Honorer Nasibmu Tak Berkesudahan

Honorer Nasibmu Tak Berkesudahan

Oleh: Kartiara Rizkina Murni (Aktivis Mahasiswa)

WWW.POJOKOPINI.COM — Menjadi guru adalah profesi yang sangat mulia. Karenanya akan lahir generasi penerus yang membangun peradaban. Karena profesinya yang mulia, maka ia di sebut sebagai pahlawan tanpa tanda jasa. Namun malang nasib guruku kini, terutama guru Honorer. Di balik jasanya yang besar, masalah yang di pikulnya juga sangatlah berat. Di tambah lagi dengan perlakuan rezim yang cenderung menyengsarakan guru.

Sebagaimana yang di lansir dari Detikfinance 25/01/2020, Menteri PAN-RB Tjahjo Kumolo menceritakan anggaran pemerintah pusat terbebani dengan kehadiran tenaga honorer. Pasalnya, setiap kegiatan rekrutmen tenaga honorer tidak diimbangi dengan perencanaan penganggaran yang baik.

Terutama, ia mengatakan di pemerintah daerah (pemda). Dengan kehadiran tenaga honorer lebih banyak di pemda dan biasanya tidak direncanakan dengan penganggaran yang baik, sehingga banyak kepala daerah yang meminta anggaran gaji tenaga honorer dipenuhi oleh pusat.

Kemudian komisi II DPR RI bersama Kementerian PAN-RB dan Badan Kepegawaian Negara (BKN) juga sepakat untuk memastikan tidak ada lagi status pegawai yang bekerja di instansi pemerintah selain PNS dan Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK). 

Anggota Komisi II DPR RI Cornelis mengusulkan agar para guru honorer yang sudah bekerja selama bertahun-tahun dan berada di daerah-daerah terpencil diberikan keistimewaan untuk bisa langsung diangkat menjadi pegawai negeri sipil tanpa perlu melalui tes.

“Dengan demikian ke depannya secara bertahap tidak ada lagi jenis pegawai tetap, pegawai tidak tetap, tenaga honorer, dan lainnya,” jelas Kesimpulan Komisi II DPR. (CNBC Indonesia 20/01/2020)

Honorer nasibmu memang tak berkesudahan, mulai pengupahan yang tak selayaknya di berikan hanya beberapa bulan sekali, meskipun bertahun-tahun sudah menghabiskan waktu untuk mendidik anak bangsa. Belasan tahun bukan waktu yang singkat. Berangkat pagi pulang sore, menikmati terik hingga berpayung hujan belum lagi dibebani tugas para PNS, arogansi dan beban administrasi yang terus bertumpuk.  Di tambah lagi upah yang kecil tak sebanding dengan pengeluran yang mereka berikan, membuat mereka hilang cara untuk menghidupi diri dan keluarga.

Hal yang seperti inilah yang terkesan aneh bin ajaib di negeri ini, menuntut profesionalisme dan kualitas kerja yang baik namun terdapat diskriminasi dalam hal pembagian upah kerja. Ini merupakan tindakan yang menciderai rasa keadilan, terlebih lagi mereka yang sudah mengabdi berpuluh puluh tahun lamanya namun statusnya saja masih dipertanyakan.

Ini membuktikan negara gagal dalam mensejahterakan sosok mulia ini. Memang dalam sistem kapitalisme penguasa/pemimpin bukan sebagai periayah urusan rakyat. Mereka hanya menjadikan rakyat sebagai ekploitasi keuntungan semata, mereka akan datang kepada rakyat ketika mereka merasa butuh suara rakyat, akan tetapi ketika rakyat membutuhkan kesejahteraan penguasa malah menganggapnya sebagai beban negara.

Bukankah harus demikian, penguasa/pemimpin adalah pengurus dari rakyatnya, sebagaimana sabda Rasulullah saw:

…الإِمَامُ رَاعٍ وَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ

“Imam (pemimpin) itu pengurus rakyat dan akan dimintai pertanggungjawaban atas rakyat yang dia urus”. (HR al-Bukhari dan Ahmad).

Berkebalikan dengan negara kita yang menganut sistem kapitalisme, tidak ada yang namanya penguasa/pemimpin yang mengurusi dan meriayah rakyat.

Berbeda dengan negara khilafah yang menganut sistem islam, guru sangat-sangat mulia kedudukannya. Islam sangat memberikan kedudukan yang tinggi terhadap ilmu, orang-orang yang berilmu dan yang mengajarkan ilmu. Sebagaimana pada masa Khalifah Umar Ibnu Khattab ia benar-benar maksimal dalam meningkatkan mutu pendidikan bagi generasi muslim.

Maka usaha yang ia lakukan yakni mensejahterakan nasib para guru dengan memberi gaji sebanyak 15 Dinar perbulan. Seperti yang kita ketahui Dinar merupakan mata uang yang terbuat dari emas yang satu Dinar nya setara dengan 4,25 gram setara dengan 4,25 nya setara dengan 4,25 gram setara dengan 4,25 gram emas. Jika saat ini harga emas kisaran Rp600,000 per gram maka 1 Dinar = 2,550,000 x 15 Dinar = 38,250,000

Artinya gaji guru pada masa kekhalifahan Umar Ibnu Khattab yakni sebesar Rp38,250,000 perbulan. Maka Wajar saja jika generasi-generasi yang lahir merupakan generasi generasi yang cemerlang, dari merekalah peradaban Islam sangat berjaya. Sebab kesejahteraan guru sangat diprioritaskan serta di imbangi dengan fasilitas mengajar yang sangat mendukung.

Maka dari itu saatnya kita kembali kepada sistem Islam agar tidak hanya para pendidik atau guru yang sejahtera tapi lebih dari itu. Dan penguasa atau pemimpin merupakan sosok yang diberikan tanggung jawab untuk mengurusi dan meriayah rakyatnya sebagaimana yang di jelaskan dalam Islam.[]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *