Ibu, Biarkan Surga Tetap Berada di Bawah Telapak Kakimu!

Ibu, rawatlah kewarasanmu dengan ilmu. Jangan jemu untuk hadir dalam majlis ilmu karena itulah bekalmu untuk bertahan. Berbagai halangan yang akan siap menghadang hanya bisa kau tumbangkan dengan sebuah keyakinan dan juga ilmu. Maka kejarlah itu.


Oleh: Ummu Zhafira (Pegiat Literasi)

POJOKOPINI.COM — Surga itu berada di bawah kakinya. Begitu penggalan kemuliaan seorang ibu yang terlisan oleh baginda Nabi Muhammad Saw. Setiap jerih yang telah ia lakukan, Allah ganjar dengan keberadaan surga di bawah kakinya, untuk para buah hatinya. Namun, apakah surga itu masih bertahta ketika hari ini banyak kaum ibu yang kehilangan akal warasnya? Mencelakakan bahkan menghilangkan nyawa darah dagingnya terpaksa mereka lakukan karena berbagai himpitan kehidupan yang menyesakkan.

Aku tahu ibu, kita memang tak hidup dalam kondisi yang baik-baik saja. Kecongkakkan sekularisme telah memporak-porandakan bangunan kokoh pelindung fitrah kita. Bagaimana tidak, ada sejuta alasan yang mendorongmu meninggalkan rumah, mencari nafkah.

Kerakusan sistem buatan manusia ini tak lagi meletakkanmu pada kemuliaan tertinggi sebagai ibu dan pengatur rumah tanggamu. Kita semua dipaksa agar setiap tetes keringat kita menjadi salah satu pelicin dalam menggerakkan roda perekonomian para kapitalis. Kehidupan serba sulit membuatmu tak punya banyak pilihan.

Racun mematikan yang dibalut manis oleh kaum feminis sungguh melenakan. Tanpa sadar, kita terbuai. Menyejajarkan peran kita dengan kaum lelaki seolah menjadi solusi. Nyatanya? Itu semua semu. Palsu. Justru dengan itu, kita hidup dalam kubangan derita tak berkesudahan.

Allah tak pernah memandang kita berbeda dengan mereka kaum laki-laki. Tapi percayalah Allah sudah berikan peran terbaik untuk kita dan mereka. Allah ciptakan Adam dan Hawa untuk saling melengkapi bukan untuk saling berkompetisi dalam memimpin. Atau bahkan menghasilkan secuil kehidupan yang semestinya tak payah kita lakukan.

Kutahu, kepayahan yang kita rasakan hari ini sungguh melelahkan. Hidup dalam kubangan keserakahan para pemilik modal memang seringkali membuat kita hilang akal.

Tapi tahukah, kita, Bu. Allah, Rabb Pencipta kita itu telah menjanjikan kemudahan hidup dalam sistem yang Dia turunkan kepada kekasih kita, Muhammad Saw. Berabad-abad lalu, sistem mulia itu membuktikan keberpihakannya pada kita. Ingatkah kau bagaimana Rasulullah itu mengusir Yahudi Bainuqa’ demi menjaga kemuliaan seorang perempuan saja?

Islam dengan segala kesempurnaannya memiliki seperangkat aturan yang akan memudahkan kehidupan kita. Kita tak lagi payah mencari nafkah. Karenanya memang tak dibebankan pada kita. Ada suami, wali dan negara yang wajib menjamin setiap kebutuhan kita.

Negara adidaya itu memainkan perannya, menjamin ketersediaan segala kebutuhan yang kita punya. Tak lagi payah kita memikirkan biaya kesehatan untuk kita dan anak-anak kita. Negara menjaminnya. Begitu pun pendidikan dan keamanan. Tak lagi risau, anakmu harus disekolahkan di mana dengan biaya berapa. Negara akan memberikannya cuma-cuma.

Kita hanya harus berupaya dalam posisi kita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Juga memerankan peran terbaik sebagai madrasatul ula.

Aku tahu, sistem seperti itu masih belum mewujud. Tapi bukankah seharusnya kita merindu dan selalu memintanya dalam setiap sujud? Bukankah seharusnya kita juga tak berdiam diri menantinya.

Bu, kitalah umat akhir zaman itu. Kitalah yang seharusnya menyimpan rasa rindu hidup dalam dekapan sistem yang memuliakan. Bersabarlah, Bu!

Segala kesulitan yang membelit hari ini memang tak mudah. Tapi yakinlah, kita tak sendiri. Yakinlah Allah bersama kita. Bersama dalam setiap perjuangan kita.

Tetap dekap buah hatimu, ajarkan mereka tentang arti sebuah perjuangan. Tumbuhkn mereka dalam visi dan misi yang telah Allah gariskan. Katakan pada mereka, bahwa merekalah generasi penakluk. Merekalah generasi yang akan melanjutkan perjuangan, meletakkan kembali kemuliaan Islam di pucuk peradaban.

Ibu, rawatlah kewarasanmu dengan ilmu. Jangan jemu untuk hadir dalam majlis ilmu karena itulah bekalmu untuk bertahan. Berbagai halangan yang akan siap menghadang hanya bisa kau tumbangkan dengan sebuah keyakinan dan juga ilmu. Maka kejarlah itu.

Dengan bekal itulah, berjuanglah bersama mereka yang memperjuangkan Islam. Jangan pernah mengalah dengan keadaan! Itu bukan karaktermu. Ada banyak alasan kau harus tetap bergerak melawan setiap kezaliman. Ada beribu pendorong kenapa kau harus suarakan kebenaran. Dan rida-Nya menjadi alasan kuat agar kita terus bertahan.

Dengan segala perih yang harus kau rasa. Dengan segala kepahitan yang harus kau ecap, dan dengan segala keterbatasan yang kau punya, berjuanglah! Biarkan surga itu tetap berada di bawah telapak kakimu. Wallahu a’lam bishawab.[]

Disclaimer: Www.pojokopini.com adalah wadah bagi para penulis Islam untuk berkumpul dan berbagi informasi mengenai beragam hal dan menanggapinya dengan perspektif Islam. Pojokopini.com melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan www.pojokopini.com.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *