Idolaku Rasulullah Tak Ada Tandingannya

Idolaku Rasulullah Tak Ada Tandingannya

Oleh : Cut Zhiya Kelana, S.Kom

WWW.POJOKOPINI.COM — Rasulullah Dalam Pandangan Kaum MusliminRasulullah adalah sosok manusia yang paling mulia, bahkan di banyak siroh di ceritakan bagaimana para sahabat bekerja keras melindungi beliau. Bahkan tidak hanya bagi kaum muslimin, tapi non muslim pun mengakui Rasulullah sebagai sosok yang luar biasa. Namanya berulang kali disebutkan meski pada saat ini kaum muslimin tidak mengenalnya secara langsung. Namun kecintaan kaum muslimin seolah tanpa batas ruang dan waktu, merindunya hingga apabila disebut namanya rasa haru menyeruak didalam dada. Inilah yang tidak dimiliki oleh non muslim, dan keyakinan itu pula ditancapkan secara jelas dalam rukun iman yang enam.

Bagi umat Islam, Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa salam (SAW) adalah pemimpin dan suritauladan yang wajib diimani dan diikuti. Beliau Muhammad SAW tak hanya dikagumi umatnya sendiri, tetapi juga mendapat pujian dan pengakuan dari pemikir dan ilmuwan barat yang notabene non muslim.

Dalam buku “Sejarah Tuhan; Kisah Pencarian Tuhan yang Dilakukan oleh Orang-orang Yahudi, Kristen, dan Islam selama 4000 Tahun”, Karen Armstrong menerangkan bagaimana Islam lahir sebagai agama yang rasional. Karen Armstrong, seorang penulis dan komentator masalah agama terkemuka asal Inggris mengatakan Islam mampu mengubah masyarakat jahiliyah Arab menjadi pusat peradaban dunia baru.

Dalam buku Muhammad Prophet For Our Time (1991), edisi Indonesia yang diterbitkan Mizan Pustaka, 2013, Karen Armstrong juga memaparkan sosok Nabi Muhammad SAW sebagai seorang yang luar biasa yang berbakat, pemberani, dan kompleks. Dia memperlihatkan karakter dan ide-ide Nabi demikian kuat untuk mengubah sejarah secara drastis dan menarik jutaan pengikut. Pemaparan Karen Armstrong tentang Nabi Muhammad SAW adalah suatu cara untuk membendung kebencian Barat terhadap Islam. Ia ingin mengenalkan Nabi Muhammad sebagai Founding Father pertama dalam Islam kepada Eropa.

Maka siapalah kita yang kemudian membandingkan kepimpinan Rasulullah yang sempurna dalam berbagai stategi politiknya untuk terus mendakwahkan Islam hingga keseluruh dunia melalui perwakilan para khalifah setelahnya. Maka siapa yang tidak mencintai Rasulullah maka belum sempurna keimanannya,dan bisa dipastikan orang seperti apa yang kemudian membicarakan Rasullullah tanpa dalil syari takperlu kita contoh dan mengharamkannya, sungguh terlalu manusia ini.

Seorang profesor ahli tata negara sekuler menjelaskan, agama melarang untuk mendirikan negara seperti yang didirikan nabi. Sebab, negara yang didirikan nabi merupakan teokrasi di mana Nabi memiliki tiga kekuasaan sekaligus yaitu legislatif, yudikatif, dan eksekutif.

“Ada masalah hukum minta ke nabi, nabi buat hukumnya. Yang menjalankan pemerintahan sehari-hari nabi. Kalau ada orang berperkara datang ke nabi juga. Sekarang tak bisa, haram kalau ada,” kata Mahfud. (Republika.co.id)

Rasullullah adalah orang yang membuat Undang-undang itu benar tapi berdasarkan petunjuk dari Allah dimana itu berupa Al-Qur’an. Dan Rasulullah adalah seorang pemimpin dimana beliau menerapkan sekaligus melaksanakan semua hukum ditengah umat dan juga akan mempertahankan agar Undang-undang itu dapat terus dilaksanakan meski tanpa beliau. Maka kemudian para khulafa ini mencontoh pada Rasulullah.

Bagaimana mungkin mencontoh Rasulullah dianggap haram, sedangkan Rasulullah adalah suri teladan terbaik. Dan sebaik-baiknya manusia yang berbicara, berbuat bukan karna keinginan nafsunya namun atas perintah Allah. Yang dengan lisan mulianya menyampaikan risalah kepada umat dengan cintanya. Hanya orang yang dangkal berpikirnya, kemudian tak memahami apa yang Rasulullah lakukan merupakan contoh terbaik untuk ditiru umatnya. Apakah ketika berbicara menggunakan akal sehatnya, atau seperti yang dikatakan oleh pengurus MUI bahwa lidah sang profesor sering keseleo.

“Kita tak perlu negara Islam, tapi negara islami,” katanya. Negara di dalam negara islami penduduknya taat hukum, sportif, tepat waktu, antikorupsi, dan sifat-sifat lainnya yang diajarkan ajaran Islam. “New Zealand islami itu, Jepang islami,” katanya lagi. (NUOnline)

Islami itu berarti mencoba agar sesuatu itu sesuai dengan Islam, padahal sama sekali tak pernah sesuai, bukankah ini seperti sedikit memaksa? Selain itu pernyataan beliau tentang mendirikan Negara Islami bukan Negara Islam yang mencontoh Jepang dan New Zealand adalah pandangan yang menyesatkan.

Bahkan negara eropa pada masa kegelapannya ( Dark Age ) belajar banyak dari negara Islam yang sudah terang benderang dengan cahaya. Dan insfratuktur terbaik dimasa Khilafah Abbasiyah adalah terciptanya sebuah negeri dengan julukan “Cordoba”. Bukankah ini hal yang sangat luar biasa, dimana negara-negara Barat berbondong ingin mengantarkan putra-putrinya agar kemudian bisa mempelajari Islam. Jangan bandingkan Islam masa saat ini, yang begitu jauh tertinggal karena kebodohan akibat sistem yang diterapkan secara menyeluruh.

Seharusnya dengan pernyataan tersebut kita menyadari bahwa sistem sekuler ini menjerat kita kaum muslimin untuk berfikir ala sekuler. Dan menentang syariat Islam dimana kita disuruh tunduk dan patuh padanya. Syariat ada untuk mengatur hidup kita dan itu hanya terdapat dalam Islam. Bagaimana mungkin kita ingin semua orang menjalankan apa yang ada didalam Al-Qur’an dan Hadist jika tidak ada negara Islam? Karna hukum Islam tidak bisa diterapkan dinegara yang menerapkan kapitalis.

Rasul adalah sosok paling mulia, yang sangat dihormati kaum muslimin. Semua perilakunya adalah contoh yang patut untuk ditiru, karna beliaulah sebaik-baik manusia yang dilahirkan dimuka bumi ini. Rasul bukan hanya sekedar menyampaikan risalahnya namun lebih dari itu, dibanyak siroh dan tarikh dijelaskan bahwa Rasul pernah mendirikan sebuah Negara Islam setelah hijrah ke Madinah.

Negara inilah yang disebut Daulah Islam, dimana kaum muslimin hidup didalamnya dengan aman sentosa dan terlindungi. Apakah kemudian tidak ada non muslim yang hidup didalamnya? Sama seperti kaum muslimin Rasul juga menjamin hidup non muslim selama tunduk pada Daulah. Mereka tidak dipaksa untuk memeluk Islam tapi mereka bisa merasakan hal yang sama dengan kaum muslim. Tidak ada cerita anak tiri dalam negara selama Daulah ada semua diperlakukan sama.

Kita dilarang menzhalimi kafir mu’ahad (kafir yang ada perjanjian damai dengan kaum muslim), termasuk di zaman sekarang perjanjian dan kerjasama antar negara. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

“Ingatlah, siapa yang mendzalimi seorang kafir mu’ahad, merendahkannya, membebaninya di atas kemampuannya atau mengambil sesuatu darinya tanpa keridhaan dirinya, maka saya adalah lawan bertikainya pada hari kiamat” (HR. Abu Daud, dishahihkan Al Albani dalam Shahih Al Jami’).

Bahkan tidak boleh dibunuh juga dan ancamannya besar, yaitu tidak mencium bau surga.
“Siapa yang membunuh kafir Mu’ahad ia tidak akan mencium bau surga dan sesungguhnya bau surga itu tercium dari perjalanan empat puluh tahun” (HR. Bukhari).

Lihat bagaimana mulianya ajaran Islam yang tidak membolehkan berbuat zalim kepada siapapun tanpa sebab yang syar’i. Inilah yang seharusnya membuat kita semakin beriman kepada Allah dan Rasulnya. Dan ini membuktikan betapa sempurnanya Islam dengan akidah manapun yang pernah diterapkan dimuka bumi. Maka apa salahnya kita kembali menerapkan sistem yang dipakai Rasulullah, karna itu masa yang paling indah bagi kaum muslimin. Hingga kemudian 2/3 dunia mampu dikuasainya, pembebasan terhadap negeri-negeri kafir semata juga untuk menyelamatkan manusia dari kekejaman manuisa lainya.

Jika saat ini kita sebagai muslim takut untuk menerapkan sesuatu yang datang dari Rasulullah, maka itulah menjadi pertanyaanya? Senangkah kita dijajah kafir, melalui politik yang merugikan umat. Dan bagaimana kemudian kita mampu menanggulangi semua kejadian korupsi dinegeri ini, jika yang dipakai masih sistem buatan manusia yang terbukti gagal. Bahkan dengan bangganya para koruptor melenggang dan tersenyum ketika dijerat hukum yang pastinya mereka menyadari akan bebas nantinya. Jadi di sistem ini kita hanya mampu bermimpi saja tanpa pernah bisa bangun, Wallahu ’Alam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *