Himpitan Ekonomi Nyawa Anak Dihabisi, Kapitalisme tak Manusiawi

Bila perasaan keibuan telah tercabut dari hati para ibu, lalu akan kemana umat memercayakan pengasuhan terbaik bagi lahirnya generasi berkualitas? Maka, umat membutuhkan sistem alternatif untuk menggantikan kapitalisme. Dan hanya sistem Islamlah yang layak menjadi penggantinya.


Oleh: Dwi Indah Lestari, S.TP (Pemerhati Persoalan Publik)

POJOKOPINI.COM — Malaikat tak bersayap. Itulah julukan luar biasa untuk sosok seorang ibu. Ia diibaratkan sebagai malaikat yang seharusnya memiliki hati penuh dengan kelembutan dan kasih sayang untuk buah hatinya. Namun kenyataan pahit terjadi hari ini, saat sistem hidup yang rusak telah menjadikan sang malaikat tercabut nuraninya hingga tega menghabisi nyawa anaknya. Tragis.

Diduga karena himpitan ekonomi, seorang ibu di Nias Utara sampai hati membunuh 3 orang anaknya sekaligus, dengan cara menggorok leher ketiganya. Peristiwa memilukan ini terjadi saat suami dan anggota keluarga yang lain justru sedang menunaikan hak pilihnya di pilkada, 9 Desember lalu (viva.co.id, 13 Desember 2020).

Sementara itu, beberapa waktu lalu, publik pun dikejutkan dengan peristiwa tragis, seorang anak perempuan usia 8 tahun yang harus meregang nyawa di tangan ibunya sendiri, pada 26 Agustus 2020, di Jakarta Pusat. Persoalan yang melatarbelakangi si ibu hingga tega menganiaya anaknya sampai tewas adalah, karena sang anak tak juga mengerti saat diajari selama belajar daring (kompas.tv, 15/12/2020).

Kapitalisme Gagal Mewujudkan Kesejahteraan

Mencermati dua kasus di atas semakin menambah deretan persoalan di masyarakat yang disebabkan oleh kerusakan sistem hidup yang tak manusiawi yang berlaku saat ini, yaitu kapitalisme. Himpitan ekonomi memang sering menyebabkan stres. Akibatnya adalah membuat seseorang, tak terkecuali seorang ibu sanggup berbuat di luar nalar sehatnya

Kemiskinan yang merajalela saat ini bukan dibentuk secara kultural saja, namun karena secara struktural, sistem yang diterapkan telah menihilkan kesempatan bagi rakyat untuk dapat hidup sejahtera. Sistem ekonomi kapitalis yang diberlakukan, membuat segelintir orang bermodal besar dapat memprivatisasi sumber daya alam yang seharusnya menjadi milik rakyat.

Akibatnya para kapital bergelimang harta. Sementara negara hanya mendapat porsi kecil saja sebagai pemasukan. Tentu tidak cukup untuk dapat memenuhi tanggungjawabnya dalam memberikan jaminan pemenuhan urusan rakyat. Sedangkan rakyat semakin sempit kehidupannya dengan berbagai pungutan pajak yang diambil untuk membiayai operasional negara.

Pandangan materialistik juga menyebabkan segala sesuatu diukur dengan uang. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-harinya rakyat harus membayar. Bukan hanya makanan, pakaian, dan tempat tinggal saja, bahkan air, gas, dan listrik harus dibeli. Pendidikan dan kesehatan pun tak luput dari pungutan. Pemenuhan hak-hak hidupnya diserahkan pada kemampuan individu masing-masing.

Sementara negara seakan berlepas tangan dari kesulitan hidup yang menimpa rakyatnya. Sudah lazim memang dalam sistem kapitalistik saat ini, peran negara dalam mengurusi urusan rakyatnya memang diminimalkan. Semua diserahkan pada pasar bebas yang berlaku. Interaksi yang berlangsung tak ubahnya seperti transaksi jual beli.

Korporasi berperan sebagai penyedia produk dan jasa, sementara rakyat adalah konsumennya. Sedangkan negara hanya sebagai regulator yang menyiapkan berbagai regulasi yang mengatur mekanisme pasar ini berjalan. Wajarlah bila kemudian dalam negara yang menerapkan sistem ekonomi kapitalis, kebijakan yang dilahirkan banyak berpihak pada para pemilik kapital. Apalagi sudah menjadi rahasia umum, para pengusaha inilah yang banyak memberikan sumbangsih hingga penguasa dapat bertahta.

Sementara penguasa pun tidak menyediakan mekanisme yang jelas bagaimana rakyat bisa membayar itu semua. Bahkan untuk bekerja agar diperoleh sejumput rupiahpun sangat sulit. Lapangan pekerjaan minim, sedangkan peminatnya berlimpah. Kalaupun ada, mirisnya malah diserahkan kepada tenaga kerja asing. Sedangkan rakyat bergelut dengan jenis pekerjaan yang gajinya tidak layak, hingga tidak bisa mencukupi keperluan hidupnya dan keluarganya. Bantuan dari negara pun nilainya sangat kecil dibandingkan dengan harga-harga kebutuhan yang terus melambung tinggi.

Wajarlah bila kemudian kemiskinan dan kesenjangan akut semakin membuat kehidupan rakyat terjepit. Pergantian kepemimpinan pun tidak mampu membuat harapan kesejahteraan yang diimpikan terwujud. Rakyat terus menjadi korban sementara para kapitalis berpesta pora mengeruk keuntungan dari derita umat. Hal ini membuktikan bahwa negara telah gagal menjamin kesejahteraan yang adil dan merata untuk rakyat.

Kondisi inilah yang melatarbelakangi para orangtua termasuk kaum ibu, mengambil jalan sesat dengan membungkam nuraninya sebagai ibu yang seharusnya mengasihi dan melindungi anak-anaknya. Khawatir akan masa depan buah hatinya yang tak jelas serta merasa gagal membahagiakan mereka, kemudian mengambil langkah sadis dengan menghilangkan kehidupan anak-anaknya.

Hidup Sejahtera di Bawah Naungan Islam

Bila perasaan keibuan telah tercabut dari hati para ibu, lalu akan kemana umat memercayakan pengasuhan terbaik bagi lahirnya generasi berkualitas? Maka, umat membutuhkan sistem alternatif untuk menggantikan kapitalisme. Dan hanya sistem Islamlah yang layak menjadi penggantinya.

Dalam Islam, seorang pemimpin adalah pengurus umat. Sebagaimana sabda baginda Nabi Saw, “Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus” (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Untuk itu Islam mewajibkan imam kaum muslimin (khalifah) untuk menjalankan seluruh syariat Allah dalam rangka menunaikan tugasnya itu. Dorongan keimanan yang menjadikannya takut bila melalaikan amanah kekuasaan yang diberikan umat di pundaknya. Khalifah wajib untuk menjamin pemenuhan seluruh kebutuhan pokok dan dasar rakyat.

Mekanisme yang dijalankan untuk itu ada dua. Pertama dalam memenuhi kebutuhan pokok rakyat, berupa pangan, sandang dan papan, maka khalifah memberlakukan mekanisme pemenuhan secara tidak langsung. Mekanisme ini adalah dengan mewajibkan para bapak (laki-laki) untuk bekerja. Dengan bekerja manusia akan mendapatkan harta yang bisa dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan pokok dirinya dan nafkah bagi keluarganya.

Untuk itu negara berkewajiban untuk menyediakan lapangan kerja seluas-luasnya. Negara juga menjamin upah yang diterima dari hasil bekerja harus dapat memenuhi keperluan mereka, baik primer, sekunder maupun tersier. Negara juga bisa memberikan tanah yang mati kepada seseorang yang mampu menghidupkannya.

Bila karena sesuatu hal, seorang bapak atau suami tidak mampu bekerja, maka pemenuhan nafkah para ibu dan anak-anak dikembalikan pada walinya. Bila wali atau kerabatnya pun miskin, maka negaralah yang akan mengambil alih untuk memenuhi nafkah mereka. Dengan begitu jaminan pemenuhan kebutuhan pokok rakyat dapat diwujudkan.

Sementara untuk pemenuhan kebutuhan dasar rakyat, yaitu kesehatan dan pendidikan, maka khalifah akan menerapkan mekanisme langsung. Yang dimaksud di sini adalah, negara yang akan secara langsung menyediakan dan membiayainya. Negara akan mendirikan rumah sakit-rumah sakit yang jumlahnya mencukupi dan merata di seantero wilayah. Rumah sakit tersebut dilengkapi dengan fasilitas dan sarana prasarana yang modern untuk dapat memberikan pelayanan kesehatan terbaik.

Negara juga menyediakan para tenaga medis, baik dokter, perawat, ahli gizi dan lain-lain. Gaji dan berbagai tunjangan untuk mereka pun akan diberikan secara mencukupi oleh negara. Begitu juga dalam pendidikan, negara akan membangun seolah-sekolah dengan dilengkapi fasilitas penunjangnya. Negara juga akan mengangkat tenaga pendidik dan membayarkan gajinya.  Semua pembiayaan tersebut akan diambil dari kas negara, yaitu Baitul Maal.

Ada berbagai macam sumber yang menjadi pemasukan bagi Baitul Maal, diantaranya dari zakat, kharaj, fa’i, ghanimah dan lain-lain. Negara juga akan mengelola harta milik umat secara independen, kemudian mengembalikan hasilnya untuk memenuhi kebutuhan umat. Negara melarang privatisasi SDA dan perilaku menimbun, agar harta tidak hanya beredar di kalangan tertentu saja.

Dengan banyaknya pemasukan pada Baitul Maal, khalifah akan mampu menyediakan seluruh pembiayaan yang diperlukan untuk memenuhi keperluan rakyatnya. Bahkan semua itu akan disediakan secara gratis dengan kualitas terbaik bagi seluruh warga negara Islam, baik Muslim maupun nonmuslim.

Inilah gambaran sistem Islam yang akan mampu mewujudkan kesejahteraan yang hakiki bagi seluruh umat manusia. Hal ini bukanlah ilusi, sebab Islam pernah membuktikannya di masa lalu. Yaitu saat pernah tegak sebuah Daulah Islam yang berlangsung selama lebih dari 13 abad dan kekuasaannya meliputi 2/3 dunia. Di bawah naungannya, manusia hidup adil dan sejahtera. Bahkan seorang sejarahwan Barat, Will Durrant pernah menuliskan dalam bukunya, Story of Civilization,

Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.”

Begitulah janji Allah yang akan melimpahkan berkah dari langit dan bumi, jika saja manusia mau bertakwa padaNya. Hanya dengan menerapkan Islam secara kaffah lah, hal itu akan terwujud.

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS al-A’raaf:96). Wallahu a’lam bishshawab.[] Ilustrasi: Shutter Stock

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *