yang tidak lagi memberikan arahan akan kehidupan yang harus dicapai anak-anaknya. Sempitnya waktu bersama, anak pun terdidik dengan televisi, internet, handphone dan media elektronik lainnya.

Untuk itu dibutuhkan peran dari berbagai unsur, yaitu sekolah, keluarga, masyarakat dan negara. Keseluruhannya bertanggung jawab dalam membentuk kepribadian remaja yang dibangun atas iman dan takwa kepada Allah Swt. Semuanya harus bersinergi untuk mewujudkan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan remaja.

Keluarga merupakan institusi pertama dan utama yang melakukan pendidikan dan pembinaan terhadap anak. Di sanalah pertama kali dasar-dasar keislaman ditanamkan. Anak dibimbing orang tuanya, bagaimana dia mengenal Penciptanya, agar dia kelak menaati Sang Pencipta Allah Swt.
Rasullulah saw. bersabda:
“Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan suci, ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi (penyembah api dan berhala)”.(HR.Al-Bukhari, Muslim, Malik, Ahmad, At-Tirmidzi).

Masyarakat, yang menjadi lingkungan remaja menjalani aktivitas sosialnya, mempunyai peran yang besar juga dalam mempengaruhi baik buruknya proses pendidikan. Karena remaja merupakan satu bagian yang tidak terpisahkan dari masyarakat, maka interaksi dalam lingkungan ini sangat diperlukan dan berpengaruh dalam pertumbuhan dan perkembangan remaja. Masyarakat yang terdiri dari sekumpulan orang yang mempunyai pemikiran dan perasaan yang sama, serta interaksi mereka diatur dengan aturan yang sama.

Pemerintah, memiliki peran paling penting dan strategis. Melalui pemberlakuan sistem pendidikan secara paradigmatik. Pendidikan harus dikembalikan pada asas akidah Islam yang akan menjadi dasar penentuan arah dan tujuan pendidikan. Negara sebagai penyelenggara pendidikan wajib menyediakan guru yang kompeten serta menjamin seluruh biaya sekolah, sehingga tidak menjadi beban orang tua. Lebih dari itu, negara juga wajib mengontrol dan menindak tegas hal-hal yang bisa merusak generasi, terutama media yang memberikan pengaruh buruk dalam pendidikan dan pembinaan anak.

Peran negara yang seperti ini tentu tidak akan terwujud dalam tatanan sistem kapitalis. Hanya negara yang menerapkan Islam secara kaffah-lah yang mampu melakukan peran strategis ini. Oleh karena itu, hanya tatanan Islam dalam institusi Khilafah Islamiyah-lah yang mampu menghapus potret buruk remaja dan generasi ini menjadi potret cemerlang dan gemilang.
Wallahu a’lam bi as-Shawwab.[]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *