Ilusi Kerukunan Beragama di Sistem Demokrasi

Ilusi Kerukunan Beragama di Sistem Demokrasi


Oleh : Fitri Handayani

WWW.POJOKOPINI.COM — Indonesia merupakan negara yang menganut sistem Demokrasi dimana setiap rakyatnya diberi kebebasan untuk beragama seperti yang tercantum dalam UUD 1945 pasal 28E ayat (1) “setiap orang berhak memeluk agama dan beribadah menurut agamanya, memilih pendidikan dan pengajaran, memilih pekerjaan, memilih kewarganegaraan, meninggalkannya serta berhak kembali”. Dan agama yang diakui di Indonesia hanya 6 (Islam, Katholik, Kristen, Buddha , Konghu Chu dan Hindu).

Indonesia punya catatan panjang soal kebebasan mendirikan dan memilih rumah ibadah, khususnya bagi umat agama yang minoritas, imparsial mencatat ada 31 kasus pelanggaran terhadap hak KKB di Indonesia, tercatat dalam 1 tahun terakhir sebanyak 11 diantaranya merupakan kasus perusakan terhadap rumah ibadah. Seperti pengrusakan Masjid Al- Amin Jalan Belibis, Kelurahan Tegal Sari Mandala, Kecamatan Percut Sei tuan, Kabupaten Deli Serdang dilempari batu pada malam Jumat (25/1) dan pelaku yang melakukan pengrusakan masjid bukan orang islam (non muslim) dan tercatat juga pengrusakan musholla Al Hidayah di perumahan Agape, Desa Tamaluntung, Minahasa Utara, Sulawesi Utara dirusak oleh puluhan masa pada rabu malam (29/1).(pojoksatu. Id)

Polisi menetapkan 8 tersangka dalam kasus pengrusakan BPU (Balai Pertemuan Umum) yang dijadikan Musholla. Dandim L310/Bitung Letkol Inf Kusnandar Hidayat mengatakan permasalahan dari pengrusakan rumah ibadah tersebut bermula dari kesalahan informasi bahwa ada seorang yang dicurigai berpakaian jamaah tabligh sehingga terjadi nya perusakan Musholla, tapi mungkin kah warga yang beragama muslim merusak rumah ibadahnya sendiri?

Dan mirisnya komentar dari Menteri Agama Indonesia Fakhrul Razi terkait perusakan Musholla di Minahasa Utara, Sulawesi Utara. Perusakan tempat ibadah di Indonesia memiliki rasio yang sangat kecil, ” Sebetulnya kasus yang ada, kita bandingkan ya, rumah ibadah di Indonesia ada berapa juta sih? Kalau ada kasus 1 sampai 2 itu kan sangat kecil” kata Fachrul Razi di kota Bogor (30/1).(Rmol. Id)

Dari beberapa kasus yang terjadi merupakan bukti masih lemahnya kerukunan beragama di Negara Indonesia. Hal sini dikarenakan lemahnya hukuman di negara ini dari banyaknya kasus pengrusakan tempat ibadah umat Islam menunjukkan tidak adanya kemampuan sistem demokrasi untuk mewujudkan kerukunan dalam beragama dan tidak tegasnya pemerintah untuk pelaku agar adanya efek jera agar tidak terulang lagi.

Lemahnya hukum Demokrasi Karena lebih berkonsentrasi menegakkan pembelaan terhadap warga minoritas hal ini bisa dilihat ketika umat Islam yang menjadi objek penindasan para tokoh HAM (Hak Asasi Manusia) bungkam suara tetapi jika yang menjadi objek pengrusakan rumah ibadah kaum non muslim maka para tokoh HAM (Hak Asasi Manusia) bersuara dan memperjuangkan keadilan untuk mereka dan kaum muslim pun yang menjadi tumbal dan sasaran karena peristiwa tersebut terkhusus gerakan islam yang dianggap oleh mereka Intoleran.

Ketidak berdayaaan negara dalam menyelesaikan berbagai kasus perusakan rumah ibadah menjadi gambaran bahwa penguasa saat ini tidak mampu serta gagal memberi rasa aman secara total bagi setiap warga negara nya dalam menjalankan kewajiban sebagai umat beragama.
Sehingga dibutuhkannya negara Islam yang bisa menjaga kerukunan beragama, hal ini bisa dilihat saat kekhilafahan berjaya kurang lebih selama 13 abad dan menguasai 2/3 dunia. Dibawah naungan khilafah berbagai agama, suku, kabilah hidup dengan rukun.

Islam sangat menjaga kerukunan dan perdamaian sekalipun saat berjihad untuk menaklukkan sebuah negara seperti yang telah dipraktekkan oleh Rasulullah SAW tentang rambu-rambu dalam berperang dari hadis riwayat Ahmad ” Dari Ibnu Abbas, ia berkata : Dahulu Rasulullah SAW apabila mengirim pasukannya beliau bersabda ‘ Keluarlah kalian dengan nama Allah, kalian berperang di jalan Allah melawan siapa saja yang berlaku kafir terhadap Allah, maka janganlah kalian berkhianat, jangan pula melakukan mutilasi, janganlah kalian membunuh anak-anak dan jangan pula membunuh orang-orang yang berada di gereja-gereja atau rumah ibadah (H.R Ahmad).

Sejarah mencatat kerukunan beragam terdapat di negara Spanyol di bawah ke khalifah Bani Umayyah, di Spanyol lebih 800 tahun lamanya pemeluk Islam, Kristen, Yahudi hidup berdampingan dan rukun. Selama masa kekhalifahan umat non muslim tidak dipaksa untuk memeluk agama Islam tetapi dilindungi untuk melakukan aktivitas ibadah mereka.

Maka hal ini mendorong kita untuk segera mendirikan negara khilafah, hanya Islam yang bisa menjaga kerukunan umat beragama yang diatur dengan hukum syariat dibawah naungan Negara Khilafah.
Wallahu a’lam bissowab.[]

Tanggung jawab tulisan kiriman ini sepenuhnya ada pada penulis. Pojokopini.com merupakan media yang terbuka atas segala pendapat kritis.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *